51. Apa yang Ada di Balik Serangan Keluargaku
Ayahku adalah kepala sekolah, dan sering membahas materialisme di sekolah dan di rumah. Dia mengajari kami bahwa kebahagiaan bergantung pada kerja keras kami sendiri, dan kami harus berusaha keras untuk unggul serta membawa kehormatan bagi leluhur kami. Terdorong oleh perkataan dan teladan yang diberikan orang tua kami, aku dan semua saudaraku mengejar ketenaran, keuntungan, serta status. Kami terjun ke dunia bisnis atau menjadi pejabat.
Pada musim semi tahun 2007, kebetulan sekali aku menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman. Aku membaca firman Tuhan setiap hari, rutin bersekutu dengan saudara-saudariku, dan memperoleh beberapa pemahaman akan kedaulatan Tuhan. Firman ini sungguh mengesankan: "Tuhan menciptakan dunia ini. Dia menciptakan umat manusia ini, dan terlebih lagi, Dialah arsitek kebudayaan Yunani kuno dan peradaban manusia. Hanya Tuhan yang menghibur umat manusia ini, dan hanya Tuhan yang memperhatikan umat manusia ini siang dan malam. Perkembangan dan kemajuan manusia tidak dapat dipisahkan dari kedaulatan Tuhan, dan sejarah serta masa depan umat manusia tidak bisa lepas dari pengaturan-pengaturan yang diciptakan oleh tangan Tuhan. Apabila engkau adalah seorang Kristen sejati, engkau tentu akan percaya bahwa kebangkitan dan kejatuhan suatu negara atau bangsa berada di bawah pengaturan-pengaturan Tuhan. Hanya Tuhan sendiri yang mengetahui nasib negara atau bangsa apa pun, dan hanya Tuhan sendiri yang mengendalikan perjalanan umat manusia ini. Jika umat manusia ingin mendapatkan nasib yang baik, jika suatu negara ingin mendapatkan nasib yang baik, semua orang harus sujud kepada Tuhan dan menyembah-Nya, dan datang ke hadapan Tuhan untuk bertobat dan mengaku dosa kepada-Nya, jika tidak, nasib dan tempat tujuan manusia akan menjadi malapetaka yang tidak terhindarkan" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Lampiran 2: Tuhan Berdaulat Atas Nasib Seluruh Umat Manusia"). Firman Tuhan mencerahkan hatiku. Tuhan adalah Sang Pencipta, dan Dialah yang telah membimbing serta menopang umat manusia hingga sekarang. Terlebih lagi, Dia berdaulat atas nasib kita. Hanya dengan menyembah Tuhan, bertobat kepada-Nya, dan menerima keselamatan-Nya, kita bisa memiliki takdir yang baik. Aku juga belajar bahwa Juru Selamat, Tuhan Yang Mahakuasa, telah kembali pada akhir zaman untuk mengungkapkan kebenaran dan melakukan pekerjaan penghakiman, untuk sepenuhnya mentahirkan serta menyelamatkan umat manusia, memimpin kita keluar dari pengaruh Iblis dan masuk ke tempat tujuan yang indah yang telah Tuhan siapkan bagi kita agar kita bisa memiliki nasib serta kesudahan yang baik. Aku sangat terberkati karena bisa menerima Tuhan Yang Mahakuasa, dan bersumpah pada diriku untuk menerapkan imanku dengan baik, mengejar kebenaran serta melaksanakan tugas makhluk ciptaan untuk membalas kasih Tuhan.
Namun, tanpa disangka, saat aku mencurahkan diri dalam tugasku, aku ditangkap oleh Partai Komunis. Suatu hari di Maret 2009, pada siang hari, polisi datang ke pertemuan kami, membawaku dan tiga saudari lainnya, dan secara ilegal menahan kami di kantor polisi. Kepala Biro Keamanan Masyarakat meneriakiku dengan ganas: "Katakan apa yang kau tahu! Siapa yang memberitakan Injil kepadamu? Siapa pemimpin gerejamu? Jika kau bicara, aku akan segera memulangkanmu. Namun, jika kau tidak bekerja sama, dengan semua buku agama yang kami temukan di tempatmu, kami bisa memenjarakanmu selama lima atau enam tahun!" Melihat wajahnya yang garang membuat jantungku mulai berdebar kencang. Aku tak tahu bagaimana mereka akan memperlakukanku. Aku segera berdoa, memohon kepada Tuhan untuk melindungiku, memberiku iman serta kekuatan, dan membiarkanku berdiri teguh. Aku memikirkan firman Tuhan ini setelah berdoa: "Para penguasa mungkin tampak kejam dari luar, tetapi jangan takut, karena ini disebabkan oleh imanmu yang kecil. Asalkan imanmu bertumbuh, segala sesuatu akan mudah" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Perkataan Kristus pada Mulanya, Bab 75"). Firman Tuhan memberiku iman dan kekuatan. Segala sesuatu benar-benar ada di tangan Tuhan. Kepala biro keamanan masyarakat itu tampak menakutkan, tetapi dia juga ada di tangan Tuhan. Dia tak berhak memutuskan apakah aku akan dihukum—hanya Tuhan yang bisa. Aku tidak boleh gentar menghadapi intimidasinya. Lalu, mereka melihat bahwa aku tidak mau bicara, jadi mereka menahanku dan tiga orang lainnya di pusat penahanan dengan tuduhan mengacaukan ketertiban sosial.
Suatu pagi, tiba-tiba, aku mendengar ada yang meneriakkan namaku. Jantungku berdegup sangat kencang. Apakah mereka akan menginterogasiku lagi? Mereka telah menanyaiku sebelumnya, tetapi aku menutup erat mulutku. Aku bertanya-tanya apakah mereka akan menggunakan taktik yang lebih kejam terhadapku. Karena merasa takut, aku berdoa dalam hati kepada Tuhan, dan lama-kelamaan aku bisa tenang. Polisi membawaku ke ruangan besar. Saat aku masuk, aku melihat ayahku, dan firasat buruk langsung menyergapku. Mengapa mereka membawa ayahku ke sini? Ayah selalu menentang imanku, jadi bagaimana dia akan memperlakukanku sekarang setelah ditangkap? Belum sempat aku berbicara, Ayah telah mengangkat tangannya dan memukul kepalaku tiga kali. Aku pusing dan berkunang-kunang. Dia berkata dengan tegas: "Aku melarangmu untuk beriman, tetapi kau bersikeras, dan sekarang setelah kau ditangkap, namaku jadi tercemar! Katakan kepada mereka semua tentang kepercayaanmu! Polisi bilang mereka akan melepasmu segera setelah kau mengaku, tetapi kau akan mendapat hukuman berat jika tidak mengaku!" Saat melihat wajah ayahku yang menua, aku merasa sedih. Usianya hampir 80 tahun, dan reputasinya selalu menjadi hal terpenting baginya. Bagaimana dia bisa menanggung rasa malu jika aku dihukum? Lalu, tiba-tiba, dia berlutut. Dengan air mata berlinang, dia bilang: "Saat ibumu mengetahui hal ini, dia jatuh sakit. Dia terbaring di tempat tidur dan diinfus di rumah. Katakan kepada mereka apa yang kau tahu dan pulang bersamaku!" Saat menghadapi semua itu, aku tak sanggup menahan air mataku. Sejak zaman kuno, hanya anak-anaklah yang berlutut kepada orang tua mereka, bukan sebaliknya. Orang tuaku telah menanggung kesukaran dalam membesarkanku dan membantuku dalam membesarkan anak-anakku sendiri. Mereka masih harus mencemaskanku di usia yang sangat tua. Mereka tak akan menghadapi rasa sakit dan siksaan seperti itu seandainya aku bukan orang percaya. Aku merasa berutang budi kepada mereka—aku merasa tak enak. Lalu, aku menyadari bahwa keadaanku tidaklah benar. Aku pun berdoa dengan singkat, "Tuhan! Situasi ini menyakitkanku. Aku merasa lemah dan berutang budi kepada orang tuaku. Aku tak tahu harus berbuat apa. Tolong terangi serta bimbinglah aku agar aku bisa memahami maksud-Mu dan berdiri teguh." Setelah berdoa, aku langsung teringat akan tekad yang pernah kubuat di hadapan Tuhan—untuk menguatkan imanku, mengikuti Tuhan, dan berusaha mengasihi-Nya dengan hati yang tak tergoyahkan. Saat itu, aku tersadar. Aku juga teringat akan firman Tuhan: "Apakah orang tidak mampu mengesampingkan daging mereka untuk waktu yang singkat ini? Hal apa yang bisa membelah kasih antara manusia dan Tuhan? Siapakah mampu memisahkan kasih antara manusia dan Tuhan? Apakah itu orang tua, suami, saudari, istri, atau pemurnian menyakitkan? Bisakah perasaan hati nurani menghapus gambar Tuhan dalam diri manusia? Apakah berutang dan tindakan orang terhadap satu sama lain merupakan perbuatan mereka sendiri? Bisakah semua itu diperbaiki oleh manusia? Siapakah mampu melindungi diri mereka sendiri? Apakah orang mampu menyediakan bagi diri mereka sendiri? Siapakah yang kuat dalam kehidupan? Siapakah mampu meninggalkan-Ku dan hidup mandiri?" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Pewahyuan dari Misteri 'Firman Tuhan kepada Seluruh Alam Semesta', Bab 24 Dengan Tambahan dari Bab 25"). Firman Tuhan membuatku merasa bersalah. Napas ini diberikan kepadaku oleh Tuhan, dan Tuhan memberiku semua yang kubutuhkan untuk bertahan hidup. Tuhan yang diam-diam merawat dan melindungiku adalah satu-satunya alasan aku hidup hingga hari itu. Dia mengatur orang, peristiwa, serta segala hal untuk membimbingku datang ke hadapan-Nya dan menerima keselamatan-Nya. Kasih Tuhan begitu besar! Aku tak bisa mengkhianati Tuhan hanya karena takut menyakiti orang tuaku. Kesehatan mereka juga ada di tangan Tuhan dan tidak ada gunanya aku khawatir. Mereka sedih dan kesakitan karena penindasan Partai Komunis. Jika mereka bisa melihat kejahatan Partai, mereka tak akan merasa kehilangan muka, dan Iblis tak akan bisa membodohi mereka. Setelah memikirkannya seperti ini, aku tidak merasa begitu sedih lagi. Aku bersumpah untuk tetap teguh dalam kesaksianku bagi Tuhan, meski aku dipenjara. Aku menyeka air mataku dan membantu ayahku berdiri. Lalu lima atau enam petugas datang dan mengepungku. Aku berkata kepada mereka, "Aku tak tahu apa-apa." Seorang petugas menatapku dan bilang, "Waktumu tinggal lima menit lagi." Ayahku sangat marah. Dia memukulku beberapa kali, berlutut dan bilang, "Jika kau tak bicara, aku akan berlutut di depanmu hingga aku mati! Partai tak mengizinkan orang untuk percaya kepada Tuhan—beraninya kau menentangnya? Cepat mengaku! Lalu, kita bisa pulang." Saat itu aku sadar bahwa ini adalah siasat dari pihak polisi. Mereka menekan ayahku untuk menjadikanku seorang Yudas dan mengkhianati yang lain. Aku marah dan geram. Polisi-polisi itu sangat licik! Aku membantu ayahku berdiri, dan lima atau enam petugas mengepungku lagi agar aku mau bicara. Aku menatap mereka dan bilang dengan tenang: "Aku tak tahu apa-apa." Saat itu, telepon ayahku mulai berdering, dan dia memintaku untuk menjawab. Aku bisa mendengar suara ibuku di telepon, mengumpat dan bilang, "Ibu bisa mati karenamu! Pemerintah tidak mengizinkan seseorang beriman, tetapi kau bersikeras. Kau tak punya harapan untuk melawan mereka! Katakan saja kepada mereka apa yang kau tahu dan kembalilah! Apa yang akan kami lakukan jika kau dihukum? Bagaimana putramu akan menemukan istri? Kami semua juga akan merasa terhina. Kau harus memikirkan kami!" Sambil menangis, aku menutup telepon dan melihat ayahku berjalan keluar seraya menyeret kakinya.
Saat kembali ke sel, aku kembali memikirkan ibuku yang sakit, terbaring di tempat tidur. Jika sesuatu yang buruk menimpanya, aku akan mengecewakannya. Makin memikirkannya, makin aku merasa buruk. Aku tak bisa menahan air mataku. Saat itulah aku sadar bahwa kasih sayangku adalah kelemahan utamaku. Aku lalu berdoa kepada Tuhan. Aku memohon kepada-Nya untuk membimbingku dalam mengambil sikap agar tak hidup berdasarkan kasih sayang. Aku teringat akan firman Tuhan ini: "Mengapa begitu sulit bagi orang untuk melepaskan perasaan mereka? Apakah melakukan hal ini melampaui standar hati nurani? Bisakah hati nurani memenuhi kehendak Tuhan? Bisakah perasaan membantu manusia mengatasi kesulitan? Di mata Tuhan, perasaan adalah musuh-Nya—bukankah ini sudah dinyatakan dengan jelas dalam firman Tuhan?" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Pewahyuan dari Misteri 'Firman Tuhan kepada Seluruh Alam Semesta', Bab 28"). Firman Tuhan membuka mataku. Kasih sayang adalah musuh Tuhan dan penghalang terbesar untuk menerapkan kebenaran. Saat kita hidup berdasarkan kasih sayang, kita makin jauh dari Tuhan dan mengkhianati-Nya. Aku terjebak dalam kasih sayang untuk orang tuaku. Kukira tidak mematuhi mereka adalah sebuah pelanggaran berat dan menjadikanku seorang putri yang buruk. Saat melihat betapa sedih mereka karena aku ditangkap, aku merasa berutang budi kepada mereka. Aku merasa mereka telah bekerja sangat keras untuk membesarkanku, tetapi aku belum membalasnya, dan bahkan membuat mereka menderita karenaku. Ini sikap yang tidak berbakti. Aku sangat menghargai kebaikan orang tuaku, tetapi aku lupa bahwa Tuhanlah yang memberi kita kehidupan. Tuhan adalah sumber kehidupan manusia, dan napas kehidupan-Nya yang telah menopangku hingga sekarang. Berkat bimbingan dan pemberian Tuhan, aku pun mendapat apa yang kumiliki sekarang. Tuhan telah memberi kita begitu banyak tanpa pernah meminta imbalan apa pun. Pada akhir zaman, Tuhan telah berinkarnasi lagi untuk menyelamatkan umat manusia, menanggung penghinaan besar, serta pengejaran dan penindasan Partai Komunis. Tuhan telah memberi segalanya bagi umat manusia—kasih-Nya begitu besar! Kita harus menyembah dan tunduk kepada Tuhan. Perhatian orang tuaku mungkin telah meningkatkan kehidupan materiku, tetapi mereka tak bisa menawarkan kebenaran kepadaku. Mereka tak bisa menyelamatkanku dari kerusakan Iblis atau memberiku tempat tujuan dan kesudahan yang baik. Jika aku mengkhianati yang lain dan juga Tuhan hanya untuk menuruti keinginan orang tuaku, aku tidak akan berutang budi kepada mereka, tetapi aku akan dibenci dan ditolak oleh Tuhan, serta selamanya kehilangan keselamatan-Nya. Saat itu, aku sadar bahwa Iblis menggunakan kasih sayangku kepada orang tuaku untuk memancingku ke dalam pencobaan, yang pada akhirnya membuatku makin jauh dari Tuhan, mengkhianati-Nya, kehilangan kesempatanku akan keselamatan, jatuh ke neraka dan hancur bersamanya. Jangan sampai aku tertipu oleh siasat Iblis. Aku jadi teringat pada Petrus, dia punya prinsip dan pendirian yang teguh terhadap orang tuanya. Imannya kuat dan dia mengikuti Tuhan Yesus tidak peduli bagaimana pun mereka berusaha menghentikannya. Akhirnya, kasihnya kepada Tuhan mengalahkan segalanya dan dia memperoleh perkenanan Tuhan. Memikirkan hal-hal ini benar-benar memotivasiku.
Pada hari kelima, polisi membawa tiga surat untuk kubaca, yang ditulis oleh ibu, putri, dan putraku. Putraku menulis, "Ibu, selama beberapa tahun terakhir di ketentaraan, aku sudah menantikan seluruh keluarga bersatu kembali. Tidak mudah bagiku untuk dipindahkan dan kembali, dan sekarang Ibu ditahan. Tanpa Ibu di rumah, aku merasa seolah-olah langit akan runtuh. Ibu, katakan saja kepada polisi tentang hal-hal keagamaan Ibu! Jika Ibu masuk penjara, itu akan memengaruhi peluangku untuk bekerja dan menikah. Meski Ibu tak memikirkan diri sendiri, Ibu harus memikirkan aku ...." Saat membaca surat itu, aku tak bisa menahan tangis. Jika masa depannya yang cerah benar-benar akan hancur karena aku dipenjara, bagaimana aku bisa menghadapinya? Dia pasti akan membenciku! Aku merasa jalan iman ini penuh batu sandungan dan setiap langkahnya memerlukan pilihan. Aku berdoa kepada Tuhan dalam hati: "Ya Tuhan, aku sangat kesakitan dan lemah. Kumohon jaga hatiku dan kuatkan imanku." Kembali ke sel, seorang saudari mengetahui apa yang kualami dan mengingatkanku untuk tidak tertipu oleh siasat Iblis. Itu adalah alarm yang menyadarkanku. Terpikir olehku bagaimana di tiap kesempatan Iblis menggunakan berbagai cara untuk membujuk dan menyesatkan kita agar mengkhianati Tuhan. Kita bisa terperosok ke dalam jaring Iblis saat kita lengah. Kita harus terus menenangkan hati di hadapan Tuhan, berdoa, dan bersandar kepada-Nya untuk mengetahui siasat Iblis, mendapat perlindungan Tuhan, dan berdiri teguh. Malam itu, aku berbaring di kasur, tak bisa tidur, dan berdoa dalam hati kepada Tuhan. Aku teringat akan firman Tuhan ini: "Sejak engkau lahir sambil menangis ke dunia ini, engkau mulai memenuhi tanggung jawabmu. Demi rencana Tuhan dan penetapan-Nya, engkau memainkan peranmu dan memulai perjalanan hidupmu. Apa pun latar belakangmu, dan apa pun perjalanan yang akan kautempuh, bagaimanapun juga, tak seorang pun dapat lolos dari pengaturan dan penataan Surga, dan tak seorang pun dapat mengendalikan nasibnya sendiri, karena hanya Dia yang berdaulat atas segala sesuatu yang mampu melakukan pekerjaan semacam itu" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Tuhan adalah Sumber Kehidupan Manusia"). Benar. Sepanjang hidup kita, Tuhanlah yang menguasai dan mengatur takdir kita, dan tak ada yang bisa mengubahnya. Aku tidak bisa mengendalikan pekerjaan atau pernikahan seperti apa yang akan putraku miliki di masa depan. Sebesar apa pun perhatian atau kekhawatiranku kepada anak-anakku, aku tidak bisa mengubah nasib mereka, dan apakah aku akan dipenjara atau tidak, itu pun ditentukan oleh Tuhan. Ini bukanlah sesuatu yang bisa kusingkirkan sekalipun aku ingin. Yang harus kulakukan adalah memercayakan semuanya kepada Tuhan dan tunduk kepada kedaulatan serta pengaturan-Nya. Lalu, aku teringat kutipan lainnya dari firman Tuhan: "Engkau harus menderita demi kebenaran, engkau harus mengorbankan diri demi kebenaran, engkau harus menanggung penghinaan demi kebenaran, dan engkau harus menanggung lebih banyak penderitaan demi memperoleh lebih banyak kebenaran. Inilah yang harus kaulakukan. Jangan membuang kebenaran demi nikmatnya keharmonisan keluarga, dan jangan kehilangan martabat dan integritas seumur hidupmu demi kenikmatan sesaat. Engkau harus mengejar segala sesuatu yang indah dan baik, dan engkau harus mengejar jalan hidup yang lebih bermakna. Jika engkau menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja dan duniawi, serta tidak memiliki tujuan apa pun untuk dikejar, bukankah artinya engkau menyia-nyiakan hidupmu? Apa yang dapat kauperoleh dari kehidupan semacam itu? Engkau harus meninggalkan seluruh kenikmatan daging demi satu kebenaran, dan jangan membuang seluruh kebenaran demi sedikit kenikmatan. Orang-orang seperti ini tidak memiliki integritas atau martabat; keberadaan mereka tidak ada artinya!" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Pengalaman Petrus: Pengetahuannya tentang Hajaran dan Penghakiman"). Firman Tuhan memberiku iman dan kekuatan. Sebagai orang percaya, satu-satunya cara untuk memperoleh perkenanan Tuhan adalah dengan mengejar kebenaran dan melaksanakan tugas sebagai makhluk ciptaan. Hanya itu yang bisa dianggap sebagai kehidupan yang berharga, dan penderitaan sebesar apa pun akan setimpal demi mendapat kebenaran. Jika aku mengkhianati saudara-saudari dan gereja hanya untuk memuaskan keluargaku, aku akan jadi Yudas yang mengkhianati Tuhan. Itu akan menjadi penghinaan terbesar, dan aku akan dikutuk oleh Tuhan karenanya. Meski punya keluarga yang bahagia dan hidup yang nyaman, itu terasa hampa serta tidak berarti, dan aku tidak lebih dari mayat hidup. Saat memikirkan hal ini, aku bahkan merasa lebih bertekad untuk mengikuti Tuhan. Apa pun taktik yang digunakan polisi, aku akan tetap teguh dalam kesaksianku dan mempermalukan Iblis!
Polisi memanggilku ke aula utama pada hari keenam, di sana aku melihat paman, suami, putra dan putriku. Anak-anak memelukku dan menangis sambil bilang: "Ibu, pulanglah!" Suamiku juga berdiri di samping sambil menangis. Lalu pamanku berkata sambil menangis: "Lingmin, polisi bilang kau bisa pulang segera setelah memberi tahu mereka sesuatu, tetapi kalau kau tidak mengaku, mereka akan menghukummu. Masa depan putramu akan hancur jika kau masuk penjara. Itu akan menghancurkan keluarga! Dengarkan aku dan beri tahu mereka!" Saat itu, aku tahu dengan jelas. Aku tahu siasat Iblis ada di balik nasihat keluargaku, dan sekalipun aku memberi mereka sedikit informasi, polisi akan memaksaku memberi tahu lebih banyak, dan banyak saudara-saudari lainnya yang akan ditangkap. Dengan pemikiran ini, aku berkata: "Sebagai orang percaya, aku menempuh jalan yang benar dalam hidup. Aku tidak melakukan hal ilegal, jadi tak ada yang perlu kuakui. Pulanglah ke rumah." Dalam perjalanan ke selku, aku memikirkan tentang polisi yang berulang kali menggunakan orang yang kukasihi untuk mencobaiku, memaksaku untuk mengkhianati saudara-saudari dan Tuhan. Partai Komunis sungguh hina! Mereka adalah setan yang anti-Tuhan! Lalu, seorang petugas memanggilku ke kantor dan dengan sombong berkata: "Bagaimana kunjungan keluargamu?" Saat melihatnya bersukaria dalam situasi buruk ini, aku sangat marah hingga mengeluarkan ketiga surat itu dari saku, merobek, melemparkannya ke atas meja, dan bilang: "Aku adalah orang percaya dan jujur. Aku tidak melakukan hal buruk. Mengapa kau menyuruh mereka mendesakku? Hukum apa yang telah kulanggar?" Lalu aku segera berjalan keluar. Aku bisa menghadapi pertanyaan polisi dengan tenang berkat kekuatan yang Tuhan berikan kepadaku.
Di pagi hari pada hari keempat belas, kepala biro keamanan masyarakat memanggilku ke kantor. Dia tidak galak seperti sebelumnya, tetapi berpura-pura peduli, dan bertanya tentang keluargaku. Dia mencoba menggunakan kata-kata indah untuk membujukku agar mengkhianati saudara-saudari. Aku berdoa tanpa henti kepada Tuhan dalam hati, memohon perlindungan Tuhan agar tidak tertipu siasat Iblis. Kepala biro banyak bicara. Akhirnya, melihat aku tutup mulut, dia menjadi marah dan berteriak dengan kejam, "Aku tidak akan berbasi-basi denganmu. Kami menemukan begitu banyak buku agama di rumahmu, ini adalah kasus terbesar di kota ini. Kau pasti akan dipenjara jika terus tutup mulut!" Namun apa pun yang diucapkannya, aku berdoa kepada Tuhan dalam hati dan bersumpah bahwa aku tak akan pernah mengkhianati saudara-saudariku dan tak akan pernah mengkhianati Tuhan, meski aku dihukum. Setelah lima belas hari, mereka sadar bahwa tidak ada yang bisa mereka dapatkan dariku, jadi mereka tidak memiliki pilihan selain membiarkanku pulang.
Setelah tiba di rumah, keluargaku masih menentang dan menghalangi imanku. Aku tahu bahwa itu semua karena penyesatan dan penganiayaan oleh Partai Komunis. Aku berdoa dan bersumpah akan mengikuti Tuhan hingga akhir, sesulit apa pun itu. Lalu, aku teringat sebuah lagu pujian yang berjudul "Jangan Pernah Mengecewakan Kasih Tuhan": "Aku tidak akan mempertimbangkan betapa sulitnya mengikuti Kristus. Satu-satunya kewajibanku adalah mengikuti kehendak Tuhan. Aku tidak akan memikirkan masa depan, apakah aku menerima berkat atau kesukaran. Aku telah memilih untuk mengasihi Tuhan, jadi aku tidak akan pernah berbalik. Tidak peduli betapa sulit dan berbahayanya jalan di depanku, tidak peduli seberapa besar penderitaan yang menantiku, untuk menyambut hari ketika Tuhan akan memperoleh kemuliaan, aku akan dengan saksama mengikuti jejak langkah Tuhan dan tetap setia hingga akhir" (Ikuti Anak Domba dan Nyanyikan Lagu Baru). Aku menyanyikan lagu pujian itu berulang kali dan merasa sangat terinspirasi. Aku tahu bahwa jalan iman akan selalu disertai dengan penganiayaan Partai, dan aku mungkin akan ditangkap lagi atau bahkan dihukum di kemudian hari. Namun, aku yakin bahwa ini adalah jalan yang benar, dan aku siap untuk mengikuti Tuhan hingga akhir. Untuk sementara waktu, aku tak bisa menghubungi anggota gereja yang lain atau menjalani kehidupan bergereja. Jadi, aku makan dan minum firman Tuhan, melengkapi diri dengan kebenaran di rumah, dan membagikan Injil kepada keluargaku. Kemudian, suami dan putriku menjadi orang percaya. Kami berkumpul, makan dan minum firman Tuhan sebagai satu keluarga. Setahun kemudian, aku kembali berhubungan dengan saudara-saudari, dan mulai melaksanakan tugasku. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan.
Saat memikirkan apa yang telah terjadi selama ini—melalui penganiayaan dan penangkapan oleh Partai Komunis, serta pencobaan dan serangan dari keluargaku—pencerahan dan bimbingan firman Tuhanlah yang membantuku melewatinya, selangkah demi selangkah. Tidak peduli betapa sulitnya jalan di depanku, aku akan mengikuti Tuhan hingga akhir.