Cara Mengejar Kebenaran (11)
Lampiran: Jalan yang Orang Tempuh Menentukan Apa yang pada Akhirnya Mereka Tuai
Apa tujuan percaya kepada Tuhan? Apakah untuk memperoleh kasih karunia dan berkat? Apakah agar tidak menjalani kehidupan yang hampa dan membebaskan diri dari minat-minat tingkat rendah? (Bukan.) Lalu apa tujuannya? (Untuk memperoleh kebenaran.) Tujuannya adalah untuk memperoleh kebenaran, untuk memperoleh hidup. Lalu, apakah segala sesuatu yang orang lakukan setiap hari diarahkan pada tujuan ini? Apakah segenap waktu dan tenaga yang kauhabiskan dalam pelaksanaan tugasmu setiap hari demi tujuan ini? Orang percaya kepada Tuhan tanpa tujuan—memperoleh kebenaran—yang jelas. Di dalam hatinya, aspek visi ini samar, dan mereka tidak tahu apa tujuan percaya kepada Tuhan. Seolah-olah di dalam hatinya, mereka hanya tahu bahwa tujuannya adalah untuk memperoleh berkat, tetapi apa yang seharusnya orang lakukan untuk memperoleh berkat? Mereka tidak tahu bahwa memperoleh berkat mengharuskan orang untuk memahami kebenaran, menerapkan kebenaran, dan mengejar kebenaran. Jadi, apakah mereka orang yang mengejar kebenaran? Mereka juga tidak yakin tentang hal ini. Mereka berpikir, "Ini bukan masalah besar. Aku sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan; Tuhan tidak akan meninggalkanku. Sekalipun orang mengatakan bahwa aku bukan orang yang mengejar kebenaran, itu tidak masalah." Terkadang, ketika melihat orang lain membagikan kesaksian berdasarkan pengalamannya sementara mereka sendiri tidak bisa membagikan apa pun, di dalam hatinya, mereka juga merasa sedih, sedikit cemas dan gelisah. Namun lebih sering, mereka merasa bahwa itu bukan masalah besar. Lima tahun pun berlalu begitu saja dalam sekejap mata, sepuluh tahun pun berlalu dalam sekejap mata. Ada orang-orang yang sekarang berusia tiga puluhan atau empat puluhan, ada yang berusia di atas lima puluh tahun; mereka belum menikah, dan selalu melaksanakan tugas mereka. Sampai sekarang, berapa banyak kebenaran yang telah mereka peroleh? Apakah mereka memiliki hidup? Mereka sendiri tidak yakin. Mereka merasa: "Sepertinya aku telah memahami cukup banyak kebenaran dan mampu menyampaikan banyak khotbah; aku seharusnya memiliki hidup, bukan?" Entah itu selama pertemuan, atau ketika mereka menghadapi masalah dalam tugas mereka, mereka mampu berbicara panjang lebar, seolah-olah mereka memahami setiap kebenaran, tetapi mereka tidak mampu menyelesaikan masalah nyata apa pun. Betapa pun muluknya doktrin yang mereka bicarakan, dalam pelaksanaan tugasnya, mereka tetap tidak mampu bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran dan bahkan masih mengikuti kehendak mereka sendiri dalam banyak hal, sama sekali tidak memahami prinsip-prinsip kebenaran. Karena itu, di dalam hati, mereka merasa bingung: "Sebenarnya aku adalah orang yang memahami kebenaran atau bukan?" Mereka tidak tahu apakah mereka orang yang memahami kebenaran. Lalu, apakah mereka orang yang mengejar kebenaran dan menerapkan kebenaran? Mereka sendiri juga tidak yakin tentang hal ini. Jadi, sebenarnya mereka telah memperoleh kebenaran atau belum? Mereka masih ragu tentang hal ini. Lalu, sebenarnya mereka memiliki hidup atau tidak? Apa sebenarnya hidup itu? Seperti apa rasanya ketika orang memiliki hidup? Perubahan apa yang akan terjadi dalam kehidupan orang sehari-hari ketika mereka memiliki hidup? Bagaimana pikiran mereka akan berubah? Perubahan apa yang akan terjadi dalam kemanusiaan mereka? Mereka tidak jelas tentang semua ini. Entah sudah berapa tahun mereka percaya kepada Tuhan, ketika berbicara tentang beberapa aspek kebenaran, mereka mampu mengkhotbahkan beberapa kata dan doktrin; tetapi ketika berkaitan dengan prinsip-prinsip tentang menerapkan kebenaran, mereka tidak mampu menjelaskannya dengan gamblang. Terutama, setelah dipangkas karena bertindak bertentangan dengan prinsip, ada orang-orang yang tidak hanya menjadi negatif tetapi juga menjadi bingung dan meragukan diri mereka sendiri, berkata: "Sebenarnya aku telah memperoleh hidup atau belum? Apakah kebenaran memiliki tempat di hatiku, apakah itu telah menjadi hidupku? Apakah aku sebenarnya masih bisa memperoleh keselamatan?" Mereka bingung tentang semua hal yang berkaitan dengan kebenaran, tetapi mengenai hal-hal eksternal yang tidak ada kaitannya dengan kebenaran, mereka mengingatnya dengan sangat jelas. Misalnya, berapa tahun, berapa bulan, dan berapa hari mereka telah percaya kepada Tuhan, tingkat pemimpin atau pekerja yang pernah mereka jabat, tugas apa yang telah mereka laksanakan, berapa banyak pekerjaan gereja yang telah mereka laksanakan, berapa banyak tempat yang telah mereka datangi, berapa banyak orang yang telah mereka dapatkan dengan memberitakan Injil, berapa banyak gereja yang telah mereka sirami, seberapa banyak mereka telah menderita dalam mengorbankan diri untuk Tuhan, berapa banyak uang yang telah mereka persembahkan, barang apa saja yang telah mereka sumbangkan kepada saudara-saudari, berapa lama mereka ditangkap dan dipenjarakan, berapa banyak pukulan yang telah mereka terima, berapa banyak penyiksaan yang telah mereka alami, berapa kali mereka tetap teguh dalam kesaksian mereka bagi Tuhan, dan sebagainya; mereka menyimpan semua hal eksternal ini lekat-lekat dalam ingatan mereka, sering kali memikirkannya. Mereka menyimpan semua ini di benak mereka, mengingat setiap halnya dengan jelas dan tidak pernah melupakannya. Namun, mengenai berapa banyak kebenaran yang mereka pahami dan sebanyak apa kenyataan yang mereka miliki, mereka selalu tidak jelas tentang hal ini. Di benaknya, mereka tidak pernah jelas tentang kebenaran apa yang mereka pahami, kebenaran apa yang telah mereka terapkan, dan apakah mereka mampu menaati kebenaran dan bertindak berdasarkan prinsip ketika hal-hal terjadi pada mereka; mereka tidak jelas tentang semua ini. Di benaknya, mereka juga tidak jelas tentang yang mana dari watak rusak mereka yang benar-benar mereka pahami, apakah mereka telah membuangnya, dan watak rusak mana yang sering mereka perlihatkan tetapi belum dibuang; mereka tidak jelas tentang semua ini. Setelah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, kebenaran mana yang mampu mereka terapkan dan mana yang belum mereka terapkan, dalam aspek kebenaran apa mereka telah mengalami kemajuan, dan sejauh mana mereka telah maju, mereka tidak jelas tentang semua ini. Apa sebenarnya yang mereka jalani dalam hal kemanusiaan mereka—apakah mereka memiliki hati nurani dan nalar, dan apakah mereka telah hidup dalam kemanusiaan yang normal—mereka tidak jelas tentang semua ini. Berapa banyak dari tugas mereka yang telah mereka laksanakan dengan ketulusan dan kesetiaan, berapa banyak tugas yang dilaksanakan dengan sikap asal-asalan yang disengaja, berapa banyak yang dilaksanakan dengan memenuhi standar dan berapa banyak yang belum memenuhi standar, dalam tugas mana mereka mampu bertindak berdasarkan prinsip sehingga pelaksanaan tugas-tugas ini memuaskan Tuhan dan sesuai dengan maksud Tuhan, dan dalam tugas mana mereka belum memahami prinsip-prinsip kebenaran dan belum mencapai tujuan memuaskan Tuhan; mereka tidak jelas tentang semua ini. Tepatnya dalam aspek-aspek apa mereka mampu memenuhi tuntutan Tuhan dan tunduk kepada Tuhan, sejauh mana mereka telah tunduk kepada Tuhan, dalam aspek apa mereka masih belum mampu tunduk kepada Tuhan, apa yang menyebabkan ketidakmampuan mereka untuk tunduk kepada Tuhan, dan bagaimana mereka seharusnya masuk ke depannya; mengenai semua hal ini, mereka tidak memiliki rencana dan pemikiran, dan terlebih lagi, tentu saja, mereka tidak memiliki jalan yang jelas. Setelah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, mereka tidak tahu berapa banyak hal yang telah mereka lakukan untuk melindungi kepentingan rumah Tuhan, atau berapa banyak perbuatan baik yang telah mereka persiapkan; mereka tidak tahu berapa banyak kejahatan yang telah mereka lakukan, atau berapa banyak hal yang telah mereka lakukan yang menyebabkan kekacauan dan gangguan; dalam ingatan mereka, sepertinya mereka telah melakukan beberapa dari hal-hal ini, tetapi mereka tidak tahu apakah mereka telah bertobat setelah melakukan kejahatan. Meskipun terkadang mereka dapat menyadari bahwa mereka telah melakukan kejahatan dan merasa sedih, dan mereka telah berdoa kepada Tuhan serta mengakui dosa-dosa mereka, apakah mereka telah memperoleh pengampunan Tuhan? Apakah ada tuduhan dalam hati mereka? Mereka juga tidak mengetahui hal-hal ini. Mereka berpikir: "Siapa yang peduli apakah aku merasa tertuduh atau tidak? Bagaimanapun, aku hidup cukup nyaman sekarang; aku masih melaksanakan tugasku." Lalu berapa banyak perbuatan baik yang telah mereka lakukan dalam pelaksanaan tugas mereka? Mereka juga tidak bisa memastikannya, tetapi mereka merasa bahwa mereka telah melakukan beberapa perbuatan baik; baru-baru ini, mereka memberitakan Injil dan mendapatkan dua orang. Mereka memiliki perbuatan baik yang jumlahnya sesedikit ini, tetapi mereka melakukan hal-hal dengan tidak berprinsip, dan bahkan bertindak sesuai dengan kehendak mereka sendiri serta dengan cara yang semena-mena dan gegabah; apakah ini termasuk perbuatan jahat? Mereka juga tidak jelas tentang hal ini. Mereka berpikir bahwa karena gereja tidak menangani mereka, dan para pemimpin tidak memangkas mereka atau tidak meminta pertanggungjawaban mereka atas hal-hal ini, maka hal-hal itu bukanlah perbuatan jahat; jika mereka dimintai pertanggungjawaban, maka mungkin hal-hal ini adalah perbuatan jahat. Mereka tidak tahu berapa banyak perbuatan baik yang telah mereka persiapkan. Apakah hal-hal yang sedang mereka lakukan saat ini adalah perbuatan baik atau perbuatan jahat, berapa banyak di antaranya yang merupakan perbuatan baik, berapa banyak di antaranya yang merupakan perbuatan jahat, berapa banyak yang sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran, berapa banyak yang bertentangan dengan pengaturan kerja dan prinsip-prinsip kebenaran, mereka tidak mengetahui semua ini. Mereka tidak pernah mencatat hal-hal ini. Bagaimanapun juga, setiap hari mereka makan dan tidur tepat waktu, bangun pada waktu yang ditentukan untuk saat teduh atau bekerja, dan mempertahankan keadaan yang sama saat bekerja serta langkah-langkah kerja yang sama dari hari sebelumnya, melakukan hal-hal yang selalu mereka lakukan. Mereka tidak pernah secara khusus atau secara sistematis memahami atau merangkum hal-hal tentang mengejar kebenaran dan masuk ke dalam kenyataan kebenaran atau membuang watak yang rusak dan memperoleh hidup. Oleh karena itu, apa pun yang berkaitan dengan mengejar kebenaran atau jalan masuk kehidupan tidaklah jelas bagi mereka. Katakan pada-Ku, jika seseorang hidup dengan cara seperti ini setiap hari, hidup dalam keadaan seperti itu, bukankah mereka bingung? (Ya.) "Bingung" adalah ungkapan sastra; dalam bahasa sehari-hari, itu berarti menjalani hidup tanpa arah dan tujuan. Apakah keadaan hidup seperti ini, keadaan keberadaan ini, baik atau tidak? (Tidak baik.) Di luarnya, mereka tidak memperlihatkan perilaku atau perwujudan yang jelas akan penentangan terhadap Tuhan, tetapi mengenai hal-hal tentang mengejar kebenaran dan jalan masuk kehidupan, mereka bingung dan tidak bersikap serius mengenainya. Keadaan inilah tepatnya yang dimaksud dengan bingung. Ini dengan jelas menunjukkan masalah yang orang miliki dan dengan jelas menyingkapkan jalan yang mereka tempuh dalam percaya kepada Tuhan.
Mengenai hal-hal tentang mengejar kebenaran dan jalan masuk kehidupan selama proses percaya kepada Tuhan, apa pun sikap, keinginan subjektif, atau perwujudan seseorang, di mata Tuhan, keadaan seseorang menunjukkan jalan apa yang sedang mereka tempuh. Sejak mulai percaya kepada Tuhan, ada orang-orang yang tidak mencintai kebenaran, dan dengan cara apa pun kebenaran dipersekutukan, mereka tidak menerimanya. Jalan yang mereka tempuh adalah jalan yang langsung menuju pada kematian dan neraka. Ketika pertama kali percaya kepada Tuhan, ada orang-orang yang tidak memahami tuntutan Tuhan dan hanya mengejar untuk memperoleh berkat dan masuk ke dalam kerajaan surga. Namun, dengan terus-menerus makan dan minum firman Tuhan, mereka menjadi paham akan kebenaran dan mampu mengejar kebenaran, serta mampu menanggung kesukaran dan membayar harga demi memperoleh kebenaran. Pada akhirnya, dapat terlihat bahwa jalan yang mereka tempuh mengarah pada terang dan kerajaan surga. Mengenai hal-hal tentang jalan masuk kehidupan, sebagian besar orang sama-sama tidak jelas dalam tujuan mereka dan tetap berada dalam keadaan bingung. Namun, dinilai dari perwujudan orang-orang ini, ada orang-orang yang sama sekali tidak menerima kebenaran, secara konsisten bersikap asal-asalan dalam pelaksanaan tugas mereka, dan setelah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, tidak berubah sedikit pun; jalan yang mereka tempuh adalah jalan yang mengarah pada kehancuran dan neraka. Di sisi lain, ada orang-orang yang mampu menerima kebenaran, dapat menerima pemangkasan dalam pelaksanaan tugas mereka, memiliki sedikit ketundukan sejati, dan berangsur-angsur melaksanakan tugas mereka dengan cara yang memenuhi standar; jalan yang mereka tempuh adalah jalan yang mengarah pada terang dan kerajaan surga. Mereka yang sama sekali tidak menerima kebenaran—dengan kata lain, mereka yang sedang menuju langsung ke jalan kehancuran—dalam pelaksanaan tugasnya, tanpa henti melakukan kejahatan, dan sering melakukan tindakan yang bertentangan dengan kebenaran dan dibenci oleh Tuhan, mengganggu kehidupan bergereja dan pekerjaan gereja. Orang-orang ini memperlihatkan beberapa perwujudan "khusus", yaitu, sejak saat mereka mulai percaya kepada Tuhan sampai sekarang, mereka tidak pernah bertobat, dan dalam pelaksanaan tugasnya, mereka sering bersikap asal-asalan, bersikap licin dan bermalas-malasan, memilih tugas yang mudah dan menghindari yang sulit, serta tidak menjaga kepentingan rumah Tuhan; mereka sangat egois dan tercela, dan hanya peduli pada kesenangan mereka sendiri. Ini juga merupakan suatu ciri dari orang-orang ini. Ada beberapa orang yang bahkan lebih jahat; selama proses melaksanakan tugasnya, mereka merajalela dalam berbuat jahat serta bertindak semena-mena dan gegabah, tidak pernah menerapkan atau melaksanakan pekerjaan berdasarkan pengaturan kerja. Ada juga orang-orang yang, dalam tugasnya, sering bersaing demi status, meninggikan dan bersaksi tentang diri mereka sendiri, dan menarik orang-orang ke pihak mereka untuk mendirikan kerajaan independen mereka sendiri. Sembari melaksanakan tugas, ada juga orang-orang yang mencuri persembahan, menghambur-hamburkan persembahan, dan mengkhianati kepentingan rumah Tuhan. Apakah perwujudan-perwujudan ini positif atau negatif? (Negatif.) Orang-orang ini telah memperlihatkan perwujudan semacam itu sejak mereka mulai percaya kepada Tuhan. Rumah Tuhan terus memberi mereka kesempatan. Sebagian dari mereka yang memiliki sedikit kualitas diatur untuk melaksanakan tugas sebagai pengawas, tetapi setelah berkinerja buruk selama jangka waktu tertentu, mereka diatur untuk melaksanakan tugas dengan satu aspek; namun, bahkan dalam tugas dengan satu aspek pun, mereka tetap bersikap asal-asalan, merajalela dalam berbuat jahat, bertindak dengan cara yang semena-mena dan gegabah, menyebabkan kekacauan dan gangguan, dan bahkan ada yang bersaing demi status serta kekuasaan, tidak menjaga kepentingan rumah Tuhan. Ketika mereka mendapat kesempatan, mereka bahkan mencuri persembahan dan menghambur-hamburkan persembahan. Sudah berapa tahun pun mereka percaya kepada Tuhan, perwujudan-perwujudan dalam diri mereka ini tidak berkurang sedikit pun, juga tidak berubah sedikit pun. Pada akhirnya, apa yang terlihat dalam diri mereka? Yang terlihat adalah bahwa dalam pelaksanaan tugas mereka, orang-orang ini secara konsisten bertindak dengan sikap asal-asalan, berlaku licik dan bermalas-malasan, memilih tugas yang mudah dan menghindari yang sulit, dan bahkan menikmati kenyamanan daging serta bertindak dengan tidak bertanggung jawab. Perwujudan mereka bukan sesekali atau sementara, melainkan konsisten; ini menjadi masalah besar bagi mereka. Dalam pelaksanaan tugasnya, mereka secara konsisten bertindak dengan sikap asal-asalan, merajalela dalam berbuat jahat, dan menyebabkan kekacauan serta gangguan, dan siapa pun yang berbicara kepada mereka, mereka tidak berubah. Sebanyak apa pun khotbah yang mereka dengar, mereka tidak pernah bertobat ataupun memiliki hati yang menyesal. Ada juga orang-orang yang secara konsisten bersaing demi status, secara konsisten mengkhianati kepentingan rumah Tuhan, dan tidak pernah menjaga kepentingan rumah Tuhan. Apakah frasa "secara konsisten" mudah dipahami? Siapa pun yang dalam pelaksanaan tugasnya bertindak dengan sikap asal-asalan, semena-mena dan gegabah, atau memiliki beberapa perwujudan yang buruk, rumah Tuhan selalu memberi mereka banyak kesempatan untuk bertobat. Tidak pernah karena perwujudan yang bersifat sementara, mereka diberhentikan dan tidak diizinkan lagi melaksanakan tugas mereka. Sebaliknya, mereka berulang kali dinasihati, diajak bersekutu tentang kebenaran, serta dibantu dan didukung dengan penuh kasih. Terlebih lagi, Roh Kudus menggerakkan, mencerahkan, dan menegur mereka lebih dari biasanya. Orang melakukan pekerjaan, dan Roh Kudus juga melakukan pekerjaan, tetapi orang-orang seperti ini di dalam hatinya benar-benar keras kepala dan muak akan kebenaran. Mereka tidak pernah menerima kebenaran, mereka tidak pernah menerima bantuan, kritikan, tindak lanjut, atau pengawasan dari saudara-saudari, dan terlebih lagi mereka tidak menerima pencerahan dan didikan dari Roh Kudus. Entah mereka telah percaya kepada Tuhan selama tiga atau lima tahun, sepuluh atau dua puluh tahun, mereka tetap seperti ini. Meskipun sekarang mereka sudah lebih tua dan tampak sedikit lebih dewasa dan berpengalaman, mereka tetap melaksanakan tugas mereka dengan cara yang sama, secara konsisten bertindak dengan sikap asal-asalan dan merajalela dalam berbuat jahat. Mereka telah menjadi seperti ini selama dua puluh tahun ini, tanpa berubah sama sekali. Ketika berbicara, mulut mereka penuh dengan kebohongan, dan mereka tidak pernah mengatakan yang sebenarnya. Mereka masih seperti ini bahkan sampai sekarang; sebanyak apa pun perkataan yang mereka ucapkan, orang tidak tahu mana yang benar dan mana yang bohong; tidak ada satu kata pun yang jujur di antara perkataan tersebut. Meskipun mereka telah sedikit menderita dalam melaksanakan tugas mereka selama dua puluh tahun ini, dan telah mendapatkan beberapa orang dengan memberitakan Injil, watak hidup mereka tidak berubah sedikit pun. Mereka masih sangat licin dan licik; mereka benar-benar ular tua, tidak mampu mengucapkan satu kata pun yang jujur. Ini cukup untuk membuktikan bahwa mereka bukanlah orang yang mencintai kebenaran; sekalipun mereka memahaminya sedikit, mereka tidak mampu menerapkannya. Orang macam apa mereka ini? Mereka adalah orang-orang yang secara konsisten bertindak dengan sikap asal-asalan, secara konsisten merajalela dalam berbuat jahat serta bertindak dengan cara yang semena-mena dan gegabah, secara konsisten menyebabkan kekacauan dan gangguan, bersaing demi kekuasaan, dan secara konsisten melakukan tipu muslihat, berbohong, serta menipu. Bisa dikatakan bahwa mereka adalah rubah tua yang licik, bahwa mereka benar-benar ular tua, orang tua yang licin bagai belut, setan tua, Iblis tua. Di depan semua tindakan mereka, kata penjelas "secara konsisten" harus ditambahkan. Begitu "secara konsisten" ditambahkan, itu bukan lagi masalah prasangka pribadi terhadap mereka, melainkan sesuatu yang disebabkan oleh tindakan dan perilaku mereka sendiri. Di mata semua orang, orang ini tidak hanya melakukan hal-hal ini sekali atau dua kali; dia adalah orang yang sudah biasa melanggar. Bagaimana departemen kepolisian di berbagai negara memperlakukan orang yang sudah biasa melanggar? Catatan kriminal orang yang sudah biasa melanggar harus diarsipkan. Setiap kali terjadi kejahatan, orang yang sudah biasa melanggar ini adalah tersangka utamanya, dan ketika mulai menyelidiki kasus tersebut dan memulai penyelidikan, polisi pasti akan mulai dari mereka. Lalu bagaimana dengan mereka yang secara konsistenmelaksanakan tugas mereka dengan sikap asal-asalan di rumah Tuhan? Perwujudan mereka yang bersikap asal-asalan dan merajalela dalam berbuat jahat bukanlah hal-hal yang hanya terjadi sekali atau dua kali, juga bukan hanya terjadi dalam kondisi khusus. Keadaan dan perwujudan ini adalah cara konsistenyang mereka gunakan dalam menyikapi tugas mereka. Dari cara konsisten mereka dalam menyikapi tugas ini, dapat terlihat bagaimana sikap mereka terhadap kebenaran. Jadi, bagaimana sikap mereka terhadap kebenaran? (Mereka muak akan kebenaran dan merasa menentang terhadapnya.) Orang-orang semacam ini muak akan kebenaran dan merasa menentang terhadap kebenaran. Mereka tidak pernah menerimanya. Di lubuk hatinya, mereka memandang rendah kebenaran dan mereka membenci hal-hal positif. Siapa pun yang mempersekutukan kebenaran kepada mereka, mereka tidak mendengarkan. Sebanyak apa pun kesempatan yang diberikan kepada mereka untuk bertobat, mereka tidak menghargainya atau tidak menganggapnya serius. Mereka bertindak sesuka mereka, dengan cara apa pun yang menyenangkan mereka. Ketika Roh Kudus menggerakkan mereka, mereka tidak memiliki perasaan apa pun dan tidak memedulikannya. Mereka muak akan nasihat serta bantuan orang dan mengabaikannya, dan jika orang-orang itu kemudian memangkas mereka, mereka menjadi marah, murka, mengamuk kepada orang-orang itu, dan merasa jijik di dalam hatinya. Gereja memiliki penilaian atas perwujudan setiap orang di setiap tahap, dan penilaian ini sangat penting bagi kesudahan seseorang. Jika kata "secara konsisten" ditambahkan pada perwujudan perbuatan jahat seseorang ketika mereka sedang digolongkan, ini menjadi masalah besar bagi mereka. Menjadi sangat jelas jalan seperti apa tepatnya yang sedang ditempuh orang-orang semacam itu. Jadi, jalan apa yang sedang mereka tempuh? Apakah jalan yang mengarah pada kehancuran, atau jalan yang mengarah pada keselamatan? (Jalan yang mengarah pada kehancuran.) Mengapa hasilnya begini? Apakah ini berarti menghakimi orang-orang ini? Apakah ini tidak sesuai dengan situasi yang sebenarnya? (Tidak.) Apakah mereka seharusnya masih diberi kesempatan untuk bertobat? (Tidak.) Ada orang-orang yang berkata, "Kita tidak seharusnya langsung menyingkirkan mereka sepenuhnya; mungkin suatu hari nanti mereka akan bertobat!" Orang-orang Niniwe melakukan banyak kejahatan, dan kejahatan mereka telah sampai ke telinga Tuhan. Ketika Tuhan hendak menghancurkan mereka, Dia terlebih dahulu mengutus Yunus untuk menyampaikan pesan, memberi tahu mereka bahwa Niniwe akan dihancurkan dalam empat puluh hari. Bagaimana orang-orang Niniwe berperilaku setelah mendengar ini? Dalam waktu empat puluh hari, mereka mengenakan kain kabung dan abu serta bertobat kepada Tuhan. Namun sekarang, bagi mereka yang secara konsisten berkinerja buruk saat melaksanakan tugas mereka, berapa banyak masa empat puluh hari yang telah diberikan kepada mereka untuk bertobat? Apakah mereka telah bertobat? Apakah mereka memiliki kesediaan untuk bertobat? Apakah mereka memperlihatkan kecenderungan untuk bertobat? (Tidak.) Selama sepuluh atau dua puluh tahun terakhir, perwujudan mereka secara konsisten adalah melakukan kejahatan, jadi, dalam sepuluh atau dua puluh tahun ke depan, bisakah mereka berubah? Bisakah mereka berhenti melakukan kejahatan? Itu mungkin tidak diketahui, tetapi berbagai perwujudan dari orang-orang ini selama sepuluh atau dua puluh tahun terakhir sudah cukup untuk memperlihatkan bahwa semua perilaku dan perwujudan mereka bertentangan dengan kebenaran, menentang Tuhan, dan melawan Tuhan. Ini membuktikan bahwa hati mereka muak akan kebenaran, bahwa esensi natur mereka jahat dan tidak mengandung unsur mencintai kebenaran, dan bahwa mereka tidak memiliki kemanusiaan yang mencintai dan menerapkan kebenaran. Dinilai dari perwujudan mereka selama sepuluh atau dua puluh tahun terakhir, inilah kesimpulannya. Karena inilah kesimpulannya sampai saat ini, dinilai dari kemanusiaan dan esensi mereka, dalam sepuluh, dua puluh, atau tiga puluh tahun ke depan, akankah ada di antara mereka yang mampu benar-benar bertobat dan berubah? Dari tiga puluh orang, mungkinkah ada satu orang? Dari lima puluh orang, mungkinkah ada satu orang? Dari seratus orang, mungkinkah ada satu orang? Artinya, dalam sepuluh atau dua puluh tahun ke depan, bisakah mereka tiba-tiba memperoleh kesadaran hati nurani, menjadi tertarik pada kebenaran dan hal-hal positif, mampu menerima kebenaran dan hal-hal positif, mengenal diri mereka sendiri dan memiliki pertobatan sejati, serta merasa menyesal dan berutang atas kejahatan yang telah mereka lakukan di masa lalu? Berdasarkan pengamatanmu, berapa rasionya? Dari seribu orang, mungkinkah ada satu orang? (Menurutku bahkan di antara seribu orang, tidak ada satu pun.) Engkau mendasarkan hal ini pada apa? (Pada fakta bahwa selama sepuluh atau dua puluh tahun percaya kepada Tuhan, sikap orang-orang semacam itu terhadap kebenaran secara konsisten adalah sikap yang jijik dan sikap yang merasa menentang, dan mereka sama sekali tidak menerima kebenaran, serta tidak menunjukkan perwujudan pertobatan sedikit pun. Itu membuktikan bahwa mereka juga tidak akan benar-benar bertobat di masa depan.) Apakah pernyataan ini akurat? (Ya.) Ada orang-orang yang berkata, "Kita seharusnya bersikap toleran dan sabar terhadap orang lain. Jika mereka tidak bertobat dalam sepuluh atau dua puluh tahun terakhir, itu karena mereka masih muda dan belum dewasa, atau karena mereka memiliki kondisi keluarga yang baik dan terlalu disayang dan dimanjakan, atau karena mereka memiliki status sosial yang tinggi dan kelebihan tertentu. Bukankah kondisi dan lingkungan khusus inilah yang menyebabkan mereka menjadi seperti ini? Mungkin dalam sepuluh atau dua puluh tahun ke depan, mereka akan melepaskan diri dari pengaruh lingkungan keluarga dan faktor-faktor buruk tersebut, dan mereka mungkin akan berubah." Itu sulit untuk dikatakan. Namun, berdasarkan perwujudan masa lalu orang-orang ini, semua orang yang perwujudannya didahului oleh kata penjelas "secara konsisten" berada dalam bahaya besar. Bahkan di antara seratus atau seribu orang ini, tidak mungkin ada satu pun yang bisa benar-benar bertobat. Jika tidak ada perbuatan jahat mereka yang didahului oleh kata penjelas "secara konsisten", mungkin masih ada sedikit harapan bagi orang-orang semacam itu. Itu akan bergantung pada apa perwujudan mereka dalam tiga sampai lima tahun ke depan. Jika itu karena mereka masih muda dan belum dewasa, atau karena kepercayaan mereka kepada Tuhan tidak memiliki landasan, atau karena mereka memiliki kualitas yang buruk, atau karena beberapa faktor lingkungan yang objektif telah memengaruhi penerimaan dan pemahaman mereka akan kebenaran, jika itu disebabkan oleh alasan-alasan objektif ini, dan perwujudan perbuatan jahat mereka hanya bersifat sementara, diperlukan pengamatan lebih lanjut. Namun sampai sekarang, mereka yang tanpa henti melakukan perbuatan jahat—mereka yang perwujudannya didahului dengan kata "secara konsisten"—belum mempersiapkan perbuatan baik yang cukup untuk tempat tujuan mereka. Sebaliknya, selama proses mereka percaya kepada Tuhan, mereka telah menumpuk banyak perbuatan jahat. Hanya saja, mereka tidak mau mengakui bahwa mereka adalah orang jahat, dan juga mencoba membenarkan diri mereka sendiri dengan menggunakan kesukaran yang telah mereka tanggung, harga yang telah mereka bayar, dan senioritas mereka sebagai orang yang sudah lama percaya kepada Tuhan. Jalan yang ditempuh orang-orang ini tidak hanya tersingkap di hadapan mereka tetapi juga tersingkap di hadapan semua orang. Perwujudan dan penyingkapan mereka, tindakan dan perilaku mereka, sikap mereka terhadap pelaksanaan tugas mereka, sikap mereka terhadap kebenaran, dan sikap mereka terhadap semua hal positif sudah cukup untuk memperlihatkan esensi mereka. Tentu saja, sikap mereka terhadap tugas mereka dan sikap mereka terhadap kebenaran juga telah menyingkapkan jalan yang sedang mereka tempuh.
Jalan yang orang tempuh menentukan apa yang pada akhirnya mereka tuai. Jika orang menempuh jalan kehancuran, apa yang pada akhirnya mereka tuai adalah mendobrak gerbang neraka dan turun ke neraka. Ini tidak ada hubungannya dengan orang lain; ini tidak disebabkan oleh orang lain, tetapi ini justru adalah hasil yang pada akhirnya diakibatkan oleh jalan yang kautempuh. Mungkin saja engkau telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun dan telah melakukan banyak pelanggaran, telah mengambil beberapa jalan yang salah, dan telah melakukan beberapa hal yang menyimpang dari jalan yang benar; bahkan ada orang-orang yang telah melakukan beberapa tindakan yang memberontak terhadap Tuhan dan menentang Tuhan. Meskipun perwujudan-perwujudan ini tidak baik, dan di mata Tuhan semua itu dikutuk, jika—pada saat yang sama ketika engkau memperlihatkan watak yang rusak serta memberontak terhadap Tuhan dan menentang-Nya—engkau mampu merenungkan dirimu sendiri dan benar-benar berbalik, serta menggunakan ketulusanmu, harga yang telah kaubayar, penerapanmu akan kebenaran, dan sikapmu yang positif dan proaktif terhadap kebenaran untuk secara aktif mempersiapkan banyak perbuatan baik, maka sikap Tuhan terhadapmu akan berubah. Misalnya, ketika antikristus dan orang-orang jahat mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja serta menyesatkan saudara-saudari, engkau mampu dengan segera menyingkapkan perbuatan jahat antikristus dan orang-orang jahat tersebut, menghentikan kekacauan dan gangguan mereka, melindungi saudara-saudari, dan menjaga kepentingan rumah Tuhan. Selain itu, selama proses melaksanakan tugasmu, ada banyak kesulitan dan rintangan yang tak terduga, dan engkau telah menghabiskan waktu, tenaga, dan kekuatan fisikmu, mengorbankan saat-saat bahagia dalam kenikmatan dagingmu dan mengerahkan segenap upayamu untuk mengatasi kesulitan dan masalah ini. Melalui dorongan, pengawasan, dan tindak lanjutmu, melalui penderitaan dan harga yang kaubayar, pekerjaan penginjilan gereja telah mampu berkembang dan berjalan dengan normal dan lancar. Lebih jauh lagi, selama proses memberitakan Injil, engkau telah membawa masuk beberapa orang dengan kualitas yang baik dan kemampuan untuk memahami kebenaran, dan dengan jelas mempersekutukan berbagai kebenaran kepada mereka, memungkinkan mereka untuk meletakkan dasar di jalan yang benar, dan melaksanakan tugas mereka di gereja, serta menjadi asisten yang cakap dalam beberapa pekerjaan tertentu. Atau engkau telah memainkan peran penting dalam beberapa pekerjaan spesialisasi tertentu di rumah Tuhan, menggunakan metode kerja atau langkah kerja yang efektif untuk mendorong kemajuan pekerjaan dan meningkatkan hasilnya. Atau, dalam kehidupan bergereja, engkau telah membantu beberapa saudara-saudari yang negatif dan lemah, atau yang merasa kehilangan arah dan tidak memiliki jalan, membantu mereka untuk menemukan jalan ke depan, untuk memahami maksud Tuhan dan tidak salah paham terhadap-Nya, serta memiliki tekad untuk mengejar kebenaran. Yang jauh lebih baik, engkau telah mampu mendorong orang-orang ini sehingga mereka bersedia melaksanakan tugas dan mengorbankan diri mereka untuk Tuhan. Atau, dalam pekerjaan spesialisasi tertentu, engkau telah mengambil peran yang tak tergantikan. Mungkin pekerjaan yang kaulakukan itu berat dan melelahkan, dan tidak terlihat, tetapi engkau bersedia menjadi pekerja di balik layar yang tidak dikenal, mengerahkan upayamu tanpa meminta imbalan apa pun, hanya berusaha untuk mempersembahkan ketulusan dan kesetiaanmu. Di mata Tuhan, semua perwujudan positif seperti ini adalah perbuatan baik yang layak dikenang. Di sisi lain, mungkin saja ketika engkau menghadapi hal-hal ini, engkau tidak hanya gagal melaksanakan tugasmu dan memenuhi tanggung jawabmu, tetapi engkau juga bersikap lepas tangan serta hanya berdiam diri, menonton, dan mentertawakan situasi tersebut, sepenuhnya mengabaikannya, menutup mata dan telinga. Engkau tidak melakukan apa yang mampu kaulakukan, dan engkau bahkan tidak mau repot-repot memberikan saran, karena takut itu akan membuat dirimu sendiri kelelahan. Engkau menghindari hal-hal sebisa mungkin, berpikir bahwa makin engkau santai, itu makin baik. Engkau selalu merasa bahwa bersikap bersungguh-sungguh dan bertanggung jawab tidaklah sepadan, dan bahwa memusingkan urusan pekerjaan terlalu merepotkan. Meskipun perwujudan-perwujudan ini berbeda dari perbuatan jahat yang mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja, dan Tuhan tidak akan memberimu penilaian buruk, Dia juga tidak akan memberimu penilaian yang baik. Apa maksud-Ku tidak memberimu penilaian yang baik? Itu berarti dalam hal-hal ini, engkau belum mempersiapkan perbuatan baik, engkau juga belum melakukan hal-hal yang membuatmu dikenang oleh Tuhan. Ketika engkau menghadapi hal-hal ini, engkau melewatkan kesempatan untuk mempersiapkan perbuatan baik. Engkau sangat bodoh; engkau tidak dapat dipercaya, tidak layak untuk dipromosikan, tidak layak untuk ditinggikan, dan tidak layak untuk dipercayakan amanat oleh Tuhan. Engkau bagaikan langit dan bumi dibandingkan dengan Nuh dan Abraham. Katakan kepada-Ku, seseorang yang tidak berani Tuhan percayakan apa pun mungkin belum tentu masuk ke neraka pada akhirnya, tetapi bisakah dia masuk ke dalam kerajaan surga? Hanya bisa dikatakan bahwa itu tidak pasti, dan ada banyak tanda tanya yang mengikutinya; itu dipenuhi dengan banyak ketidakpastian. Ketidakpastian ini didasarkan pada perwujudan mereka yang konsisten. Jika engkau bertanya kepada semua orang mengapa mereka percaya kepada Tuhan, apakah mereka ingin masuk ke dalam kerajaan surga atau masuk ke neraka, ada orang-orang yang akan mengejekmu, dengan mengatakan bahwa pertanyaan ini sangat bodoh: "Siapa yang ingin masuk ke neraka dan dihancurkan? Siapa yang tidak ingin masuk ke dalam kerajaan surga dan memperoleh keselamatan?" Namun, pertanyaan ini benar-benar perlu ditanyakan. Ini tidak bodoh. Ada orang-orang yang tidak pernah merenungkan diri mereka sendiri dengan cara seperti ini. Ketika mereka menghadapi berbagai situasi, mereka selalu takut akan masalah dan takut mengundang perselisihan. Khususnya, ketika mereka melihat orang-orang jahat mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja, di mana umat pilihan Tuhan disesatkan dan dimanfaatkan, sehingga pekerjaan gereja tidak dapat berjalan, mereka tidak menyadari bahwa Tuhan sedang memeriksa orang-orang, mereka juga tidak menyadari bahwa ini justru merupakan kesempatan untuk mempersiapkan perbuatan baik. Sebaliknya, mereka memilih untuk menjadi penyenang orang dan mengabaikan prinsip-prinsip kebenaran, dan tidak merenungkan diri mereka sendiri sedikit pun. Apa tanggung jawabmu? Apa kewajibanmu? Apa amanat Tuhan untukmu? Tuhan telah mengucapkan begitu banyak firman dan melakukan begitu banyak pekerjaan; apa harapan Tuhan terhadapmu? Bisakah engkau memberi Tuhan jawaban yang memuaskan? Sudahkah engkau mempersiapkan perbuatan baik? Dalam semua hal ini, engkau harus sering merenungkan dirimu sendiri dan memiliki kejelasan di dalam hatimu.
Semua orang ingin memperoleh berkat. Tak seorang pun ingin dihancurkan dan dikirim ke neraka, tetapi meskipun demikian, banyak orang berulang kali melakukan kejahatan, melaju dengan kecepatan tinggi di jalan menuju ke neraka. Ada orang-orang yang berulang kali mengabaikan kesempatan untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh rumah Tuhan, mengabaikan saat Roh Kudus menggerakkan dan menegur mereka, serta mengabaikan bantuan dan pengharapan rumah Tuhan. Mereka bersikeras untuk bersikap asal-asalan, merajalela berbuat jahat, bertindak semena-mena dan gegabah, serta mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja, tanpa merenungkan diri mereka sendiri sedikit pun. Bukankah mereka benar-benar orang yang bebal dan tidak tahu malu? Engkau terus-menerus berbuat jahat seperti ini. Engkau melakukannya bukan karena orang lain memaksamu untuk melakukannya; ini jelas merupakan pilihan pribadimu, sesuatu yang secara pribadi kausukai dan dengan senang hati kaulakukan. Jika seseorang mengatakan bahwa jalan yang kautempuh adalah jalan menentang Tuhan dan jalan menuju ke neraka, engkau merasa kesal dan negatif. Apa yang membuatmu merasa negatif? Bukankah engkau sendiri yang mendatangkan hal ini pada dirimu dan menuai apa yang kautabur? Bukankah engkau pantas mendapatkannya? Ada orang-orang yang berkata, "Aku berbuat jahat di luar kehendakku. Setiap kali, aku ingin melakukan segala sesuatu dengan baik, tetapi setelah selesai, aku mendapati bahwa akibat dari tindakanku tidak terlalu baik." Engkau telah berbuat jahat, menyebabkan kekacauan dan gangguan, serta mendatangkan kerugian pada pekerjaan gereja. Sekalipun engkau tidak dimintai pertanggungjawaban atas pelanggaranmu, pelanggaran itu telah meninggalkan risiko tersembunyi sebagai akibatnya, dan engkau bisa saja melakukannya lagi di masa depan. Ini sangat berbahaya. Ini sama seperti jalan yang telah ditempuh seseorang; di mana pun dia telah berjalan, dia pasti meninggalkan jejak. Apakah engkau menyadari pelanggaran yang telah kaulakukan? Apakah engkau merasa menyesal karenanya? Apakah engkau merasa berutang dan sedih? Apakah engkau menangis getir karenanya? Sudahkah engkau berbalik? Apakah engkau benar-benar membenci perbuatan jahatmu? Sudahkah engkau melepaskan kejahatan yang ada di tanganmu dan benar-benar bertobat kepada Tuhan? Ada orang-orang yang berkata: "Aku juga membenci diriku sendiri. Aku telah menampar wajahku sendiri tak terhitung banyaknya secara diam-diam, dan aku juga telah berlutut di hadapan Tuhan, menangis getir dalam doa." Engkau mungkin telah melalui proses-proses ini, tetapi Tuhan tidak melihat proses-proses ini. Yang Tuhan lihat adalah perwujudanmu. Ketika situasi yang sama kembali muncul atau tugas yang sama kembali diberikan kepadamu, bagaimana engkau menyikapinya? Apakah engkau memiliki ketulusan dan kesetiaan? Mampukah engkau membayar harga? Mampukah engkau bertindak berdasarkan firman Tuhan? Apa perwujudan dari berbaliknya dirimu? Sudahkah engkau melepaskan kejahatan yang ada di tanganmu? Apakah engkau masih terus melakukan hal-hal jahat yang kaulakukan di masa lalu? Apakah engkau masih berbohong, masih bertindak semena-mena dan gegabah, masih menentang pengaturan kerja dan prinsip-prinsip kebenaran, masih bertindak berdasarkan ambisi dan keinginanmu sendiri, dan masih bersekongkol dengan orang-orang jahat untuk mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja? Jika engkau masih bertindak seperti ini, pertobatan dan tangisan getirmu itu palsu dan hanya sikap asal-asalan. Tergolong apakah pertobatan yang palsu dan hanya sikap asal-asalan itu? (Kemunafikan.) Apakah itu tergolong kemunafikan? Itu tergolong penipuan. Apakah pernyataan ini akurat? (Ya.) Di mata Tuhan, tangisan getir dan pertobatan semacam itu adalah penipuan. Sebagai contoh, Tuhan berfirman, "Persembahkan kepada-Ku sepuluh pon beras dari panen tahun ini." Ada orang-orang yang tidak bersedia mempersembahkannya dan ingin menyimpannya untuk dimakan sendiri, jadi mereka mengambil sepuluh pon sekam padi dan meletakkannya di atas mezbah. Ketika ditanya apa itu, mereka mengatakan itu adalah padi. Tuhan berfirman, "Bukankah Aku memintamu untuk mempersembahkan beras?" Mereka berkata, "Padi adalah beras." Apakah ini penipuan? (Ya.) Ini adalah penipuan yang terang-terangan. Setelah melakukan kejahatan, engkau mengakui dosamu, berulang kali mengatakan bahwa engkau berutang kepada Tuhan, dan bahkan menangis getir, tetapi setelah itu, engkau bertindak seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan terus melakukan segala sesuatu dengan cara yang sama seperti sebelumnya. Tuhan menggolongkan perilaku semacam ini sebagai penipuan. Di mata Tuhan, perilaku menipu semacam ini setara dengan perbuatan jahat. Jika engkau benar-benar memiliki tekad untuk berubah dan bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, engkau tidak perlu membuat resolusi atau menangis getir. Lakukan itu terlebih dahulu, buatlah nazar kepada Tuhan ketika engkau mampu melakukannya. Jika engkau tidak mampu melakukannya, engkau sama sekali tidak boleh bernazar. Jika engkau bernazar, Tuhan akan menganggapnya serius dan akan menuntut hasil dari apa yang kaunazarkan. Jika engkau tidak dapat memenuhinya, di mata Tuhan itu adalah penipuan; menipu Tuhan menjadi satu lagi perbuatan jahat yang dicatat mengenaimu. Jadi, jika engkau tidak mampu benar-benar bertobat dan justru menipu Tuhan dengan nazar-nazarmu, maka jalan yang sedang kautempuh adalah jalan menuju kehancuran. Setiap perbuatan jahatmu adalah hantaman pada gerbang neraka; mungkin salah satu dari hantaman ini pada akhirnya akan membukanya, dan waktu kematianmu pun akan tiba. Dapat dikatakan bahwa ada orang-orang yang, sejak mereka mulai percaya kepada Tuhan hingga sekarang, semua tindakan dan perilaku mereka adalah terus-menerus mengumpulkan perbuatan jahat dan menghantam gerbang neraka, dan pada saat yang sama, mengumpulkan kemarahan Tuhan; mereka sedang menunggu hukuman Tuhan turun pada mereka. Namun, ada orang-orang lain yang sedang maju menuju arah yang positif dan benar dalam proses percaya kepada Tuhan. Jalan yang mereka tempuh adalah jalan menuju kerajaan surga. Selama masa ini, meskipun mereka memberontak dan memperlihatkan watak yang rusak, dan tentu saja mereka juga memiliki gagasan dan imajinasi tentang Tuhan, serta memiliki kehendak mereka sendiri dalam melaksanakan tugasnya, saat memperlihatkan perwujudan ini atau berperilaku seperti ini, mereka juga terus-menerus menerima kebenaran, dan terus-menerus membuang watak rusak mereka dan mengubahnya; mereka telah benar-benar berbalik, serta memiliki perwujudan dan kenyataan berupa menerima dan tunduk pada kebenaran. Meskipun orang-orang semacam itu pernah melakukan banyak pelanggaran dan melakukan beberapa hal yang Tuhan benci dan kutuk, mereka berangsur-angsur membuang watak rusak mereka dan tidak lagi berbuat jahat setelah memahami kebenaran dan berbalik. Dengan berbaliknya mereka, serta tekad dan kemauan keras mereka untuk menanggung kesukaran dan membayar harga demi kebenaran, mereka menggerakkan hati Tuhan. Pada saat yang sama, upaya dan tindakan mereka, serta perbuatan baik yang mereka persiapkan berangsur-angsur memperoleh penerimaan dan perkenanan Tuhan, dan hal-hal ini juga diingat oleh Tuhan. Dinilai dari perwujudan keseluruhan orang-orang semacam itu, mereka—seperti yang sering engkau semua katakan—pada dasarnya adalah orang-orang yang tepat. Jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang tepat ini adalah jalan menuju kerajaan surga, jalan menuju keselamatan. Orang-orang semacam itu sedang menempuh jalan keselamatan. Tentu saja, perwujudan orang-orang ini pada dasarnya bukanlah hasil dari dorongan, pengawasan, pengelolaan, atau pemangkasan oleh orang lain, bukan pula dari peraturan dalam ketetapan administratif gereja. Sebaliknya, mereka secara proaktif berbalik, dan, dalam jalan masuk kehidupan mereka, mereka memiliki rencana dan rancangan pribadi mereka sendiri, serta tekad proaktif mereka sendiri. Jalan yang ditempuh orang-orang ini adalah jalan yang benar. Mereka sedang mempersiapkan perbuatan baik untuk tempat tujuan mereka sendiri dengan perwujudan yang positif dan proaktif ini. Pengejaran subjektif dan pribadi merekalah yang menentukan jalan yang mereka ambil dan menentukan sikap Tuhan terhadap mereka. Pada akhirnya, karena pengejaran subjektif dan pribadi mereka, mereka mampu menerima dari Tuhan penilaian yang sesuai dan tempat tujuan yang sesuai.
Katakan kepada-Ku, bagaimana seharusnya orang melakukan perbuatan yang adil, dan harus dalam keadaan dan kondisi apa mereka melakukan hal ini, agar dapat dianggap mempersiapkan perbuatan baik? Setidaknya, mereka harus memiliki sikap yang positif dan proaktif, dan, ketika melaksanakan tugas, mereka harus setia, mampu bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, dan melindungi kepentingan rumah Tuhan. Bersikap positif dan proaktif adalah kuncinya. Jika engkau selalu pasif, ini adalah masalah. Itu berarti engkau seolah-olah bukan anggota rumah Tuhan, dan engkau bukan sedang melaksanakan tugasmu, melainkan engkau tidak punya pilihan selain melaksanakan tugas atas perintah majikan demi mendapatkan gaji; engkau tidak melaksanakannya secara sukarela. Sekalipun engkau melaksanakan sedikit dari tugas itu, engkau melaksanakannya karena terpaksa, dan engkau melaksanakannya secara pasif. Jika kepentinganmu tidak terlibat, engkau sama sekali tidak akan melaksanakannya, atau jika tidak seorang pun mengawasimu, engkau sama sekali tidak akan melaksanakannya. Tindakan yang negatif dan pasif semacam itu bukanlah perbuatan baik. Oleh karena itu, orang semacam ini sangatlah bodoh. Mereka sangat pasif dalam melakukan hal-hal positif dan melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Mereka tidak melakukan hal-hal yang dapat mereka pikirkan, mereka juga tidak melakukan hal-hal yang mampu mereka lakukan yang membutuhkan waktu dan tenaga, mereka hanya menunggu dan menonton, berpikir bahwa yang terbaik adalah jika orang lain yang melaksanakannya. Ini merepotkan, dan sangat sulit bagi mereka untuk melaksanakan tugas mereka dengan baik. Pertama, bukan karena kualitasmu kurang; kedua, bukan karena pengalamanmu tidak cukup; ketiga, bukan karena engkau tidak mempunyai kondisi yang tepat untuk melakukannya. Engkau mempunyai kualitas untuk melaksanakan pekerjaan ini, dan jika engkau meluangkan waktu serta tenaga, engkau akan mampu melakukannya, tetapi engkau tidak melakukannya, engkau tidak mempersiapkan perbuatan baik. Hal ini sangat disayangkan. Mengapa Aku katakan disayangkan? Karena jika setelah bertahun-tahun kemudian engkau menengoknya kembali, engkau akan merasa menyesal, dan jika engkau ingin kembali ke tahun, bulan, dan hari itu, untuk melakukan pekerjaan itu, segala sesuatu sudah berubah dan waktu sudah berlalu. Kesempatan kedua seperti itu tidak akan engkau dapatkan lagi; ketika kesempatan itu berlalu, itu akan berlalu, ketika hilang, hilanglah sudah. Jika engkau kehilangan kenikmatan daging seperti makan makanan enak atau mengenakan pakaian bagus, hal itu tidak terlalu menjadi soal, karena hal-hal itu hampa, dan tidak berdampak apa-apa terhadap jalan masuk kehidupan atau persiapan perbuatan baikmu, ataupun pada tempat tujuanmu. Namun, jika itu berkaitan dengan sikap Tuhan dan penilaian-Nya terhadapmu, atau bahkan dengan jalan yang engkau tempuh serta tempat tujuanmu, maka kehilangan kesempatan untuk melakukannya sangatlah disayangkan. Karena ini akan meninggalkan noda dan menimbulkan penyesalan dalam jalan hidupmu di masa depan, dan seumur hidup engkau tidak akan pernah memperoleh kesempatan lain untuk menebusnya. Bukankah ini sangat disayangkan? Jika kualitasmu terlalu rendah sehingga engkau tidak mampu menjalankan pekerjaan ini, maka itu bukan hal yang disayangkan—rumah Tuhan bisa mengatur orang lain untuk melakukannya. Jika engkau mampu melakukan pekerjaan ini dengan baik, tetapi engkau tidak melakukannya, maka hal itu benar-benar disayangkan. Ini adalah kesempatan yang diberikan Tuhan kepadamu, tetapi engkau tidak menanggapinya dengan serius, engkau tidak meraih kesempatan ini, dan engkau membiarkannya lepas dari genggamanmu—ini sangat disayangkan! Bagimu, ini disayangkan; bagi Tuhan, ini mengecewakan. Tuhan telah memberimu kualitas yang memadai dan kondisi yang unggul, yang memungkinkanmu untuk melihat beberapa hal dengan jelas dan cakap untuk pekerjaan ini. Namun, engkau tidak memiliki sikap yang benar terhadap tugasmu, engkau tidak memiliki ketulusan, apalagi pengabdian, dan engkau tidak mau berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakannya dengan baik. Ini sangat mengecewakan Tuhan. Jadi, jika engkau malas dan selalu merasa bahwa pekerjaan yang ditugaskan kepadamu merepotkan dan tidak ingin melaksanakannya, dan di dalam hatimu, engkau menggerutu, "Mengapa aku diminta untuk melaksanakannya dan bukan orang lain?" maka ini adalah pemikiran yang bodoh. Ketika suatu tugas diberikan kepadamu, itu bukanlah peristiwa yang malang, itu adalah kehormatan, dan itu adalah peninggian Tuhan. Engkau seharusnya menerimanya dengan gembira dan melaksanakan tugas yang seharusnya kaulaksanakan; itu tidak akan membuatmu kelelahan. Sebaliknya, jika engkau melaksanakan tugasmu dengan baik, memahami kebenaran, dan menyelesaikan masalah, di dalam hatimu, engkau akan merasa damai serta aman dan tenang, dan engkau tidak akan mengecewakan Tuhan. Di hadapan Tuhan, engkau akan memiliki iman dan mampu berperilaku dengan cara yang bermartabat dan berintegritas. Jika engkau tidak melaksanakan tugasmu dengan baik dan selalu bersikap asal-asalan, ini adalah pelanggaran, dan sekalipun engkau tidak menyebabkan kerugian apa pun, pelanggaran ini akan meninggalkan penyesalan seumur hidup di dalam hatimu. Pelanggaran ini akan seperti lubang hitam yang tak berdasar; setiap kali memikirkannya, engkau akan merasa sakit dan gelisah, suatu penderitaan yang menusuk hati. Engkau bukan saja tidak akan memiliki kedamaian atau sukacita, tetapi sebaliknya, rasa sakit karena penyesalan dan siksaan akan menyertaimu seumur hidupmu dan tak pernah dapat dihapuskan. Bukankah ini adalah penyesalan yang kekal? Lalu, bagaimana dari perspektif Tuhan? Tuhan menggunakan prinsip-prinsip kebenaran untuk menggolongkan hal ini, jadi natur dari hal ini jauh lebih serius daripada yang kaurasakan. Apakah engkau mengerti? (Ya.) Jadi, Tuhan akan mempertimbangkan kinerja sehari-harimu secara menyeluruh, serta sikapmu terhadap kebenaran dan tugasmu, untuk memandang jalan yang kautempuh. Misalkan sikapmu terhadap kebenaran dan tugasmu selalu asal-asalan, dan di luarnya, engkau menyatakan janji tetapi di balik layar, engkau tidak menerapkannya, dan engkau berlambat-lambat serta menunda-nunda, dan tidak merasakan betapa mendesaknya hal ini, serta tidak memiliki sikap positif yang memperhatikan maksud-maksud Tuhan. Sekalipun di luarnya, engkau tidak menyebabkan kekacauan dan gangguan, tidak berbuat jahat, tidak bertindak sewenang-wenang dan tidak merajalela melakukan kejahatan, dan engkau terlihat sebagai orang yang taat aturan dan berperilaku cukup baik, engkau tidak secara positif dan proaktif melakukan apa yang Tuhan tuntut terhadapmu, tetapi sebaliknya engkau licik dan bermalas-malasan, serta menghindar agar tidak perlu melakukan pekerjaan nyata. Dalam hal itu, jalan apakah yang sebenarnya sedang kautempuh? Sekalipun itu bukan jalan antikristus, setidaknya, itu adalah jalan pemimpin palsu.
Ada orang-orang yang tampaknya memiliki ketundukan dalam melaksanakan tugas mereka, melakukan apa pun yang diatur oleh Yang di Atas. Namun, ketika ditanya, "Apakah engkau melaksanakan tugasmu dengan bersikap asal-asalan? Apakah engkau melaksanakannya berdasarkan prinsip?" mereka tidak dapat memberikan jawaban yang pasti, hanya berkata, "Aku melakukan seperti yang diinstruksikan oleh Yang di Atas dan tidak berani merajalela melakukan kejahatan." Ketika ditanya apakah mereka telah memenuhi tanggung jawab mereka, mereka berkata, "Aku toh melakukan apa yang seharusnya kulakukan." Mereka selalu memiliki sikap semacam ini dalam melaksanakan tugas mereka, tidak terburu-buru dan acuh tak acuh. Meskipun tidak muncul masalah yang jelas, jika diukur berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, pelaksanaan tugas mereka tidak efisien dan tidak memenuhi standar. Namun, mereka tidak peduli. Mereka tetap bertindak dengan cara asal-asalan yang sama seperti yang mereka lakukan di masa lalu, dan mereka masih sama pasifnya dalam hal-hal yang seharusnya mereka lakukan dengan inisiatif; mereka belum berubah sama sekali. Bukankah mereka bersikap keras kepala dan bebal? Mereka selalu mempertahankan sikap ini: "Engkau mungkin memiliki seribu rencana, tetapi aku memiliki aturanku sendiri. Memang beginilah aku. Mari kita lihat apa yang bisa kaulakukan terhadapku. Inilah sikapku!" Mereka tidak melakukan sesuatu yang sangat licik atau jahat, tetapi mereka juga hanya melakukan sedikit perbuatan baik. Menurutmu, jalan apa yang sedang mereka tempuh? Baikkah sikap semacam ini terhadap kepercayaan kepada Tuhan dan terhadap tugas? (Tidak.) Dalam Kitab Wahyu di Alkitab, Tuhan berfirman seperti ini: "Jadi karena engkau suam-suam kuku dan tidak panas atau dingin, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku" (Wahyu 3:16). Suam-suam kuku, tidak dingin dan tidak panas; baikkah sikap seperti ini? (Tidak.) Di benaknya, orang semacam ini juga memiliki perhitungannya sendiri: "Asalkan aku tidak melakukan kejahatan atau mengacaukan pekerjaan gereja dalam pelaksanaan tugasku, aku tidak akan dikutuk. Jika melaksanakan tugasku dengan baik terlalu melelahkan dan menuntut terlalu banyak penderitaan, aku tidak akan melakukannya. Aku tidak akan membuat diriku kelelahan, tetapi aku juga tidak akan melakukan kesalahan besar. Dengan begitu, aku tidak akan dikeluarkan atau disingkirkan, dan aku masih jauh lebih baik daripada mereka yang tidak melaksanakan tugas. Jadi, aku tetap suam-suam kuku, tidak dingin dan tidak panas. Apa pun yang kauminta untuk kulakukan, aku akan melakukannya. Namun, jika engkau tidak menyuruhku melakukan sesuatu, aku tidak akan ikut campur. Dengan cara ini, aku tidak akan kelelahan, dan terlebih lagi, orang tidak akan bisa mencari-cari kesalahanku. Pendekatan ini bagus!" Baikkah cara berperilaku seperti ini? (Tidak.) Engkau tahu bahwa itu tidak baik, jadi bagaimana seharusnya penerapanmu berubah? Jika engkau tidak pernah berusaha menempuh jalan mengejar kebenaran dan tetap bersikeras hidup berdasarkan falsafah Iblis, engkau ditakdirkan tidak memiliki harapan untuk memperoleh keselamatan. Jika engkau berperilaku di dunia dengan cara ini, engkau memang akan memiliki keuntungan. Falsafahmu dan sikapmu dalam berinteraksi dengan orang lain akan melindungimu, dan engkau juga tidak akan menyinggung orang-orang. Terlebih lagi, orang-orang kelas atas yang memiliki prestise dan reputasi tidak akan merasa bahwa engkau adalah ancaman bagi mereka dan mereka semua akan sangat menghargaimu. Orang-orang kelas bawah yang tidak memiliki status juga tidak akan berani menyinggungmu. Jadi, engkau akan cukup populer; baik bagi orang-orang kelas bawah maupun orang-orang kelas atas, engkau akan menjadi seseorang yang berusaha mereka menangkan, engkau akan menjadi rebutan banyak orang, dan engkau akan mampu bergaul dengan semua kalangan, tinggi dan rendah, baik dan jahat, dengan mudah. Namun, jika engkau masih menggunakan sikap semacam ini dalam berinteraksi dengan orang lain di rumah Tuhan dan di hadapan Tuhan, itu tidak akan berhasil. Segala macam prinsip yang berkaitan dengan kebenaran menuntut suatu sikap darimu, dan sikap ini antara benar atau salah, hitam atau putih, tepat atau tidak tepat; sikap ini sangat jelas, dan sangat berprinsip. Itu menuntutmu untuk memiliki pendirian dan sudut pandang yang akurat, dan bukan sikap yang mengambil jalan tengah. Mereka yang bersikap mengambil jalan tengah tidak mampu tetap teguh di hadapan kebenaran. Jangan mengira, "Lihatlah betapa pintarnya cara hidupku. Aku belajar melindungi diriku sendiri dengan menggunakan metode ini sejak aku masih kecil, dan melihat kembali kehidupanku sampai sekarang, aku merasa metode ini sangat nyata. Setelah percaya kepada Tuhan, aku masih hidup berdasarkan metode ini. Selama bertahun-tahun aku percaya kepada Tuhan, aku belum pernah dipangkas, aku belum pernah gagal secara signifikan dalam melaksanakan tugasku, aku belum pernah mengalami pemurnian atau ujian besar apa pun, dan Tuhan tidak pernah mengutuk atau membenci dan menolakku. Lihatlah betapa suksesnya aku dalam caraku berperilaku, betapa terampilnya aku dalam hal itu!" Engkau salah! Engkau tidak tahu cara berperilaku; engkau menggunakan cara yang licik untuk menyikapi setiap hal dan menyikapi kebenaran. Metode ini sepenuhnya salah, dan engkau tidak mampu tetap teguh dengan melakukannya. Jangan memiliki pola pikir yang mengandalkan keberuntungan, dengan berpikir, "Aku terbiasa melakukan ini dan selalu berhasil. Aku tidak pernah gagal, dan tidak pernah kehilangan harga diri atau menunjukkan ketidaktahuanku. Sekarang setelah aku percaya kepada Tuhan, aku akan tetap tetap menggunakan strategi yang paling canggih ini untuk berinteraksi dengan orang lain." Kukatakan bahwa engkau bodoh! Mengapa Tuhan mengucapkan begitu banyak firman untuk menyelamatkan manusia? Tepatnya itu adalah untuk memungkinkan orang, di bawah bimbingan firman ini, untuk memahami apa jalan yang benar dalam hidup dan jalan seperti apa yang seharusnya orang tempuh; itu adalah untuk membiarkanmu memilih, bukan untuk membiarkanmu bersikap santai dengan memanfaatkan peluang di sini. Jika itu adalah untuk membiarkanmu bersikap santai dengan memanfaatkan peluang, Tuhan tidak akan mengucapkan firman ini atau melakukan pekerjaan ini. Mengapa dalam persekutuan kita tentang berbagai hal, semua hal yang bertentangan dengan kebenaran dijelaskan dengan sangat gamblang? Tepatnya untuk memberitahumu apa itu hal positif dan apa itu hal negatif, agar engkau mampu membedakannya dengan jelas dan melihatnya dengan gamblang. Hal positif dan hal negatif sepenuhnya terbuka, tersingkap, dan transparan di hadapan Tuhan; semua itu tidaklah kabur. Oleh karena itu, Tuhan menuntutmu untuk bersikap jelas dalam melakukan apa pun dan dalam memilih jalanmu. Sikapmu harus jelas, dan pemikiran serta sudut pandangmu harus jelas; tidak boleh ada yang ambigu. Hal-hal yang berkaitan dengan kebenaran dan prinsip-prinsip kebenaran tidak mengandung sesuatu yang ambigu; hitam adalah hitam, putih adalah putih, ya adalah ya, tidak adalah tidak. Kebohongan, sekalipun diucapkan seribu kali, tetaplah kebohongan dan tidak akan pernah bisa menjadi kebenaran. Kebenaran, sekalipun hanya sedikit orang di dunia yang menerimanya, atau jika banyak bangsa menolak dan mengutuknya, tetaplah kebenaran. Kebenaran akan selalu menjadi kebenaran dan sama sekali tidak akan menjadi kekeliruan atau ajaran sesat. Sebanyak apa pun orang yang mengikuti hal-hal negatif yang berasal dari Iblis atau berapa tahun pun hal-hal itu telah menjadi tren duniawi, semua itu tetaplah hal negatif dan tetap berasal dari Iblis; semua itu tidak akan pernah berubah menjadi hal positif. Sebaliknya, hal positif, sekalipun itu diserang, ditekan, dan dikutuk di dunia ini, tetap merupakan hal positif dan tidak akan pernah menjadi hal negatif. Tuhan selamanya adalah Tuhan, selamanya adalah perwujudan keadilan, dan selamanya adalah representasi dari semua hal positif. Status Tuhan tidak berubah, dan esensi-Nya tidak berubah. Sementara itu, Iblis selamanya adalah Iblis, selamanya adalah perwujudan kejahatan, selamanya adalah representasi dari poros kejahatan, selamanya negatif, dan tidak akan pernah menjadi hal positif.
Ada orang-orang yang berkata, "Engkau harus fleksibel hidup di gereja. Jangan terlalu condong ke arah mana pun. Jangan menerima kebenaran, tetapi jangan juga muak terhadapnya; jangan menyinggung tokoh-tokoh positif ataupun tokoh-tokoh negatif. Yang terbaik adalah menjadi orang yang bersikap netral. Aku tidak menentang hal-hal positif, dan aku tidak mengkritik hal-hal negatif. Aku tidak menjilat atau berusaha mencari muka kepada orang-orang yang mengejar kebenaran, dan aku juga tidak mendekati mereka. Aku juga tidak menjauhkan diriku dari antikristus. Apa yang bisa kaulakukan terhadapku? Lihatlah betapa jelasnya aku dalam memahami kehidupan!" Apakah ini memahami dengan jelas? Ini bukanlah memahami dengan jelas; ini adalah kebodohan. Ini adalah keadaan bingung dan tidak mampu membedakan yang benar dari yang salah. Orang semacam itu adalah orang yang bingung. Kuberitahukan kepadamu, orang yang bermuka dua semacam ini sama sekali tidak baik. Apa yang akan menjadi hasil akhir dari hidup dengan cara ini? (Mereka tidak akan memiliki kesudahan dan tidak memiliki tempat tujuan.) Mereka akan menghancurkan tempat tujuan mereka sendiri. Meskipun mereka tidak menentang hal-hal positif, pada esensinya, mereka juga tidak menerima hal-hal positif. Tidak menentang tidaklah sama dengan menerima, dan tidak mengkritik hal-hal negatif tidaklah sama dengan melepaskannya. Apakah menurutmu dengan tidak menerima hal-hal positif dan tidak mengkritik hal-hal negatif, engkau telah melepaskan hal-hal negatif dan sudut pandang yang negatif? Engkau tidak dapat melepaskannya. Hanya dengan menerima hal-hal positif dan menerima kebenaran, barulah pemikiran dan sudut pandang negatif yang orang miliki, serta pemikiran dan sudut pandang jahat yang berasal dari Iblis, dapat secara bertahap dilepaskan dan dihancurkan; hanya dengan demikian, barulah orang dapat menerima pemikiran dan sudut pandang yang positif, beserta dengan penerapan, wawasan, pemahaman, dan kriteria yang sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Dengan kata lain, jika engkau ingin menerima pemikiran dan sudut pandang yang positif, jika engkau ingin menerima kebenaran, jika engkau ingin kebenaran masuk ke dalam dirimu dan menjadi hidupmu, engkau harus terlebih dahulu mengosongkan apa yang ada di dalam dirimu, lalu menerima kebenaran dan membiarkan kebenaran itu masuk ke dalam dirimu dan berkuasa dalam hatimu. Inilah yang dimaksud dengan memiliki kebenaran sebagai hidup. Mengejar kebenaran diterapkan dengan cara seperti ini. Tujuan utama percaya kepada Tuhan adalah untuk memperoleh kebenaran. Engkau harus mampu membedakan berbagai pemikiran dan sudut pandang yang bertentangan dengan kebenaran. Terutama jika engkau adalah jenis orang yang mengikuti falsafah Iblis, engkau harus melepaskan pemikiran dan sudut pandang licik dalam sikap yang mengambil jalan tengah, dan secara sadar memberontak terhadapnya. Ketika pemikiran dan sudut pandang semacam itu muncul dalam situasi yang kauhadapi, engkau harus menyadari bahwa itu salah dan engkau harus berpikir: "Apa yang firman Tuhan katakan? Apa yang Tuhan tuntut? Cara bertindak mana pun yang sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran, aku akan berinisiatif dan berusaha untuk bertindak sesuai dengannya, tidak membiarkan pemikiran dan sudut pandang dalam sikap yang mengambil jalan tengah mengendalikanku atau menghalangiku untuk menerapkan kebenaran. Sebaliknya, aku harus membiarkan firman Tuhan, kebenaran, menjadi kriteria dalam caraku berperilaku dan bertindak, serta dalam pelaksanaan tugasku." Menerapkan kebenaran dengan cara seperti ini akan mendatangkan hasil yang berbeda. Sekalipun itu adalah perkara yang sangat kecil dan tidak layak untuk diingat oleh Tuhan, setidaknya, Tuhan tidak akan mengutuknya. Seiring terkumpulnya tindakanmu sedikit demi sedikit dengan cara seperti ini, perbuatan baikmu akan berangsur-angsur dipersiapkan sedikit demi sedikit. Jika tindakanmu dapat dianggap sebagai perbuatan baik di mata Tuhan, akan ada harapan bagimu. Engkau akan mulai memiliki arah dan tujuan yang benar dan positif, dan engkau akan mulai menjadi orang yang positif, orang yang tepat. Dengan cara ini, engkau akan menjauhkan dirimu dari jalan kehancuran yang menuju ke neraka dan berangsur-angsur berbalik menuju jalan yang mengarah ke kerajaan surga. Ini adalah hasil yang baik dari orang yang mampu berbalik. Apakah ini mudah dicapai? Itu bergantung pada sejauh mana orang mencintai kebenaran. Jika engkau melakukan kesalahan lalu hanya berkata: "Aku benar-benar benci diriku! Bagaimana mungkin aku melakukan hal sehina dan setercela ini? Aku benar-benar ingin menampari wajahku sendiri!" hanya membenci dirimu sendiri, itu tidak ada gunanya. Hal yang terpenting adalah ketika engkau melakukan kesalahan, engkau harus mampu membedakan mana yang salah, apa yang mendorongmu melakukannya, mengapa engkau tidak mampu menerapkan kebenaran, apa akar penyebabnya, serta apa dasar dan prinsip dari tindakanmu itu. Yang juga penting adalah apakah ketika menghadapi suatu hal, engkau secara sadar bertindak menurut firman Tuhan dan secara sadar memberontak terhadap pikiran serta pandangan Iblismu, terhadap ambisi dan keinginanmu, serta terhadap niat dan rencanamu. Jika semua ini dengan sadar engkau lakukan, maka engkau telah menyiapkan perbuatan baik, dan ini sangat baik, dan berarti engkau telah mendapatkan sesuatu. Baikkah hasil semacam ini? Inikah hasil yang ingin engkau semua peroleh? Inikah yang ingin engkau semua kejar? (Ya.) Sudut pandang seperti apa yang dimiliki kebanyakan orang sekarang ini? Sudut pandang ini: "Aku tidak berbuat jahat atau menyebabkan kekacauan dan gangguan. Asalkan aku tidak dikeluarkan dari gereja tugas penuh waktu, semuanya baik-baik saja. Meskipun aku belum mempersiapkan banyak perbuatan baik, dan dalam tugasku aku tidak terlalu setia, tidak memiliki banyak ketulusan, dan tidak dengan sungguh-sungguh menerapkan berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, asalkan aku tidak berbuat jahat atau tidak menyebabkan kekacauan dan gangguan, bukankah itu sudah cukup?" Bagaimana sudut pandang ini? Ini adalah pemikiran dan sudut pandang yang bobrok; ini adalah pemikiran dan sudut pandang yang tidak mencari kemajuan. Engkau sama sekali tidak boleh berpikir bahwa asalkan engkau tidak berbuat jahat atau menyebabkan kekacauan dan gangguan, engkau adalah orang baik, orang yang mulia, engkau mampu tetap teguh, dan apa yang kaulakukan sesuai dengan kebenaran. Kuberitahukan kepadamu, itu salah. Ini adalah cara berpikir yang bodoh! Tidak berbuat jahat tidak sama dengan menyiapkan perbuatan baik. Tidak berbuat jahat dan menyiapkan perbuatan baik adalah dua konsep yang berbeda. Melaksanakan tugas tanpa berbuat jahat adalah hal yang memang seharusnya dilakukan oleh makhluk ciptaan; itu adalah perwujudan yang memang seharusnya dimiliki oleh orang yang mempunyai hati nurani dan akal budi dari kemanusiaan yang normal. Misalnya, ada orang berkata: "Ada orang yang melakukan pembunuhan, tetapi aku tidak melakukannya; orang itu mencuri barang milik orang lain, tetapi aku tidak melakukannya. Itu berarti aku adalah orang baik." Apakah hal itu pantas untuk dibanggakan? Apakah pernyataan mereka benar? (Tidak.) Ini berarti mencampuradukkan konsep. Tidak menjadi pencuri, tidak melakukan pembunuhan atau pembakaran, serta tidak terlibat dalam hubungan seksual terlarang, tidak sama dengan menjadi orang baik. Tidak berbuat jahat atau melanggar hukum adalah konsep yang berbeda dengan menjadi orang baik. Menjadi orang baik mempunyai standar tersendiri. Tidak berbuat jahat dan menyiapkan perbuatan baik juga merupakan dua konsep yang terpisah. Melaksanakan tugasmu tanpa melakukan kejahatan adalah sesuatu yang harus dicapai sebagai manusia normal. Namun, mempersiapkan perbuatan baik berarti bahwa engkau harus secara proaktif dan positif menerapkan kebenaran dan melaksanakan tugasmu berdasarkan tuntutan Tuhan dan prinsip-prinsip kebenaran. Engkau harus memiliki kesetiaan, bersedia menanggung kesukaran dan membayar harga, bersedia bertanggung jawab, serta mampu bertindak secara positif dan proaktif. Semua tindakan yang dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip ini pada dasarnya adalah perbuatan baik. Entah perbuatan baik itu besar atau kecil, entah itu layak diingat orang atau tidak, entah itu begitu dihargai oleh orang-orang atau dianggap tidak penting, atau entah orang-orang menganggapnya layak diperhatikan atau tidak, di mata Tuhan, semuanya adalah perbuatan baik. Jika engkau telah mempersiapkan perbuatan baik, pada akhirnya hal itu akan mendatangkan berkat bagimu, bukan malapetaka. Ada orang yang sama sekali tidak mempersiapkan perbuatan baik apa pun dan hanya merasa puas dengan hal berikut: "Aku melakukan apa pun yang diperintahkan kepadaku dan pergi ke mana pun aku disuruh pergi. Aku tidak pernah berbicara atau bertindak semena-mena, dan aku tidak pernah dengan nakal menimbulkan masalah atau menyebabkan kekacauan dan gangguan. Aku benar-benar taat dan berkelakuan baik." Mereka selalu mempertahankan sikap semacam ini. Mereka tidak secara aktif mencari kebenaran atau tidak menaati prinsip dalam pelaksanaan tugas mereka. Ketika menemukan penyimpangan dan kesalahan mereka sendiri, mereka tidak segera memperbaiki atau mengubahnya. Ketika mendapati bahwa mereka telah memberontak dan memperlihatkan watak yang rusak, mereka tidak pernah merenungkan diri sendiri, mereka juga tidak secara aktif mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah tersebut; sebaliknya, mereka hanya melakukan apa pun yang mereka inginkan. Meskipun mereka tidak melakukan kejahatan besar apa pun yang akan menyebabkan kepentingan rumah Tuhan mengalami kerugian, mereka tetap telah memengaruhi kemajuan pekerjaan gereja. Paling banter, pelaksanaan tugas mereka hanyalah berjerih payah, dan pada dasarnya, jerih payah tidak memenuhi syarat sebagai perbuatan baik. Jadi, bagaimana perbuatan baik pada akhirnya didefinisikan? Itu adalah ketika apa yang kaulakukan setidaknya bermanfaat bagi jalan masuk kehidupanmu sendiri dan saudara-saudari, serta bermanfaat bagi pekerjaan rumah Tuhan. Jika itu bermanfaat bagi dirimu sendiri, orang lain, dan rumah Tuhan, berarti kinerjamu di hadapan Tuhan itu efektif dan diperkenan oleh Tuhan. Tuhan akan memberimu nilai. Jadi, evaluasilah hal-hal ini: Berapa banyak perbuatan baik yang telah kaupersiapkan selama tahun-tahun ini? Dapatkah perbuatan-perbuatan baik ini mengimbangi pelanggaranmu? Setelah mengimbanginya, berapa banyak perbuatan baik yang tersisa? Engkau harus menilai dirimu sendiri dan memiliki pemahaman yang kuat tentang hal ini; engkau tidak boleh bingung tentang hal ini.
Katakan kepada-Ku, apakah persekutuan-Ku mengenai hal-hal ini diperlukan? (Ya.) Aku harus mengucapkan firman ini kepadamu, dan memberimu beberapa petunjuk. Tujuan memberimu petunjuk bukanlah untuk menghilangkan semangatmu, bukan pula untuk mentertawakanmu, apalagi untuk mengutukmu, melainkan untuk memberimu pengingat, untuk membunyikan lonceng peringatan, agar engkau semua tahu—saat ini, sekarang ini, pada masa ini—dalam situasi apa engkau semua berada, seperti apa keadaanmu, dan apa saja potensi bahayanya. Engkau semua harus jelas mengenai hal-hal ini di dalam hatimu. Dalam kepercayaan kepada Tuhan, orang harus terus-menerus dan sering memeriksa seperti apa keadaan mereka di hadapan Tuhan. Mereka harus terus-menerus dan dengan jelas mengetahui seperti apa hubungan mereka dengan Tuhan, apakah terdapat pertentangan dan penghalang di antara mereka dan Tuhan, apakah mereka memiliki gagasan dan kesalahpahaman tentang Tuhan, apakah mereka memiliki tuntutan yang tidak masuk akal terhadap Tuhan, dan bagaimana Tuhan memandang perwujudan mereka secara keseluruhan. Orang harus memahami dan mengetahui hal-hal ini; ini sangat bermanfaat bagi jalan masuk kehidupan mereka. Tujuan menerapkan dengan cara seperti ini adalah untuk memastikan bahwa orang mampu bertindak secara akurat sesuai dengan maksud Tuhan. Jangan mengambil jalan yang salah, jangan merasa puas dengan diri sendiri, dan jangan menipu diri sendiri maupun orang lain. Tidak mengambil jalan yang salah berarti tidak mengikuti jalanmu sendiri yang menyimpang. Engkau mengira kinerjamu dalam percaya kepada Tuhan sudah cukup baik, jadi engkau terus berjalan dengan cara ini. Namun, ternyata engkau telah menyimpang dari jalan yang benar; Tuhan telah lama meninggalkanmu, dan Roh Kudus telah berhenti bekerja di dalam dirimu. Tuhan membencimu, tetapi engkau masih mengira engkau sedang baik-baik saja dalam kepercayaanmu: "Aku telah memperoleh hal-hal dari percaya kepada Tuhan. Aku mampu menanggung kesukaran sekarang, aku tidak berbuat jahat sekarang, aku tahu cara menghindarkan diriku menyebabkan kekacauan, dan aku sekarang tahu mengapa mereka yang menyebabkan kekacauan dan gangguan dikeluarkan atau diisolasi, dan mengapa mereka tidak diizinkan untuk melaksanakan tugas." Sekadar mengetahui hal-hal ini tidaklah cukup. Engkau harus tahu bagaimana bertindak agar dapat mengikuti jalan Tuhan, bagaimana menerapkan agar dapat menempuh jalan yang benar, dan bagaimana bertindak agar dapat memperoleh keselamatan. Semua ini sangat penting; engkau harus melakukan peninjauan dan menarik kesimpulan secara berkala. Cukup sekian untuk topik ini. Mari kita lanjutkan mempersekutukan topik yang telah kita persekutukan selama periode ini.
Penerapan Pertama untuk Mengejar Kebenaran: Melepaskan
Melepaskan Penghalang di antara Dirinya dan Tuhan serta Permusuhannya terhadap Tuhan
I. Melepaskan Gagasan dan Imajinasi Orang tentang Tuhan: Melepaskan Gagasan dan Imajinasi Orang tentang Pekerjaan Tuhan
F. Pekerjaan Tuhan Tidak Mengubah Kondisi Bawaan Orang; Tujuannya adalah untuk Mengubah Watak Rusak Mereka
6. Berbagai Perwujudan Kondisi Bawaan, Kemanusiaan, dan Watak yang Rusak
Persekutuan kita selama periode ini adalah tentang topik spesifik yang berkaitan dengan prinsip penerapan "melepaskan" dalam cara mengejar kebenaran, yaitu kondisi bawaan, kemanusiaan, dan watak yang rusak. Setelah bersekutu tentang hal ini beberapa kali, apakah sekarang engkau semua memiliki sedikit kemampuan untuk membedakan beberapa perwujudan dan penyingkapan spesifik yang berkaitan dengan ketiga aspek ini, yaitu kondisi bawaan, kemanusiaan, dan watak yang rusak? (Kemampuanku untuk membedakan hal-hal ini sedikit lebih baik daripada sebelumnya. Sebelumnya, aku sering mencampuradukkan karakter dan watak yang rusak, tetapi melalui beberapa persekutuan Tuhan yang lalu, aku sekarang dapat membedakannya hingga taraf tertentu.) Mengapa perlu membedakan hal-hal ini? (Itu adalah agar kami tahu masalah mana di dalam diri kami yang harus diselesaikan dan masalah mana yang hanya perlu kami sikapi dengan benar.) Bagus sekali. Mempersekutukan dengan terperinci seperti itu membuat perbedaan antara kondisi bawaan, kemanusiaan, dan watak yang rusak menjadi lebih jelas, dan orang-orang memperoleh pemahaman yang lebih jelas tentang watak yang rusak dan perwujudan dari karakter yang sangat buruk, yang merupakan dua hal terpisah. Terutama, orang mampu membedakan antara karakter yang buruk, watak yang rusak, dan kondisi bawaan. Mereka tidak akan menganggap cacat tertentu dalam kemanusiaan sebagai watak yang rusak, dan tentu saja, mereka juga tidak akan menganggap kekurangan dan cacat tertentu dalam kondisi bawaan sebagai watak yang rusak. Ketika orang memiliki kemampuan membedakan ini, mereka menjadi makin jelas tentang berbagai perwujudan watak yang rusak, dan mereka tidak lagi membesar-besarkan masalah yang tidak ada kaitannya dengan watak yang rusak. Pada saat yang sama, mereka juga memiliki pemahaman yang lebih jelas tentang apa sebenarnya watak yang rusak itu. Jadi, dapatkah engkau semua menjelaskan dengan gamblang apa sebenarnya watak yang rusak itu? Apakah watak yang rusak ada hubungannya dengan kondisi bawaan? Apakah watak yang rusak dipengaruhi oleh kondisi bawaan? (Tidak.) Misalkan seseorang berwajah rupawan, berkulit terang, dan memiliki fitur wajah yang proporsional, dapatkah dikatakan bahwa karena dia memiliki penampilan yang baik, dia tidak memiliki watak yang rusak, bahwa kemanusiaannya sesempurna dan semurni penampilannya, bahwa dia sama sekali tidak congkak atau jahat tetapi sangat kudus? Dapatkah dikatakan demikian? (Tidak.) Setelah bersekutu seperti ini, perbedaan di antara ketiga aspek ini—watak yang rusak, kondisi bawaan, dan kemanusiaan—pada dasarnya sudah jelas sekarang, bukan? (Ya.) Hal-hal ini mudah dibedakan.
Terampil dalam Berbisnis
Terakhir kali, kita bersekutu tentang suka berbisnis. Termasuk kategori aspek apakah perwujudan suka dan senang berbisnis ini? (Kondisi bawaan.) Mengapa itu dianggap sebagai kondisi bawaan? (Itu adalah minat dan hobi, jadi itu termasuk kondisi bawaan.) Di satu sisi, itu adalah minat dan hobi; di sisi lain, jika orang suka berbisnis dan memiliki otak bisnis—mereka secara alami terampil dalam hal itu tanpa pernah mengikuti studi profesional, dan mampu memahaminya serta tahu cara menghasilkan uang, menghasilkan keuntungan, menangkap peluang bisnis, dan sebagainya tanpa bimbingan dari orang lain—berarti di dalam kondisi bawaan mereka, orang ini memiliki kelebihan dalam berbisnis. Jika orang secara bawaan memiliki kelebihan ini, itu tentunya adalah kondisi bawaan, dan kondisi bawaan tidak banyak berkaitan dengan pengaruh yang diterima setelah lahir. Engkau lihat, ada orang-orang yang mulai belajar berbisnis pada usia 15 atau 16 tahun saat masih bersekolah. Kapan pun mereka mendapatkan sesuatu yang bagus, mereka memikirkan cara untuk menjualnya. Mereka bahkan menjual hadiah ulang tahun yang diberikan orang tua mereka. Mereka tidak menghabiskan uang saku mereka sendiri, dan sebaliknya, menabung semuanya untuk berbisnis. Pada saat mereka berusia 18 atau 19 tahun, mereka sudah mampu menjalankan usaha bisnis kecil-kecilan. Nilai mereka di sekolah hanya rata-rata, tetapi mereka memiliki otak bisnis, cepat dalam mengalkulasi, dan memiliki kiat khusus dalam berbisnis; ini adalah suatu kelebihan. Suka berbisnis termasuk dalam kategori kelebihan atau minat dan hobi di dalam kondisi bawaan. Bagaimanapun juga, itu adalah salah satu aspek dari kondisi bawaan, dan di sinilah perwujudan suka berbisnis digolongkan. Ada orang-orang yang belum tentu memiliki hobi atau kelebihan yang berkaitan dengan bisnis. Mereka terutama mengandalkan cara mencurangi dan menipu orang saat mereka berbisnis. Mereka tidak menghasilkan uang melalui kerja keras dan upaya mereka sendiri atau dengan menggunakan cara dan metode bisnis yang sah, tetapi justru menggunakan segala bentuk kecurangan dan penipuan serta memanfaatkan celah hukum untuk mencapai tujuan mereka menghasilkan keuntungan dan mendapatkan uang. Masalah macam apa ini? Orang-orang semacam itu selalu menjalankan bisnis dengan cara seperti ini; apakah ini berkaitan dengan hakikat dari kemanusiaan mereka? (Ya.) Apakah kemanusiaan semacam itu baik atau buruk? (Buruk.) Bagaimana buruknya kemanusiaan mereka? Dalam hal kemanusiaan orang-orang semacam itu, secara umum, mereka memiliki karakter yang buruk. Tujuan orang dalam berbisnis selalu untuk menghasilkan uang. Jika engkau menghasilkan uang melalui cara berbisnis yang sah, ini adalah kemampuan yang engkau miliki, dan ini adalah manfaat yang dibawa oleh kelebihan yang telah Tuhan berikan kepadamu. Namun, jika orang tidak mendapatkan uang dan keuntungan melalui cara berbisnis yang sah, tetapi melalui segala bentuk kecurangan dan penipuan, maka orang-orang semacam itu tidak memiliki integritas dan memiliki karakter yang rendah. Apakah orang-orang semacam itu memiliki hati nurani? (Tidak.) Dalam bahasa sehari-hari, hati nurani mereka sudah sepenuhnya busuk; mereka tidak punya hati nurani. Mengapa kita mengatakan mereka tidak punya hati nurani? (Umumnya, orang yang memiliki hati nurani merasakan tuduhan dari hati nurani setelah mereka mencurangi dan menipu orang lain, dan mereka tidak lagi melakukan hal-hal tersebut. Namun, orang yang tidak memiliki hati nurani hanya peduli tentang mendapatkan keuntungan. Hati nurani mereka sama sekali tidak memiliki kesadaran, jadi mereka terus saja melakukan hal-hal tersebut.) Mereka tidak memiliki fungsi hati nurani; dapat juga dikatakan bahwa mereka tidak punya hati nurani. Jika mereka memiliki hati nurani, hati nurani mereka akan berfungsi, dan kemudian setelah menipu seseorang satu kali, mereka akan merasakan teguran dari hati nurani mereka. Meskipun mendapat keuntungan, mereka akan merasa sangat tidak nyaman di dalam hatinya. Ketika mereka membelanjakan uang itu, wajah mereka akan memerah, dan mereka akan merasa gelisah di dalam hatinya, merasa bahwa apa yang mereka lakukan itu kotor dan hina. Jadi, sejak saat itu, mereka tidak akan pernah lagi menipu siapa pun; sebesar apa pun potensi keuntungannya, mereka tidak akan pernah melakukannya. Ini adalah fungsi hati nurani. Namun, mereka yang terampil dalam mencurangi, memperdaya, dan menipu orang lain akan melakukan hal ini setiap kali mereka menginginkannya. Setelah berhasil, mereka tidak merasa bersalah di dalam hatinya ketika membelanjakan uang tersebut. Begitu uang itu ada di tangan mereka, mereka berpikir bahwa mereka pintar dan brilian, serta merasa sangat senang dan sangat bangga atas keberhasilan strategi penipuan mereka. Mereka menjual barang dengan timbangan yang kurang, mereka menjual obat palsu, ginseng palsu, daging yang disuntik air; segala sesuatu yang mereka jual telah dioplos dan bersifat menipu. Setiap usaha bisnis yang mereka jalankan melibatkan taktik penipuan dan jebakan, dan semua uang yang mereka hasilkan diperoleh melalui cara-cara curang. Apa pun bisnis yang mereka geluti, mereka tidak pernah menjalankannya dengan cara yang taat aturan dengan mematok harga yang semestinya. Engkau lihat, ada orang-orang yang secara khusus menipu pelanggan tetap saat berbisnis. Sebagai contoh, jika engkau sering membeli dari mereka dan mereka tahu engkau punya uang, mereka akan mematok harga 100 yuan kepadamu untuk barang yang mereka jual kepada orang lain seharga 10 yuan. Mereka bahkan akan berkata, "Aku tidak menjual ini kepada orang lain. Aku menyimpannya hanya untukmu. Lihat betapa kuatnya hubungan kita? Kau sangat untung membelinya, bukan?" Mereka menipu orang dan bahkan membuat orang tersebut merasa berterima kasih. Betapa terampilnya mereka sebagai penipu! Orang yang tidak memiliki rasa tertuduh dalam hati nuraninya tidak merasakan teguran atau kesadaran dalam hati nuraninya apa pun yang mereka lakukan, jadi dapat dikatakan bahwa orang-orang semacam itu tidak punya hati nurani. Seperti apa pun nalar mereka, dinilai dari hati nurani mereka saja, orang-orang ini tidak memiliki kemanusiaan dan memiliki karakter yang hina. Sehina apa? Mereka tidak memiliki hati nurani dan tidak memiliki kemanusiaan. Artinya, mereka tidak memiliki kesadaran, fungsi, dan kendali hati nurani yang dimiliki orang normal. Tanpa kendali ini, mereka mampu melakukan apa saja. Dalam berbisnis, mereka dapat terlibat dalam kecurangan dan penipuan; dalam operasi bisnis apa pun, mereka dapat merekayasa berbagai hal dan melanggar aturan. Mereka dapat melakukan tindakan tidak bermoral apa pun. Bahkan ketika membangun rumah, mereka menggunakan bahan-bahan berkualitas rendah. Engkau lihat, apa penyebab dari gedung-gedung miring dan bangunan runtuh di Tiongkok daratan itu? Itu karena, demi meraup keuntungan yang sangat besar, para pembangun menggunakan rasio campuran beton dan teknik penggunaan tulangan baja yang di bawah standar, yang telah memengaruhi kondisi bangunan tersebut. Akibatnya, tidak lama setelah orang-orang pindah ke sana, beberapa bangunan runtuh. Jika terjadi gempa bumi berkekuatan lima atau enam magnitudo, sebagian besar bangunan itu akan runtuh, dan akibatnya tidak akan terbayangkan. Para kontraktor berhati busuk itu sama sekali tidak punya hati nurani. Saat melihat orang-orang mati, mereka segera mencari para pelindung mereka untuk mengambil tindakan penanggulangan guna mengatasi situasi tersebut. Jika para pelindung mereka cukup kuat dan memiliki tindakan penanggulangan, hal tersebut bisa berhasil ditutupi. Beberapa kematian itu dianggap sepele dengan membayar sejumlah biaya pemakaman, dan tak seorang pun akan mampu meminta pertanggungjawaban mereka sama sekali. Tidak ada kesadaran dalam hati nurani mereka; jangankan beberapa kematian, sekalipun puluhan, ratusan, atau puluhan ribu orang yang mati, itu tidak akan berarti apa pun bagi mereka. Di mata mereka, nyawa manusia tidak ada bedanya dengan nyawa semut; nyawa manusia tidak berarti apa-apa. Katakan kepada-Ku, apakah orang-orang semacam itu memiliki hati nurani? Orang-orang yang tidak memiliki hati nurani dapat dikatakan tidak memiliki kemanusiaan. Jadi, apakah tindakan mereka mencurangi dan menipu orang lain saat berbisnis merupakan penyingkapan watak yang rusak? (Ya.) Ada watak rusak yang spesifik dalam hal ini. Watak rusak apa? (Kekejaman dan kelicikan.) Watak rusak mereka yang khas dan representatif adalah kelicikan dan kejahatan. Mereka yang mampu melakukan segala bentuk kecurangan dan penipuan sangatlah licik. Terkadang, cara-cara yang mereka gunakan untuk menipu dan mencurangi orang adalah cara-cara yang tidak akan pernah engkau duga, dan engkau bahkan mungkin merasa cukup senang saat ditipu oleh mereka, berpikir bahwa mereka sedang memperlakukanmu dengan sangat baik. Setelah waktu yang lama, barulah engkau tersadar dan tiba-tiba menyadari bahwa engkau telah diperdaya. Lalu ketika engkau pergi mencari mereka, mereka sudah menghilang tanpa jejak. Betapa canggihnya cara mereka menipu orang! Pada tahun 1980-an dan 1990-an, industri dan perdagangan relatif maju di Guangdong, Tiongkok. Peralatan rumah tangga tertentu yang relatif canggih belum mencapai daerah pedalaman, jadi beberapa orang dari pedalaman bepergian ke Guangdong untuk membelinya demi mengikuti tren. Ketika para pedagang menyadari bahwa para pelanggan ini berasal dari daerah pedalaman, mereka mulai berpikir bahwa ini adalah kesempatan mereka untuk melakukan penipuan. Orang-orang dari pedalaman membeli tape recorder, televisi, dan peralatan lainnya. Setelah pembayaran dilakukan, para penjual bahkan memberi tahu mereka berapa lama masa garansinya dan berkata jika ada masalah dengan peralatan tersebut, mereka dapat kembali untuk menukarnya, yang membuat para pelanggan merasa bahwa layanan purnajualnya cukup baik. Saat mereka hendak pergi, para penjual mengatakan bahwa mereka perlu mengemas peralatan tersebut, dan kemudian mereka membawanya ke belakang untuk membungkusnya. Namun, ketika para pelanggan tiba di rumah dan membuka kemasannya, mereka tidak menemukan apa pun selain batu bata dan batu di dalamnya, bukannya peralatan rumah tangga; saat itu barulah mereka menyadari bahwa para pedagang itu telah menukar barang tersebut, dan bahwa mereka telah ditipu. Perjalanan untuk kembali mencari pedagang tersebut akan terlalu jauh, dan juga akan menghabiskan banyak biaya perjalanan, jadi mereka hanya bisa menanggung kerugian dan memetik pelajaran dari pengalaman tersebut: Ketika membeli sesuatu, uang harus diserahkan bersamaan dengan diterimanya barang tersebut, dan semuanya harus diperiksa secara langsung untuk memastikan bahwa barang yang didapat sesuai dengan yang dibayar. Hal semacam ini sering terjadi pada orang yang sering melakukan perjalanan bisnis. Sekarang, insiden semacam itu bukan lagi sekadar kejadian sesekali di satu kota, melainkan telah menjadi hal yang umum. Insiden kecurangan dan penipuan dalam segala bentuk makin meningkat, dan makin banyak orang yang berbisnis melakukan penipuan. Mengapa sebelumnya tidak banyak hal seperti ini? Itu semata-mata karena, pada saat itu, beberapa orang belum menemukan taktik penipuan ini. Begitu taktik penipuan ini mulai marak di masyarakat, para pedagang mulai meniru dan mengikutinya satu demi satu, dan mereka semua mulai melakukannya. Mereka semua mulai melakukannya; apakah itu berarti hati nurani mereka menjadi rusak belakangan? Tidak, orang-orang ini pada dasarnya tidak memiliki banyak hati nurani. Hanya saja sebelumnya, karena tingkat pengalaman atau pengetahuan mereka, mereka masih belum tahu cara menipu dan mencurangi orang lain seperti ini. Kemudian, dengan rusaknya iklim sosial, mereka menjadi makin kejam dan tidak berbelas kasihan dalam melakukan hal-hal semacam itu, dan natur dari tindakan mereka menjadi makin hina.
Orang-orang seperti ini menggunakan cara-cara mencurangi dan menipu saat berbisnis, jadi apakah mereka juga akan mencurangi dan menipu orang saat melakukan hal-hal lain? (Ya.) Cara dan metode mereka dalam berbisnis serta sikap mereka terhadap hal-hal seperti mencurangi dan menipu merepresentasikan kemanusiaan mereka. Mereka memiliki kemanusiaan semacam ini, jadi apa pun yang mereka lakukan—sekalipun itu bukan mencurangi dan menipu orang lain—itu tidak akan lebih baik dari hal tersebut. Karena kemanusiaan semacam ini adalah dasar bagi mereka dalam melakukan hal-hal ini, apa pun yang mereka lakukan, naturnya pada dasarnya sama; mereka sama sekali tidak memiliki kesadaran hati nurani. Ketika orang-orang ini menjadi pejabat, cara mereka berbicara dan bertindak sama seperti saat mereka berbisnis. Mereka tidak memiliki fungsi hati nurani, mereka mencurangi dan menipu, mencelakai dan membunuh orang, serta melanggar hukum; mereka mampu melakukan apa pun yang bertentangan dengan kemanusiaan, moralitas, dan keadilan moral. Mereka berperilaku seperti ini dalam bisnis serta dalam politik. Jika mereka melakukan penelitian ilmiah, dapatkah kemanusiaan mereka berubah karena bidang yang mereka geluti berbeda? Tidak. Katakan kepada-Ku, apakah orang-orang semacam itu memiliki keunggulan dalam hal melaksanakan pekerjaan urusan umum di gereja? Ada orang yang berkata, "Si Anu pernah menjadi bos besar atau CEO di dunia sekuler. Caranya berbisnis sangatlah lihai, tetapi hanya agak kurang pantas; terkadang dia mencurangi dan menipu orang. Aku tidak tahu apakah mengangkat orang semacam ini untuk melakukan pekerjaan urusan umum di gereja tepat atau tidak." Katakan kepada-Ku, apakah orang semacam ini orang baik? Apakah mereka benar-benar orang berbakat? (Tidak.) Ada orang yang selalu menganggap individu-individu ini sebagai orang berbakat, dan merekomendasikan semua orang yang memiliki sedikit prestise di tengah masyarakat, dengan mengatakan bahwa si Anu adalah seorang CEO atau eksekutif senior, bahwa individu lain adalah salah satu dari sepuluh pemuda paling berprestasi di tengah masyarakat atau pekerja teladan, dan bahwa yang lainnya memegang gelar magister atau doktor, atau pernah bekerja sebagai pengacara atau jurnalis, atau sebagai pegawai negeri atau pejabat. Orang-orang yang merekomendasikan individu-individu ini sebenarnya tidak memiliki pemahaman rohani dan tidak memahami kebenaran. Mereka hanya merasa bahwa berbagai pekerjaan di rumah Tuhan perlu ditangani oleh orang-orang yang berbakat dan kaum elite dari semua lapisan masyarakat, jadi mereka merekomendasikan orang-orang ini untuk mengambil peran sebagai pengawas untuk pekerjaan-pekerjaan ini. Setelah orang-orang ini menjadi pengawas, mereka tidak hanya gagal untuk menangani pekerjaan dengan baik, tetapi mereka juga sangat mengacaukannya, yang mengakibatkan kekacauan terjadi di mana-mana dalam pekerjaan gereja. Itu benar-benar konyol! Yang bisa dilakukan orang-orang ini hanyalah berani bertindak gegabah dengan tidak bernalar, merajalela melakukan kejahatan, bersikap sembrono dan nekat, serta dengan lancang melaksanakan pekerjaan tertentu. Selain itu, tidak ada satu pun pekerjaan yang benar-benar mampu mereka lakukan sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Ciri terbesar dari orang-orang ini adalah mereka tidak pernah mencari kebenaran dalam apa pun yang mereka lakukan dan tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan. Mengapa mereka bisa menjadi pengawas? Salah satu alasannya adalah mereka percaya bahwa mereka adalah kaum elite, individu yang berbakat, dan pilar dari semua lapisan masyarakat, jadi menurut mereka, mereka harus menduduki posisi kunci, memikul tanggung jawab besar, dan memainkan peran penting setelah mereka datang ke rumah Tuhan, bahwa mereka harus memiliki prestise dan dihormati, dan bahwa rumah Tuhan tidak dapat berjalan tanpa mereka. Jadi, mereka mendorong diri mereka sendiri untuk menjadi pusat perhatian, berusaha menjadi pengawas dan memikul pekerjaan. Alasan lainnya adalah rumah Tuhan juga memberi mereka kesempatan. Karena mereka bersedia melaksanakan pekerjaan tersebut, mereka diizinkan untuk mencobanya. Entah mereka cakap atau tidak, mereka harus diuji kemampuannya. Namun, orang-orang ini tidak memiliki bakat sejati atau pengetahuan yang nyata. Jangankan apakah mereka memahami kebenaran dan apakah mereka mampu bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, bahkan dalam hal kualitas, bakat, wawasan mereka sendiri, kemampuan mereka untuk memahami berbagai hal, kemampuan mereka untuk memandang berbagai hal, dan kemampuan mereka untuk menangani urusan, sebagian besar dari mereka tidak memiliki bakat sejati atau pengetahuan yang nyata. Mereka tidak memiliki bakat sejati atau pengetahuan yang nyata, lalu mengapa mereka masih begitu bersemangat dan proaktif untuk mengambil tanggung jawab besar dan memikul pekerjaan? Itu karena ambisi dan kesombongan mereka yang bekerja, dan terlebih lagi, mereka lancang. Mereka tidak tahu kemampuan mereka yang sebenarnya tetapi selalu ingin pamer. Akibatnya, mereka gagal melakukan pekerjaan dengan baik dan hanya mempermalukan diri mereka sendiri. Mengapa Kukatakan demikian? Karena setelah orang-orang ini mengambil peran tersebut, setiap pekerjaan yang mereka lakukan berantakan dan sangat kacau. Jika digambarkan dalam satu kata, itu adalah "kekacauan". Mereka tidak berprinsip dalam memakai orang, tidak berprinsip dalam menangani hal-hal, mereka menghabiskan persembahan secara tidak masuk akal, dan tidak menindaklanjuti atau tidak menangani berbagai pekerjaan dengan segera. Bahkan pekerjaan urusan umum yang paling dasar pun melampaui apa yang mampu dipikul oleh sebagian besar dari mereka; mereka membiarkan semuanya dalam keadaan sangat kacau. Bertani, beternak ayam, beternak domba—tak ada seorang pun dari mereka yang cakap untuk tugas-tugas semacam itu. Mereka tidak jelas tentang apa yang harus ditanam pada musim apa, kapan harus membajak, memupuk, dan menyiangi lahan, atau kapan harus memanen. Mereka membuat semua pekerjaan mereka menjadi kacau. Seandainya, pada awalnya, rumah Tuhan tidak memakai orang-orang ini, mereka akan merasa bahwa rumah Tuhan tidak memberi mereka kesempatan dan memandang rendah mereka. Jadi, mereka diberi kesempatan, dan apa hasil dari memakai mereka? Mereka membiarkan pekerjaan mereka menjadi kacau balau, dan pada akhirnya rumah Tuhan tetap harus membereskan kekacauan mereka. Setiap pekerjaan yang mereka lakukan mengharuskan Yang di Atas untuk memberikan instruksi dan pemeriksaan, bahkan untuk hal-hal kecil seperti menjaga kebersihan di dalam dan di luar ruangan pun harus diinstruksikan oleh Yang di Atas. Pada akhirnya, pekerjaan tersebut sekarang ini pada dasarnya hanya dapat dianggap telah berada di jalur yang benar melalui Yang di Atas melakukan pengawasan, perencanaan, dan koordinasi yang ketat, menginstruksikan dan mengarahkan semuanya dari awal sedikit demi sedikit. Tanpa menyebutkan hal lain, berbicara tentang masalah pertanian saja, setidaknya harus ada orang yang cocok untuk mengelola kebersihan. Sebagian besar orang bagaikan hewan liar, membuang sampah sembarangan, berbicara tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan, berteriak dan menjerit; mereka sama persis dengan orang tidak percaya. Tak seorang pun dari orang-orang yang disebut berbakat ini, ketika dihadapkan pada urusan umum yang spesifik ini, dapat mengelola berbagai hal dengan baik secara sistematis. Mereka bahkan tidak dapat menangani hal-hal kecil dengan baik seperti mengelola kebersihan dan lingkungan. Hal-hal eksternal ini tidak ada kaitannya dengan kebenaran, dan siapa pun yang memiliki sedikit kualitas dan sedikit hati nurani seharusnya mampu menanganinya dengan baik. Jika seseorang bahkan tidak mampu menangani hal-hal eksternal ini dengan baik, mereka benar-benar tidak berguna. Orang-orang itu ingin menjadi pejabat dan menjadi penentu keputusan sekalipun faktanya mereka tidak memiliki hati nurani dan nalar, ataupun kualitas dan bakat. Ketika mereka tidak diizinkan untuk menjadi pejabat, mereka bersikap membangkang dan membantah, serta tidak mau tunduk kepada siapa pun. Bukankah mereka adalah setan-setan? Setelah rumah Tuhan menyingkapkan dan menyingkirkan setan-setan ini, orang-orang yang cocok dipilih untuk mengelola pertanian tersebut. Berkat bimbingan dan perencanaan dari Yang di Atas, pertanian tersebut sekarang dibangun dengan sangat baik, dan semua orang menyukainya. Penduduk setempat juga sangat mengaguminya dan sangat menyetujuinya. Beberapa dari mereka berkata, "Aku belum pernah melihat pertanian yang dikelola menjadi begitu bersih dan indah. Kami tidak bisa mengubahnya sampai ke taraf ini bahkan dalam sepuluh tahun. Bagaimana engkau semua bisa mengelolanya dengan begitu baik, begitu cepat? Berapa tahun yang engkau semua butuhkan untuk mengubahnya menjadi seperti ini?" Kenyataannya, perubahan sebesar itu hanya membutuhkan waktu satu tahun, mengubah lahan kosong menjadi apa yang dilihat oleh saudara-saudari sebagai sebuah taman, sebuah taman bunga. Ada orang-orang yang bahkan mengatakan tempat ini tampak seperti negeri dongeng, seperti sebuah lukisan. Perencanaan dan pembangunan yang tepat benar-benar membuat perbedaan. Tempat ini awalnya tertutup tanah dan lumpur, dan ada sampah serta kekacauan di mana-mana. Kemudian, melalui pembersihan dan pengaturan, tempat itu berangsur-angsur membaik. Seiring berjalannya waktu, semua orang telah terbiasa dengan lingkungan tempat tinggal semacam ini, sampai-sampai jika menjadi sedikit kotor atau berantakan, beberapa orang bahkan tidak terbiasa dengannya. Engkau lihat, melalui pengelolaan semacam ini, sebagian besar orang mendapat manfaat dan mengembangkan kebiasaan hidup yang baik. Hanya di bawah instruksi pribadi dari Yang di Ataslah pembangunan semacam ini dapat dicapai. Sebaliknya, sebenarnya tak seorang pun dari orang-orang yang disebut berbakat ini mampu melakukan sesuatu yang nyata. Mereka bahkan tidak mampu mengelola pekerjaan kebersihan dasar dengan baik. Mereka tidak tahu bagaimana menata ruangan dengan cara yang terlihat pantas, dan mereka tidak dapat menilai dengan tepat orang seperti apa yang cocok untuk melakukan tugas apa. Pekerjaan macam apa yang dapat dipikul oleh orang-orang ini? Mereka sama sekali tidak dapat melakukan pekerjaan apa pun. Mereka bahkan tidak mampu mengelola lingkungan tempat tinggal mereka sendiri; bagaimana mereka bisa dianggap sebagai orang yang berbakat? Orang-orang ini bahkan tidak memiliki kecerdasan sesedikit itu, mereka tidak dapat berbicara dengan jelas, mereka memandang berbagai hal secara tidak akurat, dan mereka tidak memiliki penilaian secara mandiri. Ini memperlihatkan bahwa mereka adalah "orang-orang berbakat" dalam tanda kutip, bukan orang-orang dengan bakat sejati dan pengetahuan yang nyata. Orang berbakat pertama-tama harus memiliki sifat tertentu dalam kemanusiaan mereka, seperti kemampuan untuk mengapresiasi berbagai hal, kemampuan untuk mengevaluasi dan mengapresiasi berbagai hal, serta wawasan. Jika mereka tidak memiliki sifat-sifat ini, mereka hanya mempermalukan diri mereka sendiri saat menangani hal-hal spesifik, dan mereka bahkan tidak dapat mengelola dan merencanakan satu taman atau tanah seluas satu atau dua hektar—juga tidak dapat memanfaatkannya secara efektif—maka tidak ada yang berbakat dari orang-orang semacam itu. Engkau tidak dituntut untuk mengelola seluruh bumi, engkau hanya diberi satu atau dua hektar tanah untuk dikelola dengan baik, yaitu, untuk dirapikan agar menjadi indah dan bersih, dan berubah menjadi lingkungan yang elegan. Betapa indahnya untuk ditinggali orang-orang, bahkan burung-burung pun tidak akan rela pergi setelah datang ke sana. Orang-orang yang disebut berbakat ini sama sekali bukan apa-apa. Mereka tidak dapat melakukan pekerjaan konkret apa pun. Sama sekali tidak ada yang berbakat dari mereka; mereka kekurangan berbagai hal dalam kemanusiaan mereka. Mereka tidak dapat melakukan apa pun dengan baik, tetapi mereka masih ingin memamerkan diri mereka sendiri dan menjadi pemimpin dan pekerja, dan masih ingin menduduki posisi kunci serta menjadi pengawas. Watak macam apa ini? Ini adalah watak yang congkak.
Mari kita kembali ke topik suka mencurangi dan menipu orang dalam berbisnis. Masalah macam apa mencurangi dan menipu orang? Salah satu aspek dari masalah ini adalah bahwa kemanusiaan orang-orang semacam itu buruk; mereka tidak memiliki hati nurani atau nalar. Jadi, dinilai dari perilaku mereka, watak rusak apa yang mereka perlihatkan? Pertama, watak orang-orang semacam itu licik dan jahat; kedua, mereka muak akan kebenaran dan keras kepala. Ketika mereka menipu orang lain, sikap tak kenal ampun yang mereka perlihatkan adalah kekejaman. Entah target mereka kaya atau miskin, entah target mereka punya uang atau tidak, mereka tetap saja menipu orang itu, tanpa menunjukkan belas kasihan. Watak rusak orang-orang semacam itu cukup parah dalam setiap aspek. Katakan kepada-Ku, mudahkah bagi orang-orang semacam itu untuk memperoleh keselamatan? (Tidak.) Dinilai dari watak rusak mereka, tidak mudah bagi mereka untuk memperoleh keselamatan. Lalu, dalam hal kemanusiaan mereka, aspek apa yang membuat mereka sulit untuk memperoleh keselamatan? Apakah ada akar penyebabnya? (Mereka tidak memiliki hati nurani.) Benar, tidak mudah bagi orang yang tidak memiliki hati nurani untuk memperoleh keselamatan. Kemampuan hati nurani sudah hilang di dalam diri mereka, itu tidak ada lagi. Tanpa fungsi hati nurani, orang tidak memiliki kondisi dasar untuk menerima kebenaran dan menerapkan kebenaran. Jadi, sangat sulit bagi mereka untuk memperoleh keselamatan; dapat juga dikatakan bahwa mereka tidak dapat memperoleh keselamatan. Mungkin juga jenis orang ini bersedia berjerih payah dan dapat melakukannya hingga taraf tertentu, dan pada akhirnya, karena jerih payah mereka memenuhi standar dan memenuhi tuntutan Tuhan, mereka akan menjadi orang yang berjerih payah dengan setia dan akan bertahan hidup. Ini juga merupakan kasih karunia Tuhan. Meskipun orang yang berjerih payah dengan setia dapat bertahan hidup, itu tidak berarti mereka telah memperoleh keselamatan. Bertahan hidup dan memperoleh keselamatan adalah dua konsep yang berbeda. Ada kesenjangan dan perbedaan di antara keduanya. Prinsip, batasan, arah, dan tujuan dari tindakan seseorang, hingga batas tertentu, berkaitan dengan baik atau buruknya kemanusiaan mereka. Jika orang menyukai hal-hal positif atau memiliki sedikit rasa keadilan, ini memperlihatkan bahwa hati nurani mereka memiliki kesadaran. Ini memperlihatkan bahwa orang tersebut memiliki sedikit hati nurani. Dalam cara mereka berperilaku, ada orang-orang yang tidak memiliki rasa keadilan, mereka juga tidak membuat pilihan positif apa pun. Mereka hanya suka melakukan hal-hal jahat dan sangat jijik akan hal-hal positif. Terutama ketika seseorang berbicara sedikit tentang cara bertindak yang positif, tentang bagaimana dalam cara mereka berperilaku, orang haruslah memiliki kemanusiaan, hati nurani, dan batasan moral serta menaati aturan, mereka menganggap ini sebagai sikap yang menggurui. Menyebutnya "menggurui" adalah cara yang halus; kenyataannya, mereka memandang rendah dan mengejekmu. Mereka percaya bahwa berperilaku dengan cara seperti ini adalah sebuah kegagalan: "Lihat betapa menyedihkannya hidupmu. Kau tidak tahu cara melakukan segala bentuk kecurangan dan penipuan, kau juga tidak tahu cara mendapatkan keuntungan melalui kelicikan. Dalam caramu berperilaku, kau selalu sangat taat aturan, sangat penakut. Di zaman sekarang ini, orang yang berani, makan sampai kenyang, sementara orang yang penakut, mati kelaparan. Jika kau penakut, kau tidak akan berhasil!" Mereka percaya bahwa berperilaku dengan cara yang berhati nurani dan berprinsip berarti engkau benar-benar takut, dan berani melakukan segala bentuk penipuan dan kecurangan berarti mereka berani. Namun, apakah itu benar-benar karena mereka berani? Beberapa orang yang percaya kepada Tuhan di negara si naga merah yang sangat besar tidak takut menderita penganiayaan dan ditangkap, serta masih terus percaya kepada Tuhan. Apakah ini ada hubungannya dengan berani atau takut? (Tidak.) Ini berkaitan dengan pengejaran mereka. Dalam kemanusiaan mereka, mereka memiliki kebutuhan dan kerinduan untuk percaya kepada Tuhan. Ini bukan soal berani atau takut. Ada orang-orang yang melakukan segala bentuk kecurangan dan penipuan saat berbisnis. Berkali-kali, mereka menghadapi risiko diburu dan ditangkap, harta benda mereka disita, atau risiko kebangkrutan dan penutupan, tetapi mereka tetap saja menipu orang. Sekalipun penipuan mereka menyebabkan hilangnya nyawa, mereka tidak peduli. Ada orang-orang yang saat berbisnis, menipu orang lain dengan mendirikan perusahaan fiktif, padahal sebenarnya, perusahaan ini sama sekali tidak ada dan tidak memiliki bisnis nyata, juga tidak menghasilkan produk apa pun. Mereka hanya mengandalkan mulut manis mereka untuk menipu orang agar membuat pesanan di mana-mana. Begitu orang lain membayar uang muka kepada mereka, mereka segera melarikan diri, tanpa meninggalkan jejak. Mereka menipu orang dengan cara seperti ini, dari satu transaksi ke transaksi lainnya, dan setelah mereka menggelapkan uang tersebut, seluruh keluarga mereka hidup dalam kemewahan, menikmati makanan dan minuman terlezat. Sampai sejauh mana beberapa orang melakukan penipuan? Mereka bahkan menipu institusi dan lembaga tingkat tinggi. Terkadang, mereka menghadapi situasi yang bagaikan di ujung tanduk, dan mungkin saja seseorang bisa mengetahui yang sebenarnya tentang tipu daya mereka dan menyingkapkan mereka. Di dalam hatinya, mereka sebenarnya tahu bahwa tindakan mereka akan menempatkan mereka dalam bahaya, tetapi mereka tidak peduli. Jika karena kebetulan mereka lolos, mereka akan terus menipu orang pada kesempatan berikutnya. Selama menghasilkan uang melalui penipuan, mereka pikir mereka telah menang, bahwa mereka telah "mencapai ketenaran dan kesuksesan". Namun, jika engkau meminta mereka untuk percaya kepada Tuhan, mereka tidak berani. Mereka berkata, "Percaya kepada Tuhan akan membuatku dihukum dan ditangkap oleh pemerintah. Aku tidak berani percaya!" Namun, dalam hal melakukan segala bentuk kecurangan dan penipuan, mereka tidak takut ditangkap. Jika engkau pergi ke pertemuan, mereka bahkan berkata, "Kau benar-benar berani. Negara sedang menangkap dan menganiaya orang-orang percaya dengan gila-gilaan saat ini; mengapa kau masih berani pergi ke pertemuan?" Engkau berkata, "Kami yang percaya kepada Tuhan dan menempuh jalan yang benar tidak takut ditangkap. Sangat berbahaya bagi kalian untuk menjalankan perusahaan fiktif dan melakukan penipuan. Mengapa kau tidak takut?" Mereka berkata, "Kami para pebisnis tidak takut mengambil risiko. Namun, kalian sangat bernyali karena masih berani menghadiri pertemuan padahal pemerintah sedang berusaha keras untuk menangkap orang-orang percaya!" Ketika mereka melihat bahwa orang-orang yang percaya kepada Tuhan ditangkap, mereka tidak berani percaya, tetapi mereka tidak takut ditangkap karena melakukan penipuan saat berbisnis. Makhluk celaka macam apa mereka? Bukankah ini memperlihatkan perbedaan dalam kemanusiaan orang? Inilah tepatnya perbedaan yang ada di antara orang-orang. Watak rusak yang orang miliki sama—mereka semua memiliki watak rusak yang sama—tetapi dilihat dari perbedaan dalam kemanusiaan mereka, ada orang-orang yang tidak akan pernah bisa percaya kepada Tuhan; mereka tidak akan pernah bisa menjadi anggota rumah Tuhan. Sekalipun orang-orang semacam itu percaya kepada Tuhan, mereka tidak akan pernah bisa memperoleh keselamatan. Dari aspek apa hal ini dapat dilihat? Ini dapat dilihat dari kemanusiaan mereka. Ada orang-orang yang mendukung istri mereka yang percaya kepada Tuhan, tetapi ketika didesak istri mereka untuk percaya, mereka mengatakan bahwa itu terlalu berbahaya dan mereka tidak berani. Namun, dalam berbisnis, mereka melakukan segala bentuk kecurangan dan penipuan, dan mereka tidak peduli seberapa besar bahaya yang mereka hadapi. Mereka mampu melanggar hukum apa pun dan berani menggunakan taktik apa pun. Seketat apa pun pemerintah melakukan pemantauan atau hukuman dan vonis apa pun yang dijatuhkan berdasarkan hukum, mereka tidak peduli. Mereka tidak memiliki batasan dalam cara mereka berperilaku, mereka tidak memedulikan akibatnya saat mereka bertindak, dan mereka berpikir bahwa semuanya baik-baik saja selama ada keuntungan yang bisa didapatkan. Jika orang semacam itu percaya kepada Tuhan, mereka tidak dapat memperoleh kebenaran, dan mereka tidak dapat memperoleh keselamatan; ini karena mereka tidak mencintai kebenaran, hanya uang. Selama mereka berbisnis, mereka akan mencurangi dan menipu orang lain, dan mereka akan merekayasa berbagai hal. Hati mereka yang busuk terwujud dengan sendirinya. Orang dengan karakter semacam ini sudah tamat; Tuhan tidak menyelamatkan orang semacam ini. Ada orang-orang yang berkata, "Bagaimana jika orang seperti ini menghasilkan banyak uang dan mempersembahkannya ke rumah Tuhan?" Rumah Tuhan tidak menerima uang semacam itu; rumah Tuhan tidak menerima uang yang diperoleh melalui cara-cara yang tidak sah. Orang semacam itu akan melakukan segala bentuk kecurangan dan penipuan segera setelah mereka berbisnis. Mereka memiliki kemanusiaan yang sangat buruk. Seburuk apa? Jika engkau meminta mereka untuk memeriksa hati nurani mereka, mereka berkata, "Aku tidak merasakan apa-apa. Aku tidak tahu di mana hati nuraniku. Aku juga tidak tahu apa itu hati nurani, atau berapa harganya sekilo." Pada saat itu, engkau mengerti: "Pantas saja mereka menghasilkan uang lebih cepat daripada orang lain dalam bisnis yang sama. Pantas saja semua pelanggan pergi membeli dari mereka. Orang ini menggunakan taktik yang licik; mereka melakukan praktik-praktik gelap saat berbisnis, dan perilaku curang mereka benar-benar parah!" Namun, mereka bukan saja tidak menganggap ini memalukan, mereka bahkan menyombongkan diri dan pamer, dengan berkata, "Lihatlah kalian, berbisnis dengan begitu kaku dan semestinya. Kalian menipu seseorang satu kali dan menjadi begitu takut hingga jantungmu berdebar kencang. Lihat aku, aku tidak takut! Selama Biro Perindustrian dan Perdagangan serta polisi tidak mendapatkan bukti apa pun, semuanya baik-baik saja. Ingin menuntutku? Kau tidak punya bukti! Lihatlah betapa lihainya aku menipu orang! Bisakah kau melakukannya? Kau tidak bisa! Begitu kau menipu seseorang, kedokmu langsung terbongkar. Kau tidak punya taktik sepertiku. Kualitasmu buruk!" Orang macam apa ini? Mereka adalah orang jahat. Apakah masih ada harapan untuk mereka diselamatkan? Mereka sudah tidak bisa diselamatkan. Bukan karena orang-orang semacam itu memiliki watak yang rusak maka mereka tidak dapat diselamatkan, melainkan karena kemanusiaan mereka terlalu buruk. Bagaimana buruknya? Buruk dalam arti mereka tidak memiliki kemanusiaan dan tidak memiliki hati nurani; mereka telah kehilangan hati nurani mereka. Apa artinya orang telah kehilangan hati nuraninya? Itu berarti melakukan segala sesuatu tanpa batasan hati nurani. Batasan ini dibangun di atas hati nurani; hati nurani merupakan batasan tersebut. Siapa pun yang kautipu dengan melakukan segala bentuk kecurangan dan penipuan saat berbisnis, entah itu orang jahat atau orang baik, bagaimanapun juga, tindakan itu sendiri bertentangan dengan moralitas, hati nurani, dan kemanusiaan. Begitu hal semacam itu dilakukan, engkau akan merasa tertuduh dalam hati nuranimu selamanya. Itu akan menjadi noda seumur hidup. Jika engkau benar-benar manusia, engkau seharusnya tidak pernah melakukan hal semacam itu. Siapa pun target penipuanmu, dan berapa pun jumlah uang yang kautipu—sekalipun engkau menipu orang jahat dan orang yang tidak baik—itu tetaplah penipuan. Itulah sebabnya, seperti apa pun kondisinya atau dengan siapa pun engkau berurusan, engkau seharusnya tidak pernah menipu orang. Inilah yang dimaksud dengan memiliki batasan hati nurani dalam caramu berperilaku, dan ini adalah daya pengendali yang berasal dari fungsi hati nurani. Jika engkau memiliki fungsi hati nurani, engkau akan memiliki batasan dalam apa yang kaulakukan. Jika engkau tidak memiliki fungsi hati nurani, engkau akan melewati batasan tersebut dan mampu melakukan apa saja. Dapat dikatakan bahwa individu-individu seperti ini tidak memiliki sedikit pun hati nurani dan nalar, dan bahwa mereka lebih buruk daripada binatang. Jika menurut beberapa orang pernyataan ini terlalu ekstrem, mari kita katakan dengan cara lain: Orang yang tidak sedikit pun bernalar adalah seperti binatang. Bukankah orang yang tidak memiliki kemanusiaan adalah binatang? Jika orang adalah manusia tetapi tidak memiliki kemanusiaan, lalu apa esensi mereka? Bukankah esensi mereka adalah binatang? Perbedaan antara mereka dan binatang adalah mereka dapat berjalan tegak, dan mereka memiliki bahasa, sedangkan binatang tidak memiliki kemampuan berbahasa manusia. Demi mendapatkan keuntungan, engkau mampu menggunakan segala macam cara dan metode untuk melakukan segala bentuk kecurangan dan penipuan, sedangkan binatang tidak memiliki cara-cara semacam itu. Jadi, mengatakan bahwa orang-orang semacam ini setara dengan binatang sebenarnya adalah pernyataan yang terlalu halus bagi mereka. Kenyataannya, orang-orang semacam itu benar-benar lebih buruk daripada binatang. Dapatkah mereka yang lebih buruk daripada binatang memperoleh keselamatan? Mereka sama sekali tidak menerima kebenaran; mereka hanya mencintai uang. Ini adalah masalah natur mereka, dan tak seorang pun bisa mengubahnya. Mengharapkan orang-orang semacam itu untuk menerima kebenaran sama seperti mengharapkan ayam jantan bertelur; itu tidak akan pernah terjadi. Oleh karena itu, di antara umat manusia yang rusak, selain mereka yang melakukan pembunuhan demi keuntungan atau terlibat dalam tindakan kriminal dan melanggar hukum, orang-orang yang melakukan segala bentuk kecurangan dan penipuan ini dapat dianggap memiliki kemanusiaan yang paling buruk. Mereka adalah sampah umat manusia, orang-orang bejat di antara umat manusia. Di era kemakmuran ekonomi yang luar biasa saat ini, ada sangat banyak orang seperti ini yang melakukan segala bentuk kecurangan dan penipuan saat berbisnis. Namun, sebanyak apa pun orang semacam ini, bagaimanapun juga, perwujudan semacam itu cukup untuk menggambarkan suatu masalah kemanusiaan. Bagaimana hati nurani seseorang, serta apakah mereka memiliki batasan hati nurani, ini adalah indikator untuk mengukur kemanusiaan mereka. Bagaimana mungkin orang yang bahkan tidak memiliki kemanusiaan bisa diselamatkan? Setidaknya, kemanusiaan seseorang haruslah memiliki kondisi untuk menerima kebenaran. Mereka yang melakukan segala bentuk kecurangan dan penipuan pada dasarnya tidak memiliki kondisi untuk menerima kebenaran di dalam kemanusiaan mereka. Jadi, jika engkau meminta mereka untuk menerima kebenaran guna membuang watak rusak mereka, akan mustahil bagi mereka untuk mencapainya. Hanya mereka yang memiliki hati nurani dan nalar yang dapat menerima kebenaran dan membuang watak rusak mereka dan dengan demikian memperoleh keselamatan, karena hati nurani mereka memiliki tingkat kesadaran tertentu, dan ketika mereka berperilaku dan bertindak, hati nurani mereka dapat menjalankan fungsi tertentu. Ketika engkau mempersekutukan kebenaran kepada orang-orang seperti itu, dan berbicara tentang cara masuk ke dalam kebenaran, cara membuang watak yang rusak, hal apa saja yang sesuai dengan maksud-maksud Tuhan dan apa yang tidak, dan bagaimana orang seharusnya bertindak, mereka dapat menerima dan tunduk. Mempersekutukan kebenaran kepada orang-orang semacam itu adalah hal yang tepat; mereka adalah penerima yang tepat. Jika engkau mempersekutukan kebenaran kepada mereka yang cara utamanya dalam berbisnis adalah mencurangi dan menipu orang lain, engkau sama saja dengan berbicara pada tembok. Jadi, mengenai orang-orang yang sedang berbisnis, amati saja apakah mereka menggunakan cara-cara yang sah dalam berbisnis dan dalam bertransaksi serta dalam berurusan dengan orang lain, apakah mereka memiliki pengendalian dan batasan hati nurani, dan apakah hati nurani mereka dapat berfungsi ketika mereka bertransaksi dan berurusan dengan orang lain. Jika hati nurani seseorang dapat berfungsi dan memberikan daya pengendali dalam diri mereka, maka mereka dapat diterima dan layak untuk diajak bergaul. Injil dapat diberitakan dan kebenaran dapat dipersekutukan kepada orang-orang semacam itu. Jika mereka mampu menerima kebenaran, ada harapan bagi mereka untuk memperoleh keselamatan. Sekian pembahasan kita tentang suka berbisnis.
Menyukai Seni
Sekarang mari kita lihat tentang menyukai seni. Orang-orang yang menyukai seni secara bawaan gemar bernyanyi, menari, dan memainkan alat musik, dan mereka juga menikmati tampil. Makin banyak orangnya, makin mereka bersemangat; dan mereka ingin menampilkan sedikit pertunjukan, melawak, bersandiwara pendek, bernyanyi, menari, atau memainkan alat musik untuk membuat semua orang senang dan membantu mereka bersantai. Perwujudan macam apakah menyukai seni itu? Pertama, kita perlu melihat apakah seni itu terdiri dari hal positif atau hal negatif. Jika engkau semua tidak jelas tentang hal ini, biar Aku bertanya kepadamu: Menurutmu, apakah bernyanyi dan menari adalah kebutuhan sah kemanusiaan? (Ya.) Itu adalah kebutuhan sah kemanusiaan. Itu berarti, orang menggunakan suara nyanyian mereka, bahasa tubuh, atau semacam metode artistik untuk membuat hidup menjadi menyenangkan, menambah sukacita dalam hidup, atau mengungkapkan salah satu suasana hati mereka. Bisakah ini dianggap sah? (Ya.) Sekarang, mari kita kembali ke topik awal—menyukai seni, suka bernyanyi dan menari, memainkan alat musik dan tampil—termasuk dalam kategori apakah perwujudan semacam ini? (Minat dan hobi.) Karena itu adalah minat dan hobi, termasuk apakah hal itu? (Kondisi bawaan.) Ada anak-anak yang suka mendengarkan musik dan menonton tarian sejak berusia lima atau enam tahun, dan ketika mendengar ketukan musik, tangan dan kaki mereka mulai bergerak, dan mereka merasakan dorongan untuk menari. Ini bersifat bawaan. Ada orang-orang yang mendengar lagu dan musik tari serta ingin belajar, tetapi tidak mampu melakukannya, bahkan di usia belasan atau dua puluhan. Sangatlah sulit bagi mereka untuk mencoba belajar menari, dan mereka sangat kaku. Ini juga bersifat bawaan. Sebaliknya, mereka yang secara bawaan suka bernyanyi dan menari dapat mulai menari dengan gembira ketika mendengar musik dimainkan. Ketika mendengar seseorang menyanyikan sebuah lagu, mereka dapat mengikutinya dan belajar darinya, dan setelah berlatih beberapa kali saja, mereka bisa menyanyikannya sendiri. Ini membuktikan bahwa bagi jenis orang ini, hal-hal tersebut bersifat bawaan dan sudah mendarah daging dalam diri mereka; di dalam hatinya, mereka menyukai hal-hal ini, dan mereka juga mahir dalam hal-hal ini. Mereka tahu cara melakukannya tanpa ada yang mengajari mereka. Bahkan ada orang-orang yang sangat luar biasa yang dapat menyanyikan beberapa baris opera daerah ketika baru berusia tujuh atau delapan tahun, dan nyanyian mereka memiliki nuansa autentik di dalamnya, serta nadanya tepat dan mengikuti ritme yang benar. Itu sungguh langka! Ada anak-anak yang bahkan mampu menyanyikan beberapa lagu populer, dan ada yang mampu menari dengan gaya tarian India, tarian Xinjiang, atau tarian modern. Ketika mendengar lagu tari atau musik, mereka secara naluriah menyukainya, dan mereka dengan cepat mulai menggerakkan tubuh mereka mengikuti musik. Jika engkau melarang mereka bernyanyi, mereka akan bernyanyi secara diam-diam di dalam hatinya atau mencari tempat yang cocok untuk bernyanyi dengan lantang. Mereka hanya ingin bernyanyi dan suka bernyanyi, dan tak seorang pun bisa menahan mereka. Mereka tidak dipengaruhi oleh orang tua mereka, juga tidak diajari oleh siapa pun. Sejak kecil, mereka telah memiliki kelebihan atau hobi ini. Jelas sekali bahwa ini adalah kondisi bawaan; mereka memiliki minat bawaan di bidang seni. Jika anak-anak itu tertarik pada seni, haruskah mereka menggeluti pekerjaan ini, haruskah mereka melakukan pekerjaan di industri ini sepanjang hidup mereka? Belum tentu. Itu tergantung pada penetapan Tuhan, pada bagaimana Tuhan mengerahkan kedaulatan-Nya dan mengatur segala sesuatu. Jika Tuhan mengatur agar mereka bekerja di bidang seni, mereka akan terikat pada industri ini seumur hidup mereka. Namun, jika Tuhan tidak mengatur atau tidak menetapkan mereka untuk bekerja di industri ini, mereka hanya akan memiliki minat dan hobi ini, dan sekalipun mereka menikmatinya, tidak akan mungkin bagi mereka untuk menggeluti pekerjaan itu. Ada orang-orang yang menyukai seni sejak masa kanak-kanak. Melihat anak mereka memiliki minat dan hobi ini, orang tua mereka berpikir, "Kalau begitu, mari kita bina. Mungkin keluarga kita bisa menghasilkan seseorang yang berbakat di bidang seni. Barangkali anak kita bahkan akan menjadi terkenal dan menjadi bintang!" Jadi mereka mulai membina anak mereka dalam belajar menari dan bernyanyi, dan akhirnya, anak tersebut diterima di akademi seni. Meskipun minat dan hobi anak tersebut dalam seni tetap kuat setelah lulus, apakah mereka dapat bekerja di industri ini, itu belum tentu. Ada kemungkinan bahwa ketika mereka akan menggeluti pekerjaan ini, suasana hati mereka berubah, dan sikap serta pandangan mereka terhadap pekerjaan ini kemudian berubah, dan ada juga kemungkinan bahwa karena berbagai alasan dalam kondisi objektif, mereka melewatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari industri ini. Semua hal ini mungkin saja terjadi; itu tergantung pada penakdiran Tuhan. Namun, jika dilihat dari akar penyebabnya, minat dan hobi anak tersebut adalah kondisi bawaan mereka. Bahkan sebelum mereka lahir, Tuhan telah mengatur kelebihan ini bagi mereka, dan menambahkan sifat khusus tertentu pada kemanusiaan mereka, membuat mereka secara bawaan sangat peka dan mahir dalam musik, tari, dan aspek seni lainnya. Jadi, apa yang mereka perlihatkan dalam kehidupan mereka sehari-hari adalah kesukaan khusus untuk bernyanyi dan menari. Entah kepribadian mereka lincah atau pemalu, entah mereka suka berbicara atau tidak suka berbicara, bagaimanapun juga, ada sesuatu yang sudah mendarah daging dalam diri mereka yang tidak dapat dihilangkan. Mereka suka bernyanyi, suka menari, dan suka tampil. Ada orang-orang yang, meskipun mereka menjadi sangat bersemangat dan merasakan kelegaan dalam jiwa mereka saat mereka bernyanyi, masih sangat pemalu ketika engkau berbicara dengan mereka, dan mereka tidak pandai mengungkapkan diri atau berinteraksi dengan orang lain. Ketika bergaul dengan orang lain, mereka sangat kaku dan tegang, dan bahkan gugup serta takut, tidak tahu bagaimana menghadapi situasi-situasi ini. Namun, ketika mereka melangkah ke atas panggung untuk tampil, mereka melakukannya dengan sangat luwes; seolah-olah mereka telah menjadi orang yang berbeda. Orang tidak percaya mengatakan bahwa ini berarti "dewa pelindung" di bidang mereka telah memberi mereka kemampuan ini untuk mencari nafkah; benarkah demikian? Sebenarnya, ini adalah penetapan Tuhan. Kelebihan, minat, dan hobi apa yang orang miliki secara bawaan berkaitan dengan penakdiran Tuhan. Kelebihan dan hobi apa pun yang orang miliki, semuanya telah ditakdirkan oleh Tuhan. Jika Tuhan memberimu minat dan hobi, engkau menyukai dan menghargainya di lubuk hatimu, merasa sangat bersemangat tentang hal itu. Ketika engkau menggeluti pekerjaan ini atau melakukan sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan ini, di dalam hatimu, engkau merasa sangat tenteram dan tenang, dan engkau juga sangat tertarik akan hal itu. Oleh karena itu, jika engkau memiliki semacam kelebihan, ketika pekerjaan rumah Tuhan membutuhkannya, engkau seharusnya melaksanakan tugas yang sesuai dengan bakat tersebut. Bagimu, ini adalah kesempatan terbaik untuk memanfaatkan kelebihanmu. Demikian pula, karena kelebihan ini diberikan kepadamu oleh Tuhan, ini bukanlah milik pribadimu; engkau tidak boleh menyalahgunakannya sesuka hati. Ketika pekerjaan rumah Tuhan membutuhkannya, engkau harus memanfaatkannya dan mempersembahkannya kepada Tuhan, menggunakannya dalam tugasmu. Ini adalah kondisi yang menguntungkan bagimu untuk memperoleh keselamatan, dan ini juga merupakan kondisi unggul yang telah Tuhan berikan kepadamu. Engkau seharusnya memanfaatkannya dengan baik dan menerapkannya dengan baik, tanpa menahan apa pun. Dengan cara itu, di satu sisi, engkau dapat memanfaatkan kelebihanmu, dan di sisi lain, engkau juga dapat melaksanakan tugasmu dengan baik untuk membalas kasih Tuhan. Bukankah ini sangat bagus? (Ya.)
Tuhan telah memberikan jenis kelebihan tertentu kepada orang-orang, dan baik itu di zaman kuno maupun di zaman modern, salah satu dari kelebihan ini, yakni seni, tidak pernah dianggap serius, dan selalu digolongkan sebagai hal-hal dari kelas bawah. Terutama, di beberapa lingkungan sosial yang relatif tradisional dan feodal, semua orang memandang seni lewat kacamata prasangka, dan seni selalu didiskriminasi oleh sebagian orang. Di antara orang-orang, seni digolongkan dengan cara seperti ini, dan memiliki peringkat, status, atau definisi semacam ini, karena gagasan orang, ide-ide feodal orang, atau pemikiran dan sudut pandang yang menyimpang dan keliru yang Iblis tanamkan dalam diri orang-orang. Ada faktor lain, yaitu bahwa terbentuknya iklim yang buruk di industri ini adalah karena pengaruh masyarakat yang jahat dan tren-tren yang jahat, sehingga orang-orang memberikan penilaian yang buruk terhadap industri seni. Sebagian orang yang menggeluti industri ini telah menggunakan minat dan kelebihan mereka di bidang seni untuk melakukan banyak hal negatif dan jahat, yang telah menodai seni dan menyimpangkan natur seni. Akibatnya, orang-orang telah mengembangkan banyak pendapat negatif tentang dunia seni, dan menganggap mereka yang bekerja di bidang seni atau memiliki minat dan hobi di bidang ini sebagai tokoh-tokoh negatif. Namun, seperti apa pun masyarakat dan umat manusia ini memandang jenis kelebihan ini, singkatnya, jika siapa pun—entah mereka adalah anggota rumah Tuhan atau orang yang berada di luar rumah Tuhan—memiliki kelebihan atau minat dan hobi di bidang ini, tidak dapat disangkal bahwa kelebihan dan hobi ini adalah kondisi bawaan. Justru karena ini adalah kondisi bawaan, hal-hal ini tidak negatif, juga tidak jahat. Hanya karena arahan dari pemikiran dan teori keliru tertentu di era-era tertentu, seni dan mereka yang menggelutinya telah digolongkan sebagai hal-hal yang jahat dan negatif. Ini adalah sesuatu yang sering terjadi sepanjang sejarah. Sama seperti bagaimana kedelai dapat dibuat menjadi tahu harum yang disukai orang-orang, tetapi juga dapat difermentasi dengan mikroorganisme seperti jamur untuk menjadi tahu busuk. Engkau tidak bisa mengatakan bahwa kedelai itu buruk hanya karena engkau tidak suka makan tahu busuk. Apakah penalaran logis ini benar? (Tidak.) Jelas itu tidak benar; itu menyimpang. Oleh karena itu, meskipun ada beberapa hal yang najis dan buruk di dalam kelompok-kelompok seni di tengah masyarakat, engkau tidak bisa mengatakan bahwa seni itu sendiri najis, buruk, dan negatif, apalagi mengatakan bahwa semua orang yang menyukai dan mahir dalam seni ini adalah tokoh-tokoh negatif yang jahat dan buruk. Ini adalah penalaran yang salah; ini adalah pemahaman yang tidak benar. Jika, karena beberapa dari orang-orang itu jahat, engkau mengatakan bahwa seni yang mereka kuasai juga jahat, maka ini adalah kesalahan yang sangat serius. Berbagai kelebihan yang Tuhan berikan kepada orang-orang dimaksudkan untuk melayani dunia manusia. Jika umat manusia tidak memiliki kehidupan budaya, itu akan sangat membosankan. Bahwa Tuhan mengatur agar orang-orang memiliki kehidupan budaya tidaklah salah. Hal-hal jahat itu semuanya disebabkan oleh Iblis dan setan-setan yang memanfaatkan kesempatan untuk menciptakan gangguan. Meskipun dibandingkan dengan umat manusia yang sempurna—yang pada akhirnya akan dilengkapi—umat manusia yang Tuhan ciptakan ini tidaklah sempurna dan sekarang ini memiliki cacat, ini tidak berarti bahwa umat manusia yang Tuhan ciptakan itu jahat atau negatif. Ini adalah dua konsep yang berbeda. Apakah engkau mengerti? (Ya.) Seperti apa pun era yang jahat dan dunia yang jahat ini menempatkan seni, dan minat, hobi, atau kelebihan dalam bernyanyi dan menari, bagaimanapun juga, tidak dapat disangkal bahwa itu adalah kebutuhan kemanusiaan, dan bahwa itu juga merupakan minat dan hobi yang dimiliki oleh beberapa orang khusus. Karena merupakan minat dan hobi, hal-hal itu bersifat bawaan pada orang-orang dan sesuatu yang orang miliki sejak lahir, yang berarti bahwa hal-hal itu berasal dari Tuhan dan diberikan oleh Tuhan. Bahkan sebelum orang lahir, Tuhan telah menentukan sebelumnya pekerjaan yang akan digeluti oleh masing-masing dari mereka: Ada orang yang ditempatkan di bidang perdagangan untuk berbisnis, ada yang ditempatkan di pabrik untuk menjadi pekerja, ada yang ditempatkan di bidang pertanian untuk melakukan pekerjaan bertani, ada yang ditempatkan di bidang pendidikan untuk menjadi guru, dan ada yang ditempatkan di bidang seni untuk menjadi penampil pertunjukan. Tuhan telah menempatkan berbagai jenis kelebihan di dalam diri orang-orang yang berbeda pada saat mereka lahir. Itu berarti, di dalam kehidupan daging mereka, minat, hobi, dan kelebihan setiap orang berbeda-beda. Sebelum engkau lahir, Tuhan telah menambahkan beberapa hal yang khusus dan berbeda ke dalam dirimu. Jika engkau tidak memiliki minat dan hobi atau kelebihan, engkau tidak seharusnya mengeluh bahwa Tuhan tidak menambahkannya ke dalam dirimu. Tanpa hal-hal ini, engkau masih bisa hidup, dan engkau masih bisa melaksanakan tugasmu. Engkau tidak kekurangan apa pun dibandingkan dengan orang lain, karena engkau memiliki kesempatan yang sama dengan orang lain untuk melaksanakan suatu tugas. Watak rusakmu sama dengan watak rusak orang lain; hanya saja kondisi bawaan orang berbeda-beda. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Jadi apa poin utamanya? Poin utamanya adalah perbedaan dalam kemanusiaan. Orang yang memiliki minat, hobi, dan kelebihan tertentu dalam kondisi bawaannya bukanlah semacam orang dengan bakat khusus, dan orang yang tidak memiliki minat, hobi, atau kelebihan apa pun dalam kondisi bawaannya bukanlah semacam orang yang biasa-biasa saja. Semua orang kurang lebih sama. Hanya saja, apa pun yang Tuhan berikan kepadamu, Dia mengajukan tuntutan terhadapmu, dan engkau seharusnya menggunakannya dalam tugasmu, dan apa pun yang tidak Dia berikan kepadamu, Dia tidak mengajukan tuntutan tambahan terhadapmu. Meskipun Tuhan mungkin tidak memberimu minat dan hobi, atau kelebihan, berbagai hal atau kondisi yang engkau miliki di dalam kemanusiaanmu masih cukup bagimu untuk memikul suatu pekerjaan atau suatu tugas. Jika engkau tidak mampu memikulnya, ada kemungkinan engkau adalah seseorang di luar barisan orang-orang yang melaksanakan tugas, dan itu akan menjadi persoalan yang sama sekali berbeda.
Kita akan mengakhiri pembahasan kita tentang topik menyukai seni sampai di sini. Penggolongan dari jenis kelebihan ini seharusnya sudah jelas bagimu sekarang. Jangan berpikir bahwa mereka yang menyukai seni itu aneh atau jahat. Jika engkau berpikir seperti ini, pemahamanmu sangatlah menyimpang. Engkau seharusnya memperlakukan orang-orang semacam itu dengan benar, berinteraksi dengan orang-orang semacam itu dengan benar, dan mendorong mereka untuk menerapkan teknik profesional yang mereka kuasai dan pahami ke dalam tugas-tugas mereka. Jika engkau adalah seorang pemimpin atau pekerja, engkau harus belajar menggunakan pendekatan yang benar untuk membantu, membimbing, dan mengarahkan orang-orang tersebut dalam memanfaatkan kelebihan mereka, agar mereka dapat berada di jalur yang benar dan memikul tugas yang berkaitan dengan minat dan hobi mereka, dan dengan demikian menjadi makhluk ciptaan yang memenuhi standar, dan layak memiliki berbagai minat, hobi, dan kelebihan yang telah Tuhan berikan kepada mereka. Jika mereka tidak mampu memikul tugas yang berkaitan dengan minat dan hobi mereka, tidak masalah juga bagi mereka untuk melaksanakan tugas lain. Namun, mereka tidak seharusnya dibatasi untuk memiliki minat dan hobi mereka sendiri, karena ini adalah bagian dari kemanusiaan.
Berbicara tentang hal itu, Aku teringat akan sesuatu; saat ini, di rumah Tuhan, beberapa penyanyi baru telah merekam lagu. Setelah dengan tekun memperoleh pengetahuan profesional dan berlatih bernyanyi, para penyanyi baru ini akhirnya mampu merekam lagu yang sudah jadi, beralih dari bekerja di balik layar menjadi tampil di panggung utama. Meskipun nyanyian mereka belum mencapai standar profesional, dan belum mencapai tingkat penyanyi profesional, dan masih ada ruang untuk perbaikan—beberapa dari mereka bernyanyi tanpa banyak keahlian yang matang, suara beberapa penyanyi tidak begitu merdu dan penampilan mereka tidak begitu menyenangkan untuk dilihat—sikap mereka dalam melaksanakan tugas patut diberi dorongan. Beralih dari seorang amatir menjadi tampil di layar sebagai penyanyi pendatang baru, penyanyi yang belum berpengalaman, adalah sesuatu yang patut diberi dorongan. Jadi, apa yang ingin Kukatakan kepada engkau semua mengenai hal ini? Yaitu bahwa ketika video lagu pujian yang direkam oleh para penyanyi baru ini diunggah ke internet, engkau semua seharusnya memberi mereka dorongan. Engkau juga dapat memberikan beberapa saran yang baik yang dapat bermanfaat bagi mereka, tetapi jangan mencari-cari kesalahan, jangan meremehkan mereka dengan cara yang merendahkan, dan jangan terlalu mengkritik. Sikap ini tidak baik; setidaknya, tidak ada kasih dan toleransi di dalamnya, dan itu bukanlah sikap yang seharusnya dimiliki seseorang terhadap saudara-saudarinya. Lalu, bagaimana cara yang tepat untuk memperlakukan mereka? Engkau seharusnya mendorong mereka dan memberikan mereka sedikit tepuk tangan, lalu memberikan beberapa saran yang tepat; hanya inilah yang bermanfaat bagi mereka. Setidaknya, mereka memiliki keberanian untuk berdiri di atas panggung dan menyanyikan lagu pujian untuk memuji Tuhan, yang bermanfaat bagi umat pilihan Tuhan. Oleh karena itu, semua orang seharusnya membantu mereka untuk melaksanakan tugas dengan baik, dan semua orang sama sekali tidak boleh melontarkan komentar yang tidak bertanggung jawab, dan tidak boleh iri kepada mereka. Kita seharusnya merasa bahagia dan senang bahwa rumah Tuhan memiliki lebih banyak orang yang berbakat dalam bernyanyi; ini adalah hal yang baik. Mereka semua yang memiliki kelebihan di bidang ini seharusnya diizinkan untuk memanfaatkannya; mereka semua seharusnya diberi kesempatan. Mereka sendiri tidak memiliki banyak kepercayaan diri, dan mereka tidak memiliki tempat untuk menyalurkan sedikit minat dan hobi yang mereka miliki. Jika mereka memiliki kesediaan untuk melaksanakan tugas ini dengan baik dan telah merekam video lagu pujian, ketika engkau melihatnya, engkau setidaknya harus mendengarkannya dua atau tiga kali—dengarkan dengan saksama dan hati-hati—dan berikan mereka sedikit dorongan. Jangan menjatuhkan mereka dari belakang. Engkau seharusnya memberi tahu saudara-saudari lain untuk lebih banyak mendengarkan lagu yang mereka nyanyikan dan memberi mereka lebih banyak tanda suka. Beberapa dari mereka bernyanyi dengan cukup baik, dengan emosi yang tulus, melafalkan setiap baris dengan cukup jelas; pakaian dan sikap mereka bermartabat dan pantas, membuat mereka terlihat pantas bagi orang lain. Namun, ada orang-orang yang mungkin sedikit kurang dalam hal suara dan kematangan teknik mereka. Jika engkau tahu sedikit tentang musik dan dapat menemukan kekurangannya, jangan mengejek mereka; perlakukan mereka dengan benar, dan tetap dorong serta dukung mereka. Inilah sikap yang seharusnya kaumiliki sebagai anggota keluarga, sebagai saudara atau saudari. Jangan meniru orang jahat dengan melakukan hal-hal yang meremehkan atau menjatuhkan orang lain. Jika engkau sendiri tidak bisa naik ke panggung, tetapi ketika orang lain melakukannya, engkau menjadi iri, menjatuhkan mereka, dan melontarkan komentar picik di belakang mereka, ini berarti tidak memiliki kemanusiaan. Berperilaku seperti ini tidaklah baik; ini tercela. Sekalipun engkau dapat menemukan kekurangan mereka, engkau seharusnya tetap mendorong mereka. Engkau seharusnya melakukan hal ini karena mereka adalah saudara-saudari—mereka bukan profesional, juga belum menjalani pelatihan profesional—dan kemampuan mereka untuk bernyanyi seperti sekarang ini murni merupakan hasil dari eksplorasi, latihan, dan kerja keras mereka sendiri. Jadi, mengapa tidak mendorong mereka? Jika engkau belajar untuk memberi dorongan dan bersikap toleran, dan masih dapat memperlakukan mereka dengan benar dengan kasih dan toleransi bahkan ketika engkau melihat beberapa kekurangan dalam nyanyian mereka, ini menunjukkan bahwa engkau memiliki kemanusiaan. Ada orang-orang yang selalu membandingkan para penyanyi di rumah Tuhan dengan penyanyi profesional dari dunia orang tidak percaya, dan karena itu meremehkan para penyanyi di rumah Tuhan serta mencari-cari kesalahan ini dan itu. Ini berarti tidak memiliki kemanusiaan. Jika engkau selalu mencari-cari kekurangan orang lain dan selalu berpikir engkau lebih baik dan lebih unggul dari orang lain, lalu mengapa engkau tidak bisa menyanyikan lagu yang menggerakkan orang? Jangan mencari-cari kesalahan orang lain. Para penyanyi di gereja tidak berasal dari latar belakang profesional, tetapi ada satu hal yang istimewa tentang mereka: Dalam melaksanakan pekerjaan ini, mereka tidak sedang menggeluti suatu karier; mereka sedang melaksanakan tugas mereka. Tugas mereka adalah menggunakan suara mereka untuk menyanyikan firman Tuhan serta bersaksi tentang firman Tuhan dan menyebarluaskannya. Jadi engkau seharusnya mendorong mereka. Bukankah bagus melakukan hal ini? (Ya.) Ini berarti memiliki kemanusiaan. Jangan mencari-cari kesalahan saat engkau mendengarkan penyanyi baru bernyanyi, dengan berkata, "Suara orang ini tidak bagus. Tidak matang. Ketukannya salah, dan nadanya sumbang. Aku tidak mau mendengarkannya! Seharusnya tak seorang pun mendengarkannya, dan seharusnya tak seorang pun memberinya tanda suka!" Apa yang engkau permasalahkan dalam hal ini? Bernyanyi sedikit sumbang, bernyanyi tanpa keahlian yang matang, atau dengan cara yang tidak profesional, apakah ini bertentangan dengan prinsip-prinsip kebenaran? Tidak. Mereka sedang melaksanakan tugas mereka, jadi engkau seharusnya mengukur nyanyian mereka berdasarkan prinsip-prinsip melaksanakan tugas, bukan berdasarkan selera dan sudut pandangmu sendiri. Terus terang saja, apa yang engkau ketahui? Jika engkau tahu begitu banyak tentang bernyanyi, mengapa engkau belum menyanyikan satu lagu pun dengan mencapai standar yang patut dicontoh? Karena engkau belum bernyanyi dengan mencapai standar yang patut dicontoh, engkau tidak berhak mengkritik orang lain. Tentu saja, sekalipun engkau bisa bernyanyi dengan mencapai standar yang patut dicontoh, engkau tetap tidak boleh mengkritik orang lain. Mereka melaksanakan pekerjaan ini bukan berarti mereka sedang menggeluti industri seni atau bekerja di bidang seni; mereka sedang melaksanakan suatu tugas dan menyebarluaskan firman Tuhan, yang naturnya berbeda. Entah mereka bernyanyi dengan baik atau tidak, mereka sepenuh hati dalam melakukannya; mereka sedang melaksanakan tugas mereka. Adapun mengenai tingkat profesional mereka, itu soal lain. Standar profesional hanya dapat dicapai secara bertahap melalui pembelajaran dan latihan jangka panjang. Para penyanyi baru di rumah Tuhan saat ini berada pada tingkat mereka sekarang. Orang-orang seharusnya memperlakukan mereka dengan benar. Semua orang seharusnya memberikan dorongan dan dukungan. Jangan mencari-cari kesalahan, dan jangan memamerkan dirimu. Jika engkau memamerkan dirimu, orang-orang akan merasa engkau menjijikkan. Jika engkau tidak memamerkan dirimu dan sebaliknya mendengarkan beberapa kali lagi, orang-orang akan berpikir engkau adalah orang yang cukup baik, orang yang memiliki hati yang takut akan Tuhan, yang hatinya tertuju pada rumah Tuhan, dan yang memiliki toleransi, dan ini kemudian menjadi suatu keunggulan, suatu kebaikan dalam kemanusiaanmu. Jika engkau melakukan ini, orang-orang akan menyukaimu, dan Tuhan juga akan menyukaimu. Jika engkau pamer, selalu mencari-cari kekurangan untuk menunjukkan bahwa engkau brilian dan engkau adalah seorang ahli, maka engkau sedang merusak dan mengganggu pekerjaan rumah Tuhan. Jika engkau merusak pekerjaan itu, bisakah Tuhan menyukaimu? (Tidak.) Tuhan tidak akan menyukaimu, dan saudara-saudari juga tidak akan menyukaimu. Bagaimana para penyanyi itu telah menyinggungmu? Mengapa engkau harus pamer dan menjatuhkan mereka seperti ini? Apakah engkau hanya menjatuhkan satu orang? Tidak, engkau sedang merusak pekerjaan rumah Tuhan, engkau sedang menjatuhkan Tuhan. Jika engkau melakukan ini, bisakah Tuhan menyukaimu? Sekalipun engkau mendengar kekurangan dalam lagu yang mereka nyanyikan, engkau seharusnya tidak menilai buruk mereka, karena mencapai standar profesional dalam pekerjaan khusus apa pun bukanlah sesuatu yang dapat dicapai dalam waktu singkat. Itu tidaklah mudah. Itu membutuhkan tempaan dan latihan, serta bimbingan dari para profesional; selain itu, setiap orang memiliki bakat yang berbeda-beda. Bahkan Tuhan tidak mengajukan tuntutan kepada mereka berdasarkan standar profesional, jadi kualifikasi apa yang engkau miliki untuk menuntut hal ini dari mereka? Selalu menuntut agar orang lain mencapai tingkat tertentu tidaklah rasional; ini adalah kecongkakan, dan ini adalah pamer. Ketika orang lain menonjol, di dalam hatimu, engkau merasa kesal dan terus merasa iri, selalu ingin mengucapkan beberapa kata yang sarkastis dan tajam untuk memuaskan kesombonganmu. Betapa hinanya melakukan hal ini! Ini tercela dan hina, dan orang semacam itu tidak memiliki hati nurani dan nalar. Engkau seharusnya melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain, hal-hal yang layak dikagumi orang lain dan juga diingat oleh Tuhan. Jangan melakukan hal-hal yang menjatuhkan orang lain. Apakah engkau akan mengingat hal ini? (Ya.) Jika engkau tidak dapat mencapai sikap toleran, mendukung, dan mendorong, serta tidak dapat melindungi dan menjaga pekerjaan gereja, jika engkau tidak memiliki kemanusiaan ini, maka setidaknya jangan melakukan atau mengatakan hal-hal yang menjatuhkan orang lain. Ini adalah hal paling minimal yang mutlak harus dilakukan; ini adalah batasannya.
Suka Mengidolakan Bintang
Kita sudah selesai membahas menyukai seni. Selanjutnya, mari kita bicara tentang suka menaruh perhatian pada urusan pribadi selebritas. Ada orang-orang yang sangat suka menaruh perhatian pada urusan pribadi selebritas dan bintang, seperti, apa yang dimakan selebritas, apa yang mereka kenakan, ke mana mereka pergi untuk bersenang-senang, apakah mereka pernah melakukan operasi plastik, dengan siapa mereka menjalin hubungan asmara, siapa saja teman lawan jenis yang mereka miliki, siapa saja pasangan seksual mereka, dan bahkan berapa banyak anak haram yang mereka miliki, serta dengan pejabat tinggi dan orang kaya mana mereka menjalin hubungan intim. Orang-orang semacam itu sangat menaruh perhatian pada urusan pribadi selebritas ini. Mereka tidak hanya menaruh perhatian pada urusan pribadi selebritas, tetapi juga sangat suka meniru pilihan gaya hidup sehari-hari selebritas, tutur kata dan perilaku, serta sikap selebritas terhadap kehidupan. Pada saat yang sama, mereka juga sangat suka mengikuti tempat selebritas berada serta berbagai pemikiran dan sudut pandangnya. Sebagai contoh, jika seorang selebritas suka memelihara jenis anjing tertentu, mereka juga memeliharanya. Jika seorang selebritas mengenakan merek pakaian tertentu yang sangat populer di pasaran, mereka juga akan membeli barang yang sama. Jika mereka tidak mampu membelinya, mereka akan membeli barang tiruannya. Jika seorang selebritas menggunakan produk kosmetik tertentu, mereka akan membelinya untuk mempercantik diri, sekalipun mereka tidak punya uang dan harus menjual ginjal atau darah untuk membelinya. Mereka bahkan mengikuti selebritas ke mana pun selebritas itu tampil, mengadakan konferensi pers, atau menghadiri acara perilisan film dan TV. Mereka akan memperhatikan dan melacak setiap perkataan dan tindakan, setiap gerak-gerik, dan semua tempat selebritas yang mereka ikuti berada, hingga mencapai titik terobsesi di mana mereka tidak memiliki kehidupan mereka sendiri, atau pemikiran, sudut pandang, dan gaya hidup mereka sendiri yang benar, dan mereka sepenuhnya disesatkan dan dikendalikan oleh pemikiran, sudut pandang, dan gaya hidup selebritas tersebut. Jenis masalah apakah ini? Apakah ini kondisi bawaan? (Bukan.) Apakah ini ada hubungannya dengan lingkungan sosial tempat orang-orang hidup sekarang ini? (Ya.) Ada sedikit hubungannya. Jadi, mengapa selalu sekelompok orang tertentu yang mengidolakan bintang, dan bukan semua orang, padahal faktanya semua orang hidup di lingkungan yang sama saat ini? Berkaitan dengan apakah hal ini? Menurutmu, apakah orang-orang yang mengidolakan bintang ini menyukai seni? Belum tentu. Apakah mereka ahli dalam seni? Itu juga belum tentu benar. Namun, hal-hal yang mereka lakukan berkaitan dengan orang-orang di dunia seni dan dengan tren-tren yang bersifat seni. Jenis masalah apakah ini? Apakah ini masalah watak yang rusak? Ini tepatnya adalah perwujudan watak yang rusak. Orang-orang semacam itu memuja kejahatan dan mengikuti tren-tren jahat. Lalu, apakah ada masalah dalam kemanusiaan orang-orang semacam itu? (Ya.) Ketika ada begitu banyak jalan untuk dipilih dalam hidup, mengapa mereka memilih jalan semacam itu? Apakah ini berkaitan dengan masalah karakter? (Ya.) Ada orang-orang yang berkata: "Ini adalah cacat dalam kemanusiaan. Ini berarti secara bawaan berpikiran tumpul dan bodoh, serta mudah disesatkan oleh orang lain." Inikah alasannya? (Bukan.) Ada yang berkata: "Apakah karena sebagian besar orang yang mengidolakan bintang masih muda, tidak dewasa, dan dangkal, tidak mampu menahan godaan dari tren-tren sosial ini?" Apakah karena mereka masih muda? (Bukan.) Sebagian orang yang mengidolakan bintang berusia paruh baya atau lanjut usia; kelompok ini mencakup orang-orang dari segala usia. Mengingat hal ini, orang-orang yang mengidolakan bintang ini disesatkan oleh tren-tren sosial ini bukan karena mereka masih muda, tidak dewasa, dan belum memahami berbagai hal dalam kehidupan. Oleh karena itu, pernyataan bahwa "orang yang mengidolakan bintang semuanya masih muda dan tidak dewasa" tidaklah benar. Karena ini bukan disebabkan oleh usia muda dan ketidakdewasaan, ini adalah masalah kemanusiaan. Lalu, masalah kemanusiaan apakah ini? Apakah masalah tidak melakukan pekerjaan yang semestinya? (Ya.) Di satu sisi, ini adalah masalah tidak melakukan pekerjaan yang semestinya; di sisi lain, ini adalah masalah bersikap tidak serius dan tidak berada dalam batas-batas yang semestinya. Apa lagi? (Tidak menempuh jalan yang benar.) Tepat, itu adalah masalah tidak menempuh jalan yang benar. Ini berkaitan dengan masalah jalan yang orang tempuh. Setelah mencapai usia dewasa, pekerjaan apa yang orang geluti, dan jalan seperti apa yang orang pilih untuk diikutinya di tengah masyarakat ini dan di antara orang-orang, adalah pelajaran wajib yang terbentang di hadapan setiap orang. Apakah mereka berada pada tempat mereka yang seharusnya dan menjalani hari-hari mereka dengan cara yang semestinya, apakah mereka melakukan pekerjaan yang semestinya, dan apakah mereka melaksanakan tugas-tugas yang semestinya dan menempuh jalan yang benar, semua ini bergantung pada apa yang mereka sukai dan apa yang mereka ikuti dalam kemanusiaan mereka. Lihatlah orang-orang dari semua lapisan masyarakat; ada yang berlatih seni bela diri, ada yang belajar tentang hidup sehat, ada yang berkecimpung di industri teknologi, ada yang berkecimpung di industri mode, ada yang berkecimpung di industri film dan televisi, ada yang berbisnis, dan ada yang terjun ke dunia politik, sementara ada yang percaya pada agama Buddha, ada yang bergabung dengan agama Tao, dan ada yang memilih untuk percaya kepada Tuhan. Ada orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan yang semestinya, juga tidak mencari tujuan hidup mereka sendiri. Setiap hari, mereka hanya fokus mengidolakan bintang. Sampai sejauh mana mereka melakukan hal ini? Hingga mencapai taraf di mana mereka kehilangan nafsu makan dan minum. Jika bintang yang mereka idolakan adalah kekasih impian mereka, mereka bahkan dapat meninggalkan pasangan mereka sendiri kapan saja. Jika orang-orang ini mengidolakan bintang hingga mencapai taraf terobsesi, hingga mencapai taraf di mana hal itu dapat mendikte kehidupan mereka dan pilihan jalan mereka, menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan mereka, bagaimana keadaan hidup mereka saat ini? Mereka tidak berada pada tempat mereka yang seharusnya saat menjalani hari-hari mereka. Jika orang yang mengidolakan bintang adalah seorang wanita, dapatkah dia menjadi ibu rumah tangga yang berbakti yang mendukung suaminya dan membesarkan anak-anaknya, seorang istri yang berbudi luhur dan ibu yang penuh kasih? (Tidak.) Orang yang mengidolakan bintang hingga mencapai taraf terobsesi benar-benar gila. Di mana pun kekasih impian mereka mengadakan konser atau konferensi pers, mereka merasa harus pergi untuk meminta tanda tangan. Mereka menempuh jarak jauh dengan pesawat dan bahkan pergi ke luar negeri hanya untuk mengikuti selebritas itu, dan keluarga mereka tidak dapat menahan mereka. Mereka terus-menerus melacak rencana perjalanan selebritas tersebut di internet dan menunggu berlama-lama di lokasi tempat selebritas itu akan muncul. Jika mereka tidak berhasil menemuinya, mereka akan melewati beberapa hari dan malam tanpa makan dan tidur, menangis tanpa henti. Biasanya, segala sesuatu yang mereka perhatikan di internet dan di TV adalah tentang selebritas. Tentu saja, ada orang-orang yang tidak hanya berfokus pada satu selebritas tetapi pada beberapa selebritas: selebritas pria dan wanita, selebritas muda, paruh baya, dan lanjut usia. Mereka menaruh perhatian pada penampilan selebritas ini, status pernikahannya, status hubungannya, dan kehidupan pribadinya, memeras otak untuk berburu informasi tentangnya. Mereka menganggap mengidolakan bintang sebagai sumber kesenangan dan minat dalam hidup, melakukannya seolah-olah itu adalah urusan yang serius. Seperti apa keadaan hidup orang semacam ini? Mereka seperti mayat hidup; pemikiran mereka, keadaan hidup mereka, serta perilaku mereka sehari-hari dan baik buruknya suasana hati mereka sepenuhnya dipengaruhi oleh selebritas yang mereka kejar dan tiru. Jika selebritas yang mereka kejar menjalin suatu hubungan, mereka merasa sangat sedih sehingga mereka kehilangan nafsu makan dan minum selama beberapa hari dan malam. Jika selebritas itu putus dengan pasangannya, mereka merasa sangat gembira, mereka makan besar, membuka sampanye, dan memostingnya di Weibo untuk merayakannya. Setiap malam, mereka bermimpi bersama selebritas yang mereka kejar, dan selalu mengalami mimpi indah! Selebritas yang mereka kejar adalah kekasih impian mereka, dan tak seorang pun terlihat lebih enak dipandang bagi mereka selain orang ini. Bukankah keadaan hidup orang semacam ini tidak normal? (Ya.) Mereka telah mencapai taraf terobsesi ini; apakah mereka telah dikendalikan oleh roh jahat? (Ya.) Jadi, apakah kemanusiaan orang-orang semacam ini memiliki cacat, kekurangan, atau masalah? (Masalah.) Keadaan mental mereka sedikit tidak normal. Orang normal terkadang mendengar beberapa berita tentang orang-orang di dunia seni, dan ketika mereka sedang mengobrol santai, mereka mungkin juga dengan santai menyebutkan beberapa patah kata tentang hal itu, tetapi ketika mereka kembali ke kehidupan nyata, mereka terus menjalani kehidupan seperti biasa. Jika mereka adalah ibu, mereka memenuhi tanggung jawab mereka sebagai ibu; jika mereka adalah ayah, mereka memenuhi tanggung jawab mereka sebagai ayah. Pekerjaan yang mereka lakukan tidak terpengaruh atau tidak terhambat sedikit pun. Jika bintang yang mereka sukai mengadakan konser di suatu tempat, mereka merasa itu tidak ada hubungannya dengan mereka dan terus menjalani kehidupan mereka seperti biasa, tanpa terpengaruh. Meskipun mereka memiliki sedikit rasa kagum dan rasa iri terhadap bintang itu, dan sedikit rasa suka, ketika mereka kembali ke kehidupan nyata, mereka memiliki pemikiran yang mandiri, dan tidak ada pengaruh sama sekali pada kehidupan dan karier mereka sendiri, iman mereka sendiri, dan hal-hal yang seharusnya mereka kejar serta jalan yang seharusnya mereka tempuh. Ini berarti memiliki pemikiran kemanusiaan yang normal dan keadaan mental yang normal. Namun, orang-orang yang suka mengidolakan bintang telah kehilangan diri mereka sendiri dan kemampuan untuk mengendalikan diri mereka sendiri dalam prosesnya; mereka sepenuhnya dituntun oleh orang-orang yang disebut bintang ini, disetir olehnya. Pemikiran mereka dan keadaan hidup mereka sepenuhnya dikendalikan dan didikte oleh perkataan, tindakan, dan emosi bintang tersebut. Ini bukan lagi sekadar masalah kemanusiaan; keadaan mental mereka agak bermasalah. Emosi mereka menjadi tidak normal, keadaan kehidupan mereka sehari-hari menjadi kacau, dan mereka telah sepenuhnya kehilangan arah. Seluruh kehidupan mereka hanya terdiri dari mengidolakan bintang; mengidolakan bintang adalah satu-satunya hal yang tak terpisahkan di jalan kehidupan mereka. Selama mereka hidup dan bernapas, mereka menikmati mengidolakan bintang, dan mengandalkan hal itu untuk menghabiskan waktu setiap hari. Jika mereka tidak mengidolakan bintang, menurut mereka hidup ini hampa dan tidak berarti, dan bahwa mereka hidup tanpa tujuan atau arah apa pun, merasa tersesat di dalam hatinya. Jadi, dari waktu ke waktu, mereka merasa harus membuka internet untuk mencari kabar terbaru tentang selebritas yang mereka sukai—apa yang dimakan dan diminum selebritas itu, bagaimana keadaan hidupnya saat ini, kapan dia akan mengadakan konser, bagaimana penampilan film terbarunya, bagaimana status pernikahannya, bagaimana situasi keluarganya—terkadang, mereka mencari informasi semacam itu untuk menghabiskan waktu dan untuk mengisi kehidupan mereka yang hampa, tanpa arah, dan penuh kebingungan. Bukankah mereka telah sepenuhnya dikendalikan oleh selebritas ini? Bukankah mereka telah dikendalikan oleh pola pikir atau tren mengidolakan bintang ini? (Ya.) Lalu, apakah orang-orang semacam ini masih memiliki hati nurani dan nalar? Pikiran mereka sudah kacau, keadaan mental mereka telah menjadi tidak normal. Setelah disesatkan dan diganggu oleh tren atau fenomena eksternal semacam ini, mereka telah kehilangan arah dan tidak lagi tahu apakah yang mereka lakukan itu benar atau salah. Mereka tidak tahu apa yang baik atau buruk bagi mereka. Jika orang mencoba menasihati mereka, mereka sama sekali tidak dapat menerimanya atau memahaminya. Demi menghadiri konser bintang yang mereka puja, mereka bersedia menghabiskan gaji selama tiga hingga lima bulan, dan bahkan menggadaikan beberapa barang berharga, atau meminjam uang, dan setelah mereka kembali, mereka harus membayar utang mereka. Mereka membayar harga semacam ini hanya untuk mencapai tujuan mereka mengidolakan bintang. Apakah orang-orang semacam ini normal? (Tidak.) Dinilai dari tingkat obsesi dan kurangnya pengendalian diri yang telah mereka capai, orang-orang semacam itu telah kehilangan seluruh hati nurani dan nalar, dan tidak dapat lagi mengendalikan diri mereka sendiri; mereka sama sekali tidak peduli berapa banyak uang yang mereka habiskan dan seberapa jauh mereka pergi demi mengidolakan bintang. Jadi, dilihat dari perwujudan-perwujudan ini, sangat sulit bagi mereka untuk digolongkan sebagai orang normal. Harus dikatakan bahwa ada masalah dalam kemanusiaan mereka; mereka telah kehilangan rasionalitas mereka. Dengan demikian, apakah hati nurani mereka masih berfungsi? Apakah mereka masih memiliki hati nurani? (Tidak.) Lalu, orang macam apa mereka? Mereka tidak memiliki hati nurani maupun nalar; kemanusiaan mereka hanya tersisa cangkang kosong. Kehidupan nyata dari kemanusiaan yang normal telah menjadi makin jauh dari mereka. Sangat sulit bagi mereka untuk berbaur ke dalam kehidupan nyata dan sangat sulit bagi mereka untuk menenangkan pikiran mereka dan melakukan hal-hal yang normal dalam kehidupan nyata. Dalam kehidupan mereka, hanya ada satu hal, yaitu mengidolakan bintang. Jadi, bukankah dunia rohani mereka telah dikendalikan oleh hal mengidolakan bintang? (Ya.) Di luarnya, orang semacam itu terlihat seperti manusia, tetapi pada esensinya, bukankah mereka sudah menjadi tidak lebih dari sekadar cangkang kosong? (Ya.) Orang macam apa mereka yang hanya tinggal cangkang kosong? (Mayat hidup.) Benar, mayat hidup. Apakah mereka memiliki iman? (Tidak.) Apakah mereka memiliki pengejaran yang positif? (Tidak.) Apakah mereka memahami apa itu hal positif dan apa itu hal negatif, apa yang adil dan apa yang jahat? (Tidak.) Bagaimana bisa terlihat bahwa mereka tidak memahaminya? Saat ini, para penyanyi terkenal di panggung mengenakan pakaian yang makin terbuka dan menggoda, serta melakukan gerakan-gerakan yang makin jahat. Para penonton yang mengidolakan bintang ini merasa makin antusias, puas, dan terbuai saat mereka menontonnya. Terutama, ketika seorang bintang pop terbawa suasana lalu melepas pakaian dan melemparkannya kepada penonton, orang-orang di kerumunan itu benar-benar menggila. Ada yang menjadi sangat histeris sehingga mereka mengalami henti jantung dan kemudian pingsan. Pemandangan mengidolakan bintang ternyata seintens ini! Terkadang bahkan terjadi insiden saling injak, dan beberapa orang terluka serta kehilangan nyawa mereka ketika upaya penyelamatan gagal. Semua ini adalah tragedi yang disebabkan oleh mengidolakan bintang. Terluka dan kehilangan nyawa akibat mengidolakan bintang; katakan kepada-Ku, bukankah nyawa semacam itu tidak berharga? Berhargakah itu? Dinilai dari emosi mereka, hal-hal yang mereka sukai, dan pemandangan yang membuat mereka cukup histeris hingga berteriak, apakah orang-orang ini tahu rasa malu? Apakah mereka tahu apa itu hal positif dan apa itu hal yang adil, dan apa itu hal yang jahat? (Tidak.) Mereka tidak tahu. Orang normal melihat pemandangan ini dan merasa jijik: "Bagaimana dunia bisa menjadi sejahat ini? Ini terlalu jahat!" Namun, orang-orang yang mengidolakan bintang ini melihat pemandangan ini dan merasa senang, bangga, puas, dan merasa cukup, percaya bahwa mereka sekarang tidak memiliki penyesalan dalam hidup ini, dan mereka berteriak serta bersorak untuk pemandangan ini. Ini memperlihatkan bahwa di lubuk jiwa mereka, mereka tidak tahu apa itu hal yang jahat, apa itu hal yang adil, apa itu hal positif, atau apa itu hal negatif. Ada penggemar wanita dari penyanyi atau aktor yang bahkan mengejar bintang pria favorit mereka ke kediamannya, siap untuk menyerahkan diri kepadanya. Ketika bintang itu menolak, mereka bahkan menjadi marah dan menyebut bintang itu pengecut. Apakah orang-orang semacam itu punya rasa malu? Apakah mereka memahami makna kata "rasa malu"? Apakah mereka memahami apa itu hal positif dan apa itu hal negatif? (Tidak.) Mereka bahkan tidak memahami kata "rasa malu". Ketika bintang itu menolak, mereka bahkan menghinanya. Apakah mereka bahkan manusia? Ini bukan berarti ada sesuatu yang hilang dalam kemanusiaan mereka, melainkan mereka sakit jiwa; mereka adalah roh-roh najis dan roh-roh jahat!
Di antara berbagai kelompok orang, selalu ada sebagian orang yang terobsesi untuk mengidolakan bintang. Orang-orang semacam itu, tepatnya, adalah mayat hidup, dan secara spesifik, mereka bukan manusia. Mereka menganggap bintang yang sering muncul di panggung dan di layar sebagai sesuatu untuk dikejar, dan bahkan menganggap melakukan hal itu sebagai karier yang sah. Mereka menyia-nyiakan hidup mereka dengan cara semacam ini. Harus dikatakan bahwa di seluruh masyarakat, orang-orang semacam ini adalah kelompok khusus, kurang lebih sama dengan mereka yang berada di lapisan bawah masyarakat yang tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan yang semestinya. Mereka semua adalah sampah masyarakat dan tidak berharga! Mereka tidak memiliki iman, tidak memiliki pengejaran yang positif, dan di dalam kemanusiaan mereka, mereka tidak memiliki kebutuhan yang positif, aspirasi yang positif, atau hal positif apa pun. Betapa pun jahat atau betapa pun gelapnya dunia seni, mereka tidak peduli atau tidak menganggapnya menjijikkan, dan mereka menerima serta menyetujuinya, dan terlebih lagi, mengikutinya dengan penuh semangat. Orang macam apa individu-individu ini? Dapat dikatakan bahwa mereka adalah sampah masyarakat. Dari perspektif alam roh, orang-orang semacam ini adalah roh-roh najis dan roh-roh jahat. Ketika roh-roh najis dan roh-roh jahat bereinkarnasi menjadi manusia, mereka juga harus makan dan bertindak seperti orang normal, tetapi mereka tidak melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang semestinya, atau tidak sedikit pun menerima kebenaran, dan hanya suka mencari orang-orang yang sejenis dengan mereka untuk mencari kesenangan, dan bermalas-malasan sambil menunggu kematian. Jika mereka tidak dapat berkecimpung di industri seni, mereka mengikuti orang-orang di dalamnya, dan mereka mengikuti segala macam tren jahat di dalamnya untuk memuaskan kebutuhan mereka. Oleh karena itu, apa pun keahlian orang-orang ini, hanya fakta bahwa mereka memiliki pengejaran semacam itu dan memilih jalan semacam itu serta cara hidup semacam itu di tengah masyarakat, sudah memperlihatkan bahwa mereka bukanlah orang baik atau orang yang dapat memperoleh keselamatan. Alasan Aku mengatakan bahwa orang-orang semacam itu tidak dapat memperoleh keselamatan justru karena di dalam kemanusiaan mereka terdapat suatu "kekosongan". "Kekosongan" ini harus diberi tanda kutip. Mengapa? Karena kemanusiaan mereka tidak memiliki hal-hal positif, tetapi memiliki segala sesuatu yang dimiliki oleh roh-roh najis dan roh-roh jahat: mengikuti kejahatan, memuja kejahatan, mengikuti kegelapan, dan memuja kegelapan. Mereka adalah pengikut di garis depan dari tren-tren jahat di seluruh masyarakat yang jahat ini, serta penyebar tren-tren ini. Setelah berbagai kekeliruan yang jahat dan berbagai pemikiran serta sudut pandang yang menyimpang dari dunia seni disebarkan kepada publik melalui komputer, TV, majalah, surat kabar, karya film dan televisi, serta bentuk-bentuk lainnya, hal-hal itu secara bertahap beredar di antara orang-orang, kemudian tersebar luas. Di antara orang-orang ini, justru para pengidola bintang inilah yang menjadi pelopor dalam menyebarkan pemikiran jahat atau tren-tren jahat dan cara melakukan berbagai hal yang ditemukan dalam berbagai karya film dan televisi serta karya seni. Mereka adalah barisan pertama penerus berbagai pemikiran jahat dan berbagai pemikiran serta sudut pandang yang menyimpang. Dari mulut ke mulut, melalui tindakan dan perwujudan nyata mereka, publik berangsur-angsur menyetujui dan menerima berbagai pemikiran jahat dan tren-tren jahat. Kemudian, mereka menjadi terkondisikan serta terpengaruh sepenuhnya oleh hal-hal itu sedikit demi sedikit. Pada akhirnya, ini menyebabkan tren-tren jahat, pemikiran jahat, serta pemikiran dan sudut pandang yang menyimpang berangsur-angsur mendapatkan kedudukan yang kuat serta terbentuk di bawah berbagai sistem sosial dan di antara berbagai kelompok orang. Menengok ke masa lalu, dalam hal pernikahan, ketika orang mencapai usia yang pantas untuk menikah, mereka diperkenalkan dan dijodohkan oleh seorang makcomblang. Pernikahan juga membutuhkan persetujuan dari kedua belah pihak orang tua, setelah itu tanggal ditetapkan, dan pasangan tersebut memasuki mahligai pernikahan. Dalam konteks sosial di masa lalu, sebagian besar orang menunjukkan rasa hormat dan kehati-hatian dalam hal pernikahan antara pria dan wanita. Mereka menganggap pernikahan sebagai peristiwa besar dan mampu memperlakukannya dengan keseriusan dan kesungguhan. Terutama mengenai anak-anak mereka, mereka mengharuskan anak-anak mereka untuk tidak berbuat cabul, tidak melakukan inses, dan tidak terlibat dalam hubungan seksual terlarang. Persyaratan ini harus dipatuhi. Setidaknya, sebagian besar orang memiliki konsep ini di dalam hati mereka. Dengan cara ini, di bawah kendali hati nurani kemanusiaan mereka, banyak orang menghindari perbuatan jahat berupa keterlibatan dalam hubungan seksual terlarang dan pergaulan bebas, yang hingga taraf tertentu, melindungi pria maupun wanita. Tentu saja, hal itu juga memiliki efek dan pengaruh positif tertentu pada iklim sosial. Namun, dengan perkembangan zaman dan munculnya berbagai karya seni, segala macam pemikiran dan sudut pandang yang menganjurkan kebebasan seksual, kebebasan pernikahan, dan sebagainya terus bermunculan. Di satu sisi, hal-hal itu dianjurkan oleh individu-individu tertentu; selain itu, masyarakat mempromosikan dan menyebarkannya secara luas selangkah lebih jauh melalui pertunjukan dan penampilan dalam berbagai bentuk seni. Pemikiran-pemikiran ini pertama-tama diakui dan diterima oleh sebagian pengidola bintang; artinya, audiens pertama untuk hal-hal itu adalah para pengidola bintang ini. Karena orang-orang ini mengidolakan bintang, mereka dengan cepat menerima dan menyetujui pemikiran-pemikiran yang dianjurkan oleh bintang di panggung, di layar, atau dalam bentuk seni tertentu. Setelah sangat menyetujuinya, mereka kemudian memengaruhi anak-anak mereka serta orang-orang di sekitar mereka dalam kehidupan sehari-hari. Dengan cara ini, satu orang meneruskan pemikiran-pemikiran ini kepada sepuluh orang, sepuluh orang meneruskannya kepada seratus orang, seratus orang meneruskannya kepada seribu orang, seribu orang meneruskannya kepada sepuluh ribu orang, menyebarkan pemikiran-pemikiran ini dari lingkup yang kecil ke lingkup yang jauh lebih luas. Selama satu atau dua tahun berikutnya, orang-orang menyuarakan ide-ide ini, dan lima atau sepuluh tahun kemudian, mereka masih menyuarakannya. Dua puluh atau tiga puluh tahun kemudian, pemikiran jahat semacam itu makin terbentuk di antara orang-orang, disebarkan makin luas ke setiap sudut masyarakat, dan menjadi tertanam secara makin mendalam di hati setiap orang. Kemudian pemikiran jahat dan tren-tren jahat ini berangsur-angsur disetujui oleh orang-orang dan berangsur-angsur diterima oleh publik, dan orang-orang menjadi makin menuruti keinginan sendiri, makin cabul, dan tidak terkendali mengenai pernikahan dan hal-hal di antara pria dan wanita. Orang-orang percaya bahwa ini berarti berpikiran terbuka dan memiliki wawasan yang luas, dan bahwa ini adalah tanda kemanusiaan yang dewasa, berbicara tentang hal-hal negatif seolah-olah itu adalah hal yang positif dan dapat dibenarkan. Pada titik ini, tren-tren jahat dari seluruh masyarakat telah mengalami lonjakan, memegang kendali, dan menjadi arus utama. Sebagian besar orang tidak lagi memiliki pemikiran dan sudut pandang yang benar mengenai pernikahan antara pria dan wanita dan hubungan pria-wanita; mereka merasa hal-hal ini bukanlah masalah besar. Terutama, homoseksualitas telah menjadi makin umum; terlebih lagi, perselingkuhan di luar pernikahan menjadi makin umum, dan dengan demikian angka perceraian menjadi makin meningkat. Lebih banyak anak juga kehilangan kasih sayang ayah dan ibu, hidup dalam rumah tangga dengan orang tua tunggal atau rumah tangga dengan ayah tiri atau ibu tiri. Banyak orang memiliki pasangan lawan jenis sebelum menikah dan tidak menganggap hal ini memalukan, dan bahkan berpikir bahwa itu normal, bahwa memang begitulah masyarakat, dan bahwa itu bukanlah masalah besar. Kapan pun, kejahatan selamanya adalah kejahatan, dan hal-hal positif selamanya adalah positif. Sekalipun engkau berpikir itu bukan masalah besar, itu karena tren jahat ini dan kemerosotan masyarakat ini; itu karena manusia dirusak oleh Iblis dan di dalam dirinya ditanamkan serta dipenuhi dengan pemikiran jahat dan tren-tren jahat. Ini bukan berarti bahwa hal positif dapat disebut sebagai hal negatif, atau bahwa hal-hal negatif saat ini dapat diubah menjadi hal-hal positif. Jika engkau berpikir seperti ini, itu karena engkau tidak memahami kebenaran atau apa itu hal positif. Itu karena engkau, dalam kondisi ini, dipaksa untuk menerima tren-tren jahat dan pemikiran jahat sebagai prinsip dan dasar dalam caramu berperilaku. Masyarakat ini dan umat manusia ini telah dirusak secara mendalam dengan cara seperti ini, sedikit demi sedikit. Oleh karena itu, dalam hal tren-tren jahat yang disebarkan secara luas dan ditanamkan secara mendalam di hati orang-orang, para pengidola bintang ini memainkan peran sebagai pelopor dalam menyebarkan tren-tren jahat serta pemikiran dan sudut pandang yang jahat. Mereka adalah penyebar langsung dari hal-hal ini. Jika kita mengatakan bahwa ini adalah Iblis yang sedang merusak manusia, ini agak samar atau abstrak. Namun, jika kita mengatakan bahwa para pengidola bintang inilah yang sebenarnya menganjurkan penyebaran pemikiran Iblis dan tren-tren jahat Iblis, ini adalah yang paling akurat. Ini karena mereka adalah kelompok orang yang paling dekat dengan dunia seni atau dengan berbagai pemikiran jahat dan tren-tren jahat, dan mereka adalah bagian dari orang-orang yang berhubungan dekat dengan bintang film dan penyanyi terkenal ini. Tanpa orang-orang ini mengejarnya, tanpa dukungan obsesif mereka, apa yang disebut penyanyi terkenal dan bintang film ini tidak akan memiliki daya pikat yang begitu besar, ketenaran yang begitu besar, pengaruh yang begitu besar, dan kekuatan yang begitu besar untuk menyesatkan. Justru karena sanjungan dan peniruan yang intens dari para pengidola bintang inilah berbagai tren jahat dan pemikiran jahat telah disebarkan di antara orang-orang dengan kecepatan yang luar biasa. Melalui tindakan nyata mereka, mereka memberi tahu publik bahwa berbagai hal jahat dan berbagai pemikiran serta sudut pandang yang menyimpang dan jahat yang muncul di dunia seni adalah hal-hal yang seharusnya diterima oleh orang-orang, bahwa hal-hal ini sangat normal dan sah. Pada akhirnya, sebagian besar orang berangsur-angsur menerima cara-cara jahat dalam melakukan berbagai hal serta pemikiran dan sudut pandang yang jahat ini. Akibatnya, perselingkuhan di luar pernikahan, pergaulan bebas, atau pemikiran, sudut pandang, dan cara melakukan sesuatu yang jahat dari apa yang disebut tokoh ternama, penyanyi terkenal, dan bintang film ini menjadi dianggap biasa, tanpa ada seorang pun yang mengungkapkan pendapat atau penilaian yang benar tentang hal-hal ini. Dengan demikian, betapa pun tidak bermoralnya tokoh ternama, penyanyi terkenal, dan bintang film ini, mereka tidak disingkirkan atau dikecam, tetapi terus memamerkan diri mereka di panggung. Ini sangat sesuai dengan pepatah populer di tengah masyarakat: "Ejeklah orang miskin, bukan pelacur." Ini adalah gambaran nyata dari kemerosotan umat manusia, dan ini juga adalah buktinya. Engkau lihat, ketika engkau percaya kepada Tuhan dan ditangkap serta dipenjarakan, orang-orang mengejek dan memandang rendah dirimu. Padahal, mereka juga tahu bahwa engkau tidak melakukan kesalahan apa pun. Percaya kepada Tuhan berarti memiliki iman, ingin menjadi orang baik, dan ingin masuk surga; wanita yang percaya kepada Tuhan tidak menjual tubuh mereka dan bekerja sebagai pelacur, dan pria yang percaya kepada Tuhan tidak melakukan perampokan melainkan berperilaku dengan cara yang taat aturan. Namun, orang-orang tidak suka melihatmu. Jika seorang wanita cantik yang menarik menjalin hubungan gelap dengan pejabat tinggi dan orang kaya, dan setiap hari pergi berkeliling dengan mobil mewah, orang lain iri dan mengaguminya, dengan berkata: "Kau benar-benar hebat, kau luar biasa. Kau mampu menghasilkan uang untuk orang tuamu sehingga mereka dapat makan makanan enak dan mengenakan pakaian bagus. Penampilanmu sungguh berharga!" Namun, jika engkau memiliki penampilan yang bagus dan menikah dengan seseorang yang percaya kepada Tuhan, mereka akan menertawakanmu. Mereka tidak hanya akan menertawakanmu, tetapi ketika mereka melihatmu dianiaya, mereka juga akan menindasmu. Bukankah begitu? (Ya.)
Tak satu pun dari hal-hal yang dilakukan oleh kelompok ini—para pengidola bintang—memiliki makna apa pun. Sebaliknya, tindakan-tindakan ini telah mendorong penyebaran pemikiran jahat dan tren-tren jahat Iblis. Lihatlah para pengidola bintang masa kini; ada wanita-wanita yang naik ke panggung dan dengan mudahnya bernyanyi dan menari, dan ketika mereka melihat seorang penyanyi terkenal, mereka memujanya tanpa henti. Ini sangat berbeda dengan para wanita di era 40-an dan 50-an. Dalam perkataan orang tidak percaya, mereka telah menjadi terbuka; terbuka dalam pemikiran, dan terbuka dalam seksualitas, mereka menjadi bebas dalam kedua area ini. Ada orang-orang yang berkata: "Zaman apa ini? Siapa yang menghabiskan sepanjang hidup mereka hanya dengan satu suami? Siapa yang selalu memusatkan hidup mereka pada anak-anak mereka? Kau harus mencari orang baru saat kau bisa, dan bersenang-senanglah saat kau mendapat kesempatan!" Lihat saja pemikiran macam apa yang dimiliki orang-orang ini. Betapa mengerikannya pemikiran itu! Jika orang yang percaya kepada Tuhan juga berpikir seperti ini, apakah itu pertanda baik? Jika orang percaya memiliki pemikiran dan sudut pandang ini, iri dan memuja orang-orang semacam itu, dan ingin menjadi orang semacam itu, bukankah itu sangat mengerikan dan sangat berbahaya bagi mereka? (Ya.) Untuk saat ini, kita tidak membahas seberapa mengerikan atau berbahayanya hal itu. Dilihat dari esensi orang-orang ini saja, di lubuk jiwanya, mereka sangat iri, mengagumi, dan mencintai para bintang ini. Mereka dapat menerima segala macam perilaku dan segala macam pemikiran serta sudut pandang dari para bintang. Betapa pun jahatnya pemikiran itu, mereka dapat menerimanya. Mereka percaya, "Beginilah seharusnya cara orang berperilaku; memang seperti inilah bebas. Semua pemikiran dan sudut pandang harus dibiarkan ada. Bagaimanapun juga, dunia memang terdiri dari berbagai macam orang." Dalam pemikiran mereka, tidak ada perbedaan antara yang positif dan yang negatif, tidak ada perbedaan antara yang benar dan yang salah. Bukankah ini tidak normal secara mental? Jika karena kualitas yang rendah, seseorang tidak memiliki kemampuan untuk membedakan yang benar dan yang salah, tetapi dia masih memiliki rasa malu, dan mampu menaati sesuatu jika dia tahu bahwa itu benar, dan sama sekali tidak akan melakukan sesuatu jika dia tahu bahwa itu salah, dan di dalam hatinya, mampu membenci sesuatu jika dia tahu bahwa itu jahat, maka dia masih merupakan orang yang normal. Namun, jika dia tahu dengan jelas bahwa sesuatu itu tidak benar, bahwa itu jahat, tetapi mereka bukan saja tidak menentangnya, melainkan juga dapat menerimanya tanpa ragu-ragu, dan bahkan iri serta mengikutinya, tenggelam makin dalam, maka dia bukanlah manusia melainkan mayat hidup. Dia sudah hancur dan tidak dapat memperoleh keselamatan. Oleh karena itu, tidak bisa dikatakan bahwa orang-orang semacam ini memiliki kemanusiaan yang buruk, integritas yang rendah, karakter yang hina, atau tidak memiliki hati nurani dan nalar; bukan itu masalahnya. Masalah terbesarnya adalah mereka sama sekali tidak memiliki kemanusiaan. Lalu, siapakah orang-orang ini? Roh-roh najis, roh-roh jahat, dan mayat hidup. Mereka adalah penganjur, penerus, dan penyebar berbagai tren jahat dan berbagai pemikiran serta sudut pandang yang jahat dan menyimpang. Ini sama seperti wabah; satu orang yang membawa virus menyebarkannya ke setiap tempat yang dia datangi, dan makin banyak tempat yang dia datangi, makin luas virus itu menyebar. Para pengidola bintang ini sama dengan pembawa dan penyebar virus, jadi mereka sama sekali bukan bagian dari umat manusia; mereka bukan manusia. Apa definisi dari apa yang disebut bukan manusia? Definisinya adalah bahwa orang-orang ini merupakan penganjur dan penyebar tren-tren jahat serta pemikiran dan sudut pandang yang jahat. Apakah engkau semua mengerti sekarang? Jika di dalam hatimu engkau masih iri kepada para bintang ini atau pernah ingin menjadi orang semacam ini, Kukatakan kepadamu, ini adalah jalan yang darinya engkau tidak bisa berbalik. Jangan pernah mencoba menjadi orang semacam ini! Jika engkau pernah memainkan peran dalam sebuah karya film atau televisi, jika engkau pernah ingin menjadi bintang film atau tokoh terkenal dan berencana untuk menempuh jalan ini, Kukatakan kepadamu: segera injak rem dan berhentilah. Ini bukan soal dihukum atau diberi upah. Ini adalah jalan yang mengarah pada kebinasaan kekal. Jangan pernah menempuhnya! Jika engkau ingin mengikuti orang semacam ini karena engkau untuk sementara waktu disesatkan atau lemah, atau karena untuk sementara waktu merasa iri dan mendambakan hal itu, maka dengarkanlah peringatan-Ku, dengarkanlah nasihat-Ku: segera injak rem. Jangan pernah melangkah ke industri itu, jangan pernah melangkah ke dalam barisan itu; jangan pernah menjadi salah satu dari mereka. Jika engkau tidak mampu bersikeras menempuh jalan yang benar atau melakukan hal-hal yang bermakna, engkau tetap tidak boleh menjadi penyebar tren-tren jahat serta pemikiran dan sudut pandang yang jahat. Itu adalah jalan yang dikutuk oleh Tuhan. Jadi, apa pun peran yang pernah kaumainkan dalam sebuah karya film atau televisi, entah engkau menganggap dirimu sebagai tokoh penting, tokoh terkenal, atau tokoh tingkat tinggi—seperti apa pun engkau memosisikan dirimu—semua itu telah menjadi masa lalu, itu semua salah. Jika engkau sekarang sudah menginjak rem, maka hanya bisa dikatakan bahwa pada saat itu, tingkat pertumbuhanmu masih belum dewasa dan engkau tidak memahami kebenaran. Jangan pernah berpikir seperti itu di masa depan, dan jangan pernah menempuh jalan itu juga. Jika engkau ingin menjadi tokoh penting atau tokoh terkenal, jika engkau ingin dipuja dan diikuti oleh orang lain, maka segera pikirkan firman yang telah Kuucapkan hari ini. Bagi siapa pun, kebinasaan kekal adalah berita malang; itu adalah berita terburuk. Itu adalah jalan yang dikutuk oleh Tuhan. Jangan pernah menempuh jalan ini, jangan pernah dicemari oleh kenajisan ini. Menempuh jalan ini berarti kebinasaan kekal! Engkau harus berperilaku dengan cara yang taat aturan karena engkau adalah makhluk ciptaan, salah seorang dari umat manusia ciptaan. Apa pun peran yang pernah kaupegang, apa pun pekerjaan yang telah kaulakukan, atau kontribusi apa pun yang telah kauberikan di rumah Tuhan, pada akhirnya, engkau harus menentukan tempatmu yang semestinya. Tempat apa? Engkau adalah makhluk ciptaan, salah seorang dari umat manusia ciptaan. Engkau harus melaksanakan tugas makhluk ciptaan dengan baik. Pelaksanaan tugasmu harus memenuhi standar, itu harus dilaksanakan untuk memuaskan hati Tuhan. Engkau harus bersaksi bagi Tuhan, menyebarluaskan firman Tuhan, menjadi saksi bagi Tuhan, dan memperoleh keselamatan. Ini adalah tanggung jawab dan kewajiban seumur hidup yang wajib kaupenuhi, serta jalan yang seharusnya kaupilih. Engkau tidak seharusnya mengikuti tren-tren jahat Iblis dan menjadi penyebar serta penerus pemikiran dan sudut pandang yang jahat. Orang-orang itu adalah orang-orang bobrok di antara umat manusia, mereka adalah roh-roh jahat dan roh-roh najis. Mereka dikutuk dan dipastikan menerima kebinasaan kekal! Jika orang menempuh jalan itu dan bahkan sepuluh kuda liar pun tidak dapat menarik mereka kembali, maka mereka akan mendapatkan ganjaran yang setimpal; mereka tidak akan berakhir dengan baik. Oleh karena itu, setiap saat, engkau harus tahu bahwa engkau adalah manusia ciptaan, engkau harus tahu di mana tempatmu, apa yang seharusnya kaulakukan, dan jalan seperti apa yang seharusnya kautempuh. Ini adalah hal yang paling penting. Apakah perlu untuk mempersekutukan hal-hal ini? (Ya.) Topik-topik yang berkaitan dengan jalan hidup orang sangatlah penting. Dari waktu ke waktu, engkau seharusnya mendengarkannya dan merenungkannya. Melakukan hal itu bermanfaat dan membantu bagi jalan masuk kehidupanmu dan bagi engkau semua dalam menempuh jalan yang benar dalam hidup; ada dampak yang baik, positif, dan membangun mengenai hal-hal ini. Jangan lupakan firman ini.
Sekian persekutuan hari ini. Sampai jumpa!
30 Desember 2023